Setelah menempuh perjalanan dengan FlixBus, tibalah aku di Belgia. Sebagai informasi, FlixBus adalah salah satu pilihan transportasi yang cukup populer di Eropa. Bus antarkota berwarna hijau ini menawarkan jaringan perjalanan yang luas dengan ribuan tujuan di lebih dari 40 negara. Tiketnya dapat dibeli melalui situs atau aplikasi, lalu penumpang cukup menunjukkan kode QR ketika naik. Bisnya nyaman deh pokoknya.
Dibandingkan kereta, harga FlixBus lebih terjangkau, terutama jika tiket dipesan lebih awal.. Bagi pelancong yang ingin menghemat biaya perjalanan, FlixBus bisa menjadi pilihan yang praktis meskipun sedikit lebih lama tentunya.
Selama di Belgia, aku menginap di rumah seorang teman di Mons, sebuah kota kecil di wilayah Wallonia (kawasan berbahasa Prancis). Mons kota kecil dan super tenang. Ritme kehidupan di kota ini seolah mengajarkan kita untuk tidak melulu tergesa-gesa. Slow living, begitulah!





Temanku, sebut saja si N, mengajak ke pasar lokal begitu kami tiba. Pasar tradisional ini buka pada hari-hari tertentu saja. Pasar itu tidak terlalu besar, tetapi lengkap, segala kebutuhan ada!
Di sanalah aku dibuat “kalap” ketika melihat deretan buah-buahan segar memenuhi hampir setiap sudut. Berbagai jenis berries, plum, peach, cherry, aprikot, hingga buah-buah musiman lain yang di Indonesia biasanya hanya bisa ditemukan di supermarket besar, tersusun rapi dengan harga yang sangat terjangkau. Hmmm!!
Mungkin bagi warga Belgia itu pemandangan biasa. Tetapi mataku membelalak ketika melihat begitu banyak buah segar dijual di pasar tradisional. Seandainya, oh..seandainya, di Jakarta juga melimpah buah-buahan seperti ini!
Aku tinggal di rumah temanku sekitar lima hari. Beberapa hari sebelum berangkat ke Eropa, aku sempat menjenguk Bapak si N ini di Indonesia. Kondisinya saat itu sudah sangat kritis. Aku sih sudah bilang kalau seandainya dia terpikir untuk pulang, aku bisa membatalkan rencana tinggal di rumah dia. Dia bilang tidak. Ok, lah. Aku hanya tak mau misalnya dia ingin sekali pulang tapi tidak jadi karena ada aku menginap.
Di hari ke-2 aku di rumahnya, kabar duka itu datang.Bapak si N meninggal dunia. Rest in Peace!
Karena tinggal di tempat yang ribuan kilometer jauhnya, tentu ia tidak dapat langsung pulang. Semua prosesi pemakaman hanya bisa ia ikuti melalui Zoom dan video call. Ia bilang bahwa sebenarnya ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Namun tetap saja, semua itu tidak mengurangi rasa kehilangan.
Aku sangat sedih tetapi tak berdaya melihat si N mengikuti semua itu dari layar komputernya bersama anak semata wayangnya. Entah, apa yang aku lakukan seandainya hal itu terjadi padaku. Si N luar biasa tabah!
Di sela-sela suasana duka itu, aku memutuskan bepergian sendiri mengunjungi dua kota yang direkomendasikan banyak orang: Bruges dan Ghent, dan Dinant.
Bruges.
Dari Mons aku naik kereta kurang lebih dua jam dengan transit di Bruxel Midi.
Kota ini seperti kota yang terpampang di halaman buku dongeng. Kanal-kanalnya yang tenang dengan hiasan tanaman bunga warna-warni, bangunan-bangunan tua yang terawat, jalanan berbatu, dan alun-alun yang dipenuhi bangunan bersejarah membuatku beberapa kali berhenti untuk memandangnya.
Bruges seperti kota yang berhenti di suatu masa dalam sejarah peradaban. Konon pada Abad Pertengahan, kota ini merupakan salah satu pusat perdagangan terpenting di Eropa. Kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru datang melalui jaringan kanal yang menghubungkan Bruges dengan laut di sebelah utara, membawa kain, rempah-rempah, dan berbagai komoditas berharga lainnya. Kekayaan pada masa itu meninggalkan warisan berupa gedung-gedung megah bergaya Gotik, alun-alun yang luas, gereja-gereja tua, serta kanal-kanal yang menjadi ciri khas kota.
Kota ini sering dijuluki “Venice of the North” karena kanal-kanalnya yang membelah pusat kota. Sejak tahun 2000, pusat bersejarah Bruges juga telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.



Gent
Dari Bruges ke Gent hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit. Gent lebih hidup, dipenuhi mahasiswa, pesepeda, dan kafe-kafe yang ramai. Perpaduan antara sejarah dan kehidupan modern membuat kota ini terasa berbeda.
Aku berjalan menyusuri pusat kota kemudian beristirahat di sebuah kafe. Tentu saja, aku tak mau melewatkan kesempatan untuk mencicipi dua ikon kuliner Belgia: Belgian waffle dan Belgian fries (jangan pernah bilang French Fries!) Waffle aku santap hangat-hangat, renyah dan bagian dalamnya lembuuutt, sampai aku tak peduli dengan orang-orang yang lalu lalang. Sementara itu, Belgian fries yang disajikan dalam porsi melimpah juga maknyuuusss! Sederhana tetapi begitu melegenda. Ternyata, kentang goreng Belgia memang memiliki cita rasa yang berbeda—renyah di luar, lembut di dalam, dan orang Belgia begitu bangga dan menyebut makanan ini adalah penemuan mereka! Percaya saja deh! Buat aku yang penting kan makanannya….!
Setelah kenyang dan juga karena waktu mendekati sore, di mana jam lima sore aku sudah harus berada di Mons lagi karena ada janji bertemu dengan satu teman lain (teman si N juga) yang tinggal di Kortrijk (wilayah Flanders-Berbahasa Belanda). Dari tempat kerjanya dia menyetir mobil sekitar satu jam ke Mons untuk kami bisa bertemu. Bahagianya!


Dinant
Aku pikir waktunya masih cukup untuk singgah sejenak di Dinant, sebuah kota kecil yang terletak di tepi Sungai Meuse. Banyak orang menyebut bahwa Dinant adalah salah satu kota tercantik di Wallonia. Deretan rumah berwarna-warni berjajar di sepanjang sungai, sementara tebing batu kapur yang menjulang menjadi latar yang begitu dramatis. Di atas tebing itu berdiri Citadel of Dinant, benteng yang telah mengawasi kota ini selama berabad-abad.
Salah satu bangunan yang paling menarik adalah Gereja Notre-Dame de Dinant dengan menara berbentuk bawang yang menjadi ikon kota. Gereja itu menjulang di kaki tebing, berpadu dengan pantulan bangunan di permukaan Sungai Meuse. Tiada henti aku berdecak kagum.
Dinant juga dikenal sebagai kota kelahiran Adolphe Sax, penemu alat musik saksofon. Di sepanjang Jembatan Charles de Gaulle, terdapat patung-patung saksofon berwarna-warni yang menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat.


Pukul lima sore lewat sedikit, aku tiba kembali ke Mons. Temanku, si V dan N sudah menunggu di sebuah kafe di depan stasiun Mons. Oh, ya, stasiun Mons ini bentuknya unik mirip UFO. Kami pun makan “early dinner” dan saling bertukar cerita tentang masa-masa kebersamaan kami ketika di Jakarta. Seru!

Akhirnya hari terakhir di Belgia pun tiba. Esoknya, si N ternyata sudah membeli tiket pulang ke Jakarta untuk mengikuti prosesi “larung” jenazah almarhum Bapaknya. Jadi, di hari yang sama, N terbang ke Jakarta, sementara aku meneruskan perjalanan ke Antwerpen untuk bertemu kembali dengan si T yang sedang mengunjungi adiknya yang tinggal di kota itu.
Aku hanya menginap semalam saja di Antwerpen, kota pelabuhan terbesar di negara ini. Suasana kotanya memang lebih modern dibandingkan kota-kota lain yang sudah aku kunjungi, tetapi tetap mempertahankan pesona bangunan-bangunan bersejarahnya. Antwerpen juga dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan berlian dunia. Selain penduduk lokal, Antwerpen menjadi rumah bagi berbagai komunitas dari seluruh dunia, termasuk komunitas Muslim dan komunitas Yahudi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan kota ini. Keberagaman itu terlihat dari aneka restoran dan toko, hingga berbagai bahasa yang terdengar di sekitarku. Kesan itu sudah terasa sejak aku tiba di Antwerpen-Centraal, stasiun kereta yang sering disebut sebagai salah satu stasiun terindah di dunia. Kubah besarnya, langit-langit yang tinggi, serta perpaduan arsitektur batu dan kaca membuat bangunan ini lebih menyerupai istana daripada sebuah stasiun. Megah luar biasa!

Mungkin tempat-tempat yang aku kunjungi belum seberapa dibandingkan dengan seluruh wilayah Belgia. Namun, perjalanan singkat itu sudah cukup membuatku berkata bahwa Belgia adalah negara kecil yang indah—tenang, kaya sejarah di mana keberagaman hidup berdampingan dengan damai.
