Akhirnya, ke Eropa juga (Bag 1)

“Ayo, kapan main ke Belgia?” tanya seorang teman lama yang tinggal di Belgia pernah bertanya. Ketika itu ia sedang pulang kampung ke Jakarta. Ia menikah dengan orang Belgia dan sudah belasan tahun menetap di negeri waffle itu.

“Hmm… mungkin nanti kalau aku sudah pensiun. Biar bisa lebih santai,” jawabku sambil membayangkan betapa menyenangkannya jika bisa tinggal berlama-lama di sana. Tapi… bukannya biaya hidup di Eropa mehong? Hehe. Iya juga, sih. Tapi…once in a lifetime! Why not?!

Sebenarnya, aku pernah mencicipi atmosfer Eropa. Tepatnya pada tahun 2013—tiga belas tahun yang lalu. Kebetulan saat itu aku berkesempatan mengikuti program Professional Development di American School of London. Yang membuat pengalaman itu semakin berkesan, aku berangkat sendirian, lho! Iya, sendirian! Wah seru ceritanya, tepatnya berasa banget orang udiknya…!

Kenangan tentang London masih sering terbayang. Kota yang dipenuhi taman-taman indah dan ruang hijau itu benar-benar meninggalkan kesan mendalam. Tentu saja, ada satu hal lain lagi yang tak terlupakan: mahalnya apa-apa di sana. Ketika itu nilai tukar Poundsterling sudah mencapai sekitar Rp 16.000-an per pound. Rasanya, setiap kali mengeluarkan uang untuk beli minum atau makan, hmmmm….aku harus menarik napas panjang lebih dulu.

Tapi di sini kan aku mau cerita tentang perjalanan ke lima negara Eropa yang baru saja terjadi.

Singkat cerita, setelah menabung, aku dan tiga orang teman akhirnya berhasil mengamankan tiket promo Qatar Airways. Untungnya, waktu itu masih bulan Februari, sekitar enam bulan sebelum konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat memanas. Jadi, selain harga tiketnya masih ramah di kantong, kami juga belum dibuat deg-degan memikirkan rute penerbangan. Jadilah penerbangan Qatar Jakarta-Paris dengan transit tiga jam di Dubai. Pulangnya, Milan-Jakarta, dengan transit di Dubai juga.

Eh, siapa sangka, beberapa bulan kemudian konflik di Selat Hormuz malah makin memanas. Mulailah kami was-was. Dag-dig-dug!

Ya gimana nggak? Uang sekitar Rp13 juta sudah melayang buat tiket pesawat PP. Visa Schengen sudah beres tanpa drama. Tiket kereta antarnegara juga sudah dibeli. Hotel-hotel pun sudah dibooking, meski untungnya beberapa masih bisa dibatalkan dan uangnya kembali.

Sempat kepikiran juga, “Jangan-jangan penerbangan dibatalkan!” karena kami sudah mendapat email dari Traveloka, kami diminta untuk refund atau reschedule! Waduh! Rasanya sayang banget kan kalau semua persiapan yang sudah dilakukan berbulan-bulan harus berantakan gara-gara situasi yang sama sekali di luar kendali.

“Ya sudah… berdoa aja,” kata salah satu teman dari tiga teman yang bergabung dalam trip ini.

Waktu itu Qatar Airways bahkan sudah mengeluarkan pengumuman resmi. Beberapa penerbangan ke Eropa sampai tanggal 15 Juni dibatalkan atau dikurangi frekuensinya. Sementara tiket kami? Berangkat tanggal 18 Juni dini hari.

Makin deg-degan, kan?

Akhirnya kami cuma bisa pasrah. Toh, apa lagi yang bisa dilakukan?

Men propose, God disposes. Manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.

Que sera, sera… whatever will be, will be. Jadi nyanyi lagu itu deh!

Alhamdulillah! Ternyata aman, kawan!

Oh ya, sebelum lanjut, aku mau cerita dulu kenapa Prancis akhirnya menjadi negara pertama yang kami kunjungi.

Jawabannya tentu saja berkat hasil kolaborasi dengan ChatGPT. Hehe.

Dengan nada lembut:) aku bertanya, “Di antara lima negara ini—Prancis, Belgia, Jerman, Swiss, dan Italia—negara mana yang kemungkinan visa Schengennya paling mudah disetujui?”

Dan berdasarkan hasil diskusi panjang dengan sang konsultan virtual ini, pilihan pun jatuh kepada Prancis. Memang benar sih, mudah dan cepat (pendapat berdasarkan pengalaman kami berempat, ya).

Perlu juga aku ceritakan, kami berempat ternyata punya misi yang sedikit berbeda dalam perjalanan ini.

Aku punya agenda bertemu teman-teman lama yang tinggal di Belgia dan Jerman. Temanku yang satu lagi—sebut saja si T—ingin mengunjungi adiknya yang tinggal di Antwerpen, Belgia.

Sementara itu, dua teman lainnya, si L dan si K? Mereka murni berplesir ria. Tapi jadi seru karena kami berangkat bersama, kemudian berpisah, kemudian bersama lagi ketika pulangnya.

Prancis menjadi negara pertama yang kami masuki.

Dua temanku yang tinggal di Belgia dan Jerman juga ikut menyusul ke Paris. Jadi, yang awalnya cuma berempat, mendadak jadi berenam. Makin ramai, dong!

Tentu saja, rencana ini sudah kusampaikan lebih dulu kepada tiga teman seperjalananku. Untungnya mereka menyambut dengan senang hati. Bahkan akhirnya mereka jadi punya teman baru juga, karena sebelumnya memang belum saling kenal.

Tiga hari di Paris ke mana saja?

Pertama, menara Eiffel, tentu saja! Siapa pula yang sudah jauh-jauh ke Paris tapi tidak mampir melihat dari dekat kemegahan menara yang satu ini?

Menurut sejarahnya, menara Eiffel dibangun oleh perusahaan milik insinyur Gustave Eiffel untuk Pameran Dunia Paris tahun 1889, sekaligus memperingati seratus tahun Revolusi Prancis. Pembangunannya dimulai pada tahun 1887 dan selesai dua tahun kemudian.

Dan memang, melihat Menara Eiffel secara langsung rasanya berbeda sekali dengan melihatnya di foto atau film. Berdiri tinggi di depan mata, dengan rangka-rangka besinya yang saling menyilang, menara itu terlihat jauh lebih megah daripada yang kubayangkan.

Pokoknya, belum sah rasanya datang ke Paris kalau belum foto-foto dengan latar Menara Eiffel. Ada buktinya gitu! Ha…ha!

Le Marais.

Kemudian esok harinya, kami menyusuri jalanan di sepanjang Le Marais, kawasan yang lebih santai dan artistik. Kawasan ini dipenuhi jalan-jalan kecil berbatu, butik-butik unik, galeri seni, toko buku, hingga kafe-kafe yang selalu ramai.

Kalau ingin tahu lebih jauh klik saja tautan ini ya! Maaf, kalau aku berpanjang-panjang nanti jadi membosankan.

https://everydayparisian.com/a-guide-to-the-marais/: Akhirnya, ke Eropa juga (Bag 1)

Tempat berikutnya adalah Notre-Dame dan Museum Louvre.

Notre-Dame ini namanya aku kenal lewat buku The Hunchback of Notre-Dame yang ditulis oleh Victor Hugo. Buku klasik. Aku saja membacanya ketika masih SMP, tahun 1980-an. Senang sekali melihat langsung sebuah tempat yang awalnya hanya kita tahu dari sebuah cerita di buku. Ibarat sebuah angan yang menjadi kenyataan, gitu nggak sih?!

Notre-Dame ini adalah katedral bergaya Gotik yang mulai dibangun pada tahun 1163 ini menjadi salah satu ikon paling terkenal di Paris. Ketika di sana sih sedang renovasi dan konon di tahun 2019 mengalami kebakaran hebat.

Museum Louvre. Tempat ini masuk dalam daftar wajib kunjung. Museum seni terbesar di dunia ini menyimpan ribuan koleksi bersejarah, termasuk lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci. Namun kami tidak sampai masuk ke dalam. Cukup bersantai menikmati kemegahan gedungnya dan berfoto-foto di depan piramida kaca Louvre yang ikonik rasanya sudah puas banget. Bangunan tua semegah itu masih terawat dengan baiknya. Mengagumkan!

Galeries Lafayette dan Latin Quarter.

Esok harinya kami ke Galeries Lafayette. Kalau ingin melihat sisi modern Paris, ya ini, Galeries Lafayette. Department store legendaris yang berdiri sejak tahun 1894 ini bukan sekadar tempat belanja, tetapi juga salah satu bangunan paling indah dan megah. Di dalamnya ada kubah kaca bergaya Art Nouveau di bagian tengahnya benar-benar memikat perhatian. Art Nouveau itu gaya seni dan arsitektur yang populer di Eropa gitu. Ornamen besinya meliuk-liuk seperti sulur tanaman, berpadu dengan kaca warna-warni yang membuat kubah besar itu begitu elegan.

Adapun barang-barang yang dipajang di bawah kubah raksasa ini, hmmm….kami tak berani menengok! Lewat aja dah! Barang-barang bermerek terpajang menggoda!

Untuk turis berkantong cekak model aku, he..he, tetap perlu mengunjungi karena di rooftop-nya kita bisa menikmati pemandangan kota Paris. Nah, kalau ini, gratis! Memandang menara Eiffel yang berdiri anggun di kejauhan. Aku kasih link aja ya…

Montmartre.

Hari terakhir di Paris kita ke salah satu sudut lain di Paris yang paling berkesan buatku. Kawasan ini berada di atas bukit. Suasananya berbeda dibanding bagian Paris lainnya. Jalan-jalannya kecil, berbatu, dan dipenuhi bangunan-bangunan tua yang super cantik. Di beberapa sudut jalan, para pelukis sibuk menggoreskan kuas di atas kanvas dan memajang karya mereka. Berjalan di sepanjang area ini rasanya seperti berjalan di tengah galeri seni terbuka. Kono dulu banyak seniman ternama seperti Pablo Picasso dan Vincent van Gogh pernah tinggal atau berkarya di kawasan ini.

Di puncak bukit berdiri megah Basilika Sacré-Cœur yang menjadi ikon Montmartre. Di pelatarannya, kita bisa menikmati pemandangan kota Paris dari ketinggian. Untuk naik ke atas cukup menguras tenaga karena jalannya menanjak, menaiki tangga, entah berapa jumlahnya.

Suasananya menyenangkan. Apalagi ada pengamen-pengamen yang suaranya tuh enak banget didengar sambil ngadem di bawah bangunan tinggi yang megah. Semilir angin membuat betah dan malas beranjak.

Gembok cinta itu nyata:) Di mana-mana, karena cinta memang seuniversal itu. (Foto paling kanan, gembok cinta di sepanjang pagar dari bawah hingga atas pelataran).

Akhirnya, tiga hari saja di Paris, cukup deh! Cuaca sedang ekstrim. Ketika itu suhu bisa mencapai 39 – 40 derajat. Konon cuaca ekstrim ini biasa terjadi di antara bulan Juni – Agustus. Sumer, kata gue yang orang Jawa sih. The summer yang sumer kelewatan!

Satu hal penting adalah tentang transportasi. Aku pikir tadinya, semua kereta di Paris pasti dingin ber-AC seperti di Jepang atau di kota sendiri MRT Jakarta gitu, nyaman. Ternyata tidak. Alamak!

Namun oh, ternyata. Banyak rangkaian metro, terutama yang lebih tua, tidak menggunakan AC. Bayangkan, saat musim panas seperti ini, gerbongnya bisa terasa seperti ada kompor menyala, apalagi kalau sedang bejubel penumpang. Mandi keringat, bo!

Meski begitu, menurutku transportasi umum di Paris tetap luar biasa mudah. Layaknya transportasi di negara majulah. Jaringannya luas, jadwalnya teratur, dan hampir semua tempat wisata bisa dijangkau dengan mudah tanpa perlu mengeluarkan uang lebih untuk naik taksi.

Hal pertama yang perlu dilakukan begitu tiba di Paris adalah membeli Navigo Easy, kartu transportasi yang bisa diisi ulang dan digunakan untuk naik metro, bus, maupun trem. Praktis sekali. Tinggal tap saat masuk stasiun, lalu kita bebas berpindah-pindah jalur tanpa harus repot membeli tiket setiap kali naik kereta. Buat kita wisatawan, kartu ini benar-benar menghemat waktu dan tenaga. Satu lagi. Persiapkan stamina karena harus naik turun tangga setiap kali berganti kereta atau metro. Dan itu biasa! Kecuali kalau kita adalah turis manja dengan kantong tebal. Bedaaa!

Begitu akhir cerita dari Paris. Tujuan berikutnya adalah ke Mons, kota kecil perbatasan Paris-Belgia, di mana temanku tinggal.

Tibalah saatnya aku berpisah sementara dengan dua teman si K dan si L. Aku pergi dengan T yang juga akan mengunjungi adiknya di Antwerpen, Belgia. Karena searah, dia ikut aku. Temanku yang tinggal di Belgia itu, begitu baiknya menjemput aku di Paris:) Kita pun naik FlixBus ke Mons. Perjalanan kurang lebih tiga jam. Jakarta-Bandung lah. Cukup nyaman.

Rasanya ada sensasi tersendiri melihat pemandangan di sepanjang jalan berganti dari Prancis menuju Belgia. Padang savanah membentang bak permadani alam diselingi dengan rumah-rumah cantik berbata merah. Semua itu memanjakan mataku hingga aku terlelap pulas.

Ketika bangun, ehh, bus pun sudah tiba di negara tetangga.

Ikuti terus tulisan berikutnya ya, setidaknya bila kalian ingin ke Eropa juga, sudah ada bayangan lah seperti apa dan bagaimana.

Senang berbagi cerita. Chao!