Pentingnya Pembelajaran Sosial dan Emosional di Sekolah

Hari ini, di sekolah tempatku mengajar, ada meeting rutin untuk seluruh guru. Seperti biasa, acara dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah. Namun, ada satu pernyataan yang membuat guru-guru, atau mungkin aku saja kali ya:) sedikit terkejut: menurut beliau, negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia saat ini bukan lagi Finlandia, melainkan Slovenia.

Slovenia? Mendengar itu, aku seakan terdongak, merasa seperti mendengar sesuatu yang tak lazim. Bukankah selama ini Finlandia yang selalu disebut sebagai rujukan pendidikan terbaik dunia? Mengapa justru Slovenia, sebuah negara kecil bekas bagian dari Yugoslavia yang terletak di Eropa Tengah?

Aku pun penasaran. Sepulang meeting, aku segera membuka Google dan memasukkan kata kunci: negara mana yang masuk dalam kategori pendidikan terbaik di dunia. Banyak hasil yang muncul, tetapi yang menarik adalah bahwa Slovenia memang sering disebut sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan yang sangat baik dalam aspek tertentu, terutama bila dilihat dari perspektif SEL (Social Emotional Learning)—pembelajaran sosial dan emosional.

Berbeda dengan penilaian ranking global seperti PISA yang lebih menekankan skor akademik, pendekatan sekolah di Slovenia ternyata lebih menonjol dalam hal kesejahteraan siswa, pembangunan hubungan positif, dan pengembangan kecakapan sosial-emosional. 

Ternyata, banyak daftar peringkat di kurun waktu tahun 2025–2026 menunjukkan variasi, dan itu tergantung pada metodologi (misalnya. PISA, indeks pendidikan global atau kualitas universitas).

Menurut Detik.com , 10 Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik 2025 Versi World Population Review adalah: 

1. Korea Selatan

2.Denmark

3. Belanda

4. Belgia

5. Slovenia

6. Jepang

7. Jerman

8. Finlandia

9. Norwegia

10. Irlandia

Sumber: Baca artikel detikedu, “10 Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik 2025 Versi World Population Review” selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7841602/10-negara-dengan-sistem-pendidikan-terbaik-2025-versi-world-population-review.

Slovenia berada di posisi ke-5, memang sih berada di atas Findlandia. 

Sementara kalau dengan metode PISA (Programme for International Student Assessment), negara dengan skor tertinggi pada PISA 2022 adalah: 

  1. Singapura – menempati peringkat 1 tertinggi secara global dalam matematika, membaca, dan sains.
  2. Macao 
  3. Taiwan
  4. Jepang 
  5. Korea Selatan 

Ternyata, Slovenia sering disebut sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik bukan karena menempati peringkat teratas dalam skor akademik global, tetapi karena pendekatannya yang menempatkan kesejahteraan dan perkembangan sosial-emosional peserta didik sebagai fondasi pembelajaran. Sistem pendidikan Slovenia menekankan pentingnya hubungan yang sehat antara guru dan murid, serta lingkungan belajar yang aman dan inklusif, serta nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip Social Emotional Learning (SEL).

Apa sih SEL (Social Emotional Learning)?

SEL adalah proses pembelajaran yang membantu peserta didik memahami dan mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, membuat keputusan yang bertanggung jawab, dan berempati terhadap orang lain.

Untuk efektifnya, SEL ini tidak berdiri sebagai mata pelajaran terpisah, tetapi diintegrasikan ke dalam keseharian pembelajaran dan budaya di suatu sekolah.

SEL sendiri terdiri dari lima kompetensi (seperti pada gambar):

  1.  Self-Awareness (Kesadaran Diri)
    Mengajarkan bagaimana siswa mengenali emosi, kekuatan dirinya, keterbatasan, dan nilai dirinya. 

Contoh: siswa bisa mengatakan “Saya merasa cemas saat presentasi.” ketika dia akan maju ke depan kelas. 

  1. Self-Management (Pengelolaan Diri)
    Mengajarkan bagaimana siswa mengatur emosi, stres, dan perilakunya

  Contoh: menarik napas, menenangkan diri sebelum ujian

  1. Social Awareness (Kesadaran Sosial)
    Berempati kepada teman dan menghargai perbedaan

   Contoh: memahami sudut pandang teman dari latar belakang berbeda

  1. Relationship Skills (Keterampilan Relasi)
    Bagaimana siswa berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik

Contoh: berdiskusi tanpa menyela pembicaraan, menyelesaikan konflik  dengan kata-kata bukan dengan perkelahian atau emosi yang meledak-ledak. 

  1. Responsible Decision-Making (Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab)
    Bagaimana siswa bisa memilih tindakan yang aman, etis, dan berdampak positif

Contoh: berpikir sebelum bertindak atau sebelum memposting sesuatu di media sosial

Mengapa SEL penting di sekolah? 

SEL itu  pendekatan pendidikan yang menekankan pentingnya pengembangan kompetensi sosial dan emosional peserta didik. Kita pasti sepakat bahwa emosi sangat besar perannya dalam belajar dan adalah  fondasi pembelajaran akademik. Melalui SEL, sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan (kognitif), tetapi juga membantu siswa menjadi manusia yang sadar diri, empatik, dan bertanggung jawab (afektif).

Pencapaian sistem pendidikan di Slovenia ini tentu saja membuat aku menengok kondisi sistem pendidikan di negara tercinta, Indonesia. Aku tak tertarik dengan pertanyaan peringkat berapa ya posisi negara kita dalam sistem pendidikan di dunia? Sudahlah, itu kita kesampingkan dulu. 

Tetapi aku lebih tertarik untuk bertanya:  nilai apa ya yang bisa kita tumbuhkan melalui pendidikan?

Di tengah tantangan akademik dan ketimpangan akses, pencapaian negara seperti Slovenia mengingatkan bahwa ternyata  pendidikan yang baik tidak hanya diukur dari skor ujian, tetapi dari seberapa aman, seberapa didengar, dan seberapa dihargainya peserta didik di ruang kelas. 

Untuk Indonesia, dengan keragaman budaya dan latar belakang siswanya, pendekatan yang menempatkan pembelajaran sosial dan emosional sebagai fondasi justru terasa semakin relevan, bukan? Karena tujuan utama pendidikan yang  membangun manusia seutuhnya bukanlah sekadar mengejar peringkat atau bila lulus berlomba menjadi pejabat.

Mungkin di Indonesia SEL ini telah diterapkan di Kurikulum Merdeka melalui program Profil Pelajar Pancasila: yaitu beriman dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, gotong royong, berkebinekaan global, serta kreatif.

Namun, tantangan di Indonesia menurut pemahamanku yang awam adalah pada konsistensi dalam menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam praktik kelas sehari-hari: membangun relasi yang aman, memberi ruang bagi suara murid, dan menempatkan kesejahteraan sebagai fondasi belajar. 

Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk memperbaiki sistem pendidikan di negara kita. Sayangnya, perhatian pemerintah saat ini tampak lebih banyak tercurah pada program MBG—yang notabene bukan unsur primer dalam menentukan kualitas dan kemajuan pendidikan—ketimbang pada upaya pembenahan sistem pendidikan itu sendiri, mulai dari penguatan peran guru, kualitas pembelajaran di kelas, hingga kesejahteraan peserta didik. Begitu kira-kira.