Kota-kota kecil dengan banyak cerita – Jerman (Bagian 3)

Di tulisan sebelumnya (Bagian 2), aku bercerita bahwa setelah menghabiskan lima malam di rumah temanku di Mons, aku melanjutkan perjalanan ke Antwerpen untuk menjemput si T yang sedang mengunjungi adiknya. Dari sana, kami akan melanjutkan perjalanan bersama menuju tempat tinggal temanku yang lain di Göttingen.

Yeaaah… bagiku, bepergian ke tempat-tempat baru selalu terasa lebih menyenangkan jika bisa bertemu dengan seseorang yang sudah  aku kenal. Apalagi jika ia telah lama tinggal di tempat yang masih asing bagiku atau baru pertama kali aku kunjungi. Selalu ada cerita, pengalaman, dan sudut pandang yang mungkin tak akan kutemukan di buku panduan wisata. Bisa mendengarnya langsung dari orang yang menjalani kehidupan di sana. Seru kan?!

Sebenarnya Gottingen lumayan jauh. Göttingen adalah kota universitas di negara bagian Niedersachsen, letaknya di bagian tengah Jerman. Jaraknya sekitar 430 kilometer dari Antwerpen, dengan waktu tempuh kereta kurang lebih enam jam, (tergantung rute dan waktu transit). 

Awalnya aku berencana singgah di Aachen. Selain dikenal sebagai kota bersejarah di perbatasan Jerman, Belgia, dan Belanda, kota Aachen juga memiliki tempat istimewa di hati orang Indonesia karena di kota inilah B.J. Habibie menempuh pendidikan di RWTH Aachen University dan menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun karirnya sebagai insinyur. 

Sayangnya, karena keterbatasan waktu, urung deh! Sebagai gantinya, aku memilih singgah beberapa jenak di Köln. 

Köln (Cologne).

Sebagai informasi untuk nama kota ini;  Köln (Bahasa Belanda), Cologne (Bahasa Inggris). Kota ini adalah salah satu kota tertua di Jerman yang terletak di tepi Sungai Rhein. 

Jadi tiket kereta aku pecah menjadi dua tujuan; AntwerpenKöln, kemudian Köln-Göttingen. 

Dari tiket yang aku unggah itu, rute yang aku tempuh adalah:

Pertama; Antwerpen-Centraal → Bruxelles-Nord (Brussel Utara) dengan kereta IC 3126 (InterCity Belgia) – Berangkat pukul 05.05 dari Antwerpen. Kami tiba pukul 05.51 di Bruxelles-Nord (Brussel).

Kemudian, Bruxelles-Nord → Köln Hbf dengan ICE 11 (Intercity-Express Deutsche Bahn). Berangkat pukul 06.31. Waktu transit 40 menitan. 

Pukul 08.16 kami tiba di Köln Hauptbahnhof (Stasiun Pusat Köln). Di tiket juga terlihat rute ICE ini melewati Liège-Guillemins (wilayah Belgia) dan Aachen Süd (wilayah Aachen-Jerman)

Apa beda kereta IC dan ICE? IC (Inter City) adalah kereta antar kota reguler. Kecepatannya sekitar 160-200 km/jam. Aku memilih kelas dua (2nd class). Meskipun tidak ada nomor tiket alias tidak wajib reservasi, tetapi kemungkinan besar selalu ada tempat duduk yang nyaman. 

Sedangkan ICE (Intercity-Express) adalah milik Deutsche Bahn, kereta cepat yang menghubungkan kota-kota besar di Jerman dan negara-negara tetangganya. Kecepatannya bisa mencapai 300 km/jam. Untuk kereta ini sangat dianjurkan reservasi tempat duduk terutama di musim liburan. Gerbong kelas dua yang kami naiki bersih dan nyaman, dengan kursi yang lega, meja lipat kecil, colokan listrik, serta jendela-jendela besar yang membuat kami bisa menikmati pemandangan ladang, desa-desa kecil, dan kota-kota yang berlalu lalang di luar jendela, termasuk melihat Aachen. 

Köln. 

Begitu turun dari kereta, aku langsung mencari tempat penitipan koper di stasiun karena nggak mungkin lah geret-geret koper besar untuk jalan-jalan ke kota. Tempat penitipan kopernya sangat canggih, cukup tekan tombol-tombol untuk mengikuti instruksi, koper masuk sendiri ke dalam ruang penyimpanan, dan struk pun keluar setelah melakukan pembayaran di mesin. Berapa? Dua ratus ribu-an untuk durasi di atas satu jam. 

Baiklah! Koper sudah aman di penitipan. Kami pun berjalan menuju Katedral Köln yang begitu megah. Letak bangunan ini persis di depan stasiun. Bangunan bergaya Gotik itu menjulang tinggi seakan menyambut setiap orang yang baru tiba di kota ini. Sungguh mengagumkan melihat katedral yang pembangunannya berlangsung selama berabad-abad itu masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu ikon Jerman. 

Setelah puas mengagumi Katedral Köln, kami berjalan menuju Jembatan Hohenzollern yang membentang di atas Sungai Rhein, salah satu sungai terpenting di Eropa. Sungai ini berhulu di Pegunungan Alpen, mengalir melintasi beberapa negara seperti Swiss, Liechtenstein, Austria, Jerman, Prancis, dan juga Belanda. 

Dari atas jembatan, aliran Sungai Rhein tampak tenang di bawah sinar matahari yang mulai terik sekali. Beberapa kapal nampak melintas, kereta juga datang silih berganti melintasi rel di sisi jembatan. Dan di kejauhan, menara-menara Katedral Köln menjulang anggun. Pada masa Perang Dunia II, tahun 1945, jembatan ini diledakkan oleh tentara Jerman sendiri untuk menghambat laju pasukan Sekutu. Setelah perang usai, jembatan dibangun kembali dan menjadi salah satu jalur kereta api tersibuk di Jerman sekaligus tempat favorit wisatawan menikmati pemandangan Sungai Rhein dan Katedral Köln.

Hal lain yang paling menarik adalah ribuan gembok cinta yang membebani pagar jembatan. Konon, setelah mengunci gembok, kuncinya dilempar ke Sungai Rhein sebagai simbol bahwa cinta mereka tak akan terpisahkan lagi. Uhuuuyyy!!!

Cuaca sangat panas di hari itu (38 derajat), jadi kami memutuskan untuk makan siang lebih awal, untuk ngadem. 

Sebagai catatan, karena aku muslim, prioritas utama; untuk makanan adalah makanan halal dan mencari tempat makan yang memungkinkan untuk sholat. Jadi terpilihlah sebuah rumah makan Istambul yang tak jauh dari stasiun. 

Okay. Saatnya melanjutkan perjalanan ke Göttingen. Dari Köln hanya sekitar dua jam dengan kereta cepat ICE

Göttingen.

Akhirnya. Sore sekitar pukul empat, kami tiba di Göttingen. Kota ini dikenal sebagai rumah bagi Georg-August-Universität Göttingen, salah satu universitas ternama di Jerman yang telah melahirkan banyak ilmuwan dan peraih Nobel. Göttingen adalah kota akademik, kotanya banyak peraih nobel. 

Temanku si R yang sebelumnya sudah menemui kami di Prancis  itu sudah menjemput di stasiun. Berpelukan! Kami menggunakan bus menuju apartemennya. Si R, temanku yang kocak ini menikah dengan bule Jerman. Dia adalah perawat dan suaminya juga. R sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Göttingen. Matanya membelalak begitu dia melihat oleh-oleh jengkol, pete, dan bumbu-bumbu nusantara lain yang aku bawa! Kebayang, betapa kangennya meskipun sebenarnya si R ini juga hampir setiap tahun pulang ke Indonesia. Tapi tetep saja, yang namanya makanan Indonesia, tiada bandingnya! Mana ada jengkol dan pete di Jerman. Makanan ini kategorinya adalah stink beanha..ha! Jadi jengkol dan petenya yang bau, bukan pipisnya

Göttingen. Jauh dari hiruk pikuk kota besar, suasana di sekitarnya begitu damai. Di samping apartemen si R ada wood, semacam hutan kota. 

Esok harinya, R dan suaminya mengajak kami melewati  hutan itu untuk berjalan menuju  kebun mereka. Seru sekali! Into the wood!

Kami membawa bekal makanan, piknik ceritanya. Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, tibalah kami di sebuah kebun yang indah!

Berbagai tanaman buah, bunga-bunga musim panas yang sedang bermekaran, serta hamparan hijau dan pohon-pohon apel berjajar. Warna-warna yang membuat cuaca panas terasa sejuk. Di tengah kebun ada sebuah pondok kayu tempat suami R menyimpan segala peralatan berkebunnya. Di sana ada meja makan lengkap dengan kursi makan dan juga kursi malas (baca kursi selonjoran). Kamipun menyantap couscous, makanan yang populer di banyak negara Eropa dan  kami siapkan bersama di dapur R yang super rapi. Makan di kebun pula. Maknyusss!!!

Hingga tanpa sadar malam mulai turun meskipun masih terang benderang. Baru sekitar pukul sepuluh malam, suasana seperti waktu maghrib gitu, bulan purnama mulai tampak jelas menggantung di langit. Mulai deh tuh, cahayanya perlahan menggantikan semburat senja yang perlahan menghilang.

Hari kedua, R mengajak kami ke pasar tradisional. Seperti pasar tradisional yang aku ceritakan di Mons-Belgia (Bagian 2), di pasar ini pun mataku kalap melihat berries dan teman-temannya itu. Akhirnya setelah R mengambil roti pesanannya dan aku membeli blueberry, kembali kami berjalan pulang sambil singgah-singgah di beberapa toko di sepanjang jalan kembali ke apartemen. 

Menginap di apartemen R dan suaminya di Göttingen sungguh sangat mengesankan. Tiga malam dua hari di apartemen dengan pemandangan yang menakjubkan. 

R dan suaminya adalah pasangan yang sangat menyenangkan. Keduanya memiliki selera humor yang besar. Sama dengan temanku si N yang di Belgia, mereka juga pasutri yang asyik, hanya ketika itu kan si N sedang berduka. 

Hampir setiap percakapan selalu diselingi canda dan cekikikan. Mereka gemar bercerita, mulai dari pengalaman hidup di Jerman, hal-hal sederhana yang terjadi dalam keseharian hingga topik berat perpolitikan, bo! Rasanya tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.

Meski telah lama tinggal di Jerman, si R tetap mengikuti perkembangan politik sebuah negeri asalnya nun jauh di sana; Konoha, eh…Indonesia!  Ia tahu sekali tentang berbagai isu tentang kebijakan-kebijakan penguasa baru itu. 

Göttingen memikat dengan ketenangannya, jalan-jalannya yang bersih dengan bangunan-bangunan indah berjajar di tepi jalan. Hal lain yang membuatku terkesan (sama terkesannya dengan Mons-Belgia) adalah kesadaran masyarakatnya terhadap lingkungan. Sistem pengelolaan sampah yang sudah sangat maju. Seperti di Jepang juga. Sampah dipilah sejak dari rumah sesuai jenisnya, dan masyarakat melakukannya dengan penuh kesadaran, sudah menjadi budaya kental. Sepertinya kata-kata indah “Kebersihan adalah sebagian dari iman” yang banyak aku baca di banyak tempat di Indonesia-tetapi ironi pemandangan di sekitarnya –  itu justru aku lihat di kota-kota ini yang tak perlu tulisan apa pun untuk melakukannya tetapi lingkungan begitu rapi dan bersih. Hmmm!!! 

Di mana pun aku berjalan, selalu terlihat orang bersepeda. Jalur khusus pesepeda tersedia hampir di setiap sudut kota, membuat bersepeda menjadi pilihan transportasi yang aman, nyaman, sekaligus ramah lingkungan.

Göttingen bukan kota wisata. Ketika travel, aku pun tidak melulu mengejar destinasi wisata. Kadang singgah di kota-kota kecil yang jarang diincar turis justru memberikan pengalaman yang berbeda dan tak kalah berharga. 

Saat meninggalkan Göttingen, hal yang paling membekas dalam pikiranku adalah suasana yang diciptakannya, ketenangan, dan kebersihan yang membuat siapa pun merasa nyaman. Terima kasih R dan S untuk pengalaman di Göttingen, kotamu yang cantik.