Di bagian tiga tulisan sebelumnya, aku menceritakan kalau selama di Jerman aku menginap di apartemen temanku di Gottingen. Aku tidak mengunjungi kota-kota besar lain di Jerman. Link tulisan sebelumnya.
Sedih juga ketika harus meninggalkan kita kecil yang telah memikat hatiku. But the journey must go on! Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Tanggal 29 Juni hari Senin aku dan temanku T naik taksi meninggalkan apartemen R menuju stasiun Gottingen untuk melanjutkan perjalanan ke Interlaken, Swiss.
Aaahh Swiss!!! Negara yang selama ini hanya ada dalam angan dan mimpi itu akhirnya benar-benar bisa aku kunjungi. Terima kasih banget sih pada si L teman seperjalanan yang gigih mengusulkan negara ini, meskipun dia sudah pernah kesana beberapa tahun kepungkur.
Jarak tempuh Gottingen – Interlaken sekitar delapan jam dengan transit dua kali. Sebenarnya ada kereta direct dari Gottingen, tetapi mehong, bo! Tak apalah transfer, geret-geret koper ganti kereta, toh akan sampai juga.
Kita naik ICE (Intercity-Express) milik Deutsche Bahn (DB) yang tiketnya sudah aku beli online jauh-jauh hari dari Indonesia. Penting untuk menghindari mahalnya harga!
Konon menurut temanku dan juga beberapa sumber lain, kereta di Jerman terkenal sering terlambat! Temanku R sudah wanti-wanti seandainya ada di antara kereta yang aku naiki datang terlambat, aku harus segera lapor ke petugas agar diperkenankan naik kereta berikutnya dengan jurusan yang sama tentunya. Namun, alhamdulillah, kereta hari itu lancar semua. Dari Gottingen ke Mannheim, dengan waktu transit 40 menit cukup santai untuk berpindah peron dan ganti kereta. Kemudian dari Mannheim ke Basel. Dan di Basel kita ganti kereta ke tujuan akhir Interlaken. Pukul 15.30-an sesuai jadwal kita sampai tujuan.

Interlaken.
Dari stasiun Interlaken West, aku dan T jalan kaki sambil menggeret koper menuju penginapan kami Backpacker Sonnenhof. Nah di sini aku berjumpa lagi dengan L dan K yang sudah terlebih dulu datang sehari sebelumnya. Ingat kan? Bahwa aku pergi dari Jakarta berempat. Kemudian setelah menghabiskan waktu bersama di Paris, kami berpisah, aku dan T ke Mons-Belgia, sementara L dan K ke Brussel, kemudian mereka lanjut ke Frankfurt lalu ke Interlaken.
Singkat cerita, begitu tiba di Interlaken, aku langsung mengerti mengapa kota kecil ini menjadi salah satu destinasi paling populer di Swiss. Dikelilingi pegunungan Alpen yang menjulang dan diapit dua danau berwarna biru kehijauan; Lake Thun dan Lake Brienz, yang telah aku lihat dari jendela di kereta di perjalanan tadi. Interlaken menyuguhkan pemandangan yang seperti dalam lukisan.
Satu hal yang membuatku terkesan adalah pelayanan bagi para wisatawan yang menginap di hotel. Saat check-in, kami menerima Guest Card. Petugas hotel menjelaskan bahwa kartu ini bisa digunakan untuk naik bus keliling kota Interlaken secara gratis selama menginap. Bus-bus ini melayani berbagai rute di sekitar Interlaken, dengan instruksi yang jelas dan detail sehingga kami dapat menjelajahi kota dengan mudah tanpa perlu memikirkan biaya transportasi.
Bus selalu datang tepat waktu, bersih, dan mudah digunakan. Kami pun bebas naik turun di berbagai pemberhentian untuk menikmati sudut-sudut Interlaken yang luar biasa cantik.
Beberapa tempat yang dapat dicapai dengan bus gratis tersebut (tergantung rute dan area) antara lain:
- Iseltwald — desa cantik di tepi Danau Brienz yang terkenal sebagai lokasi syuting Crash Landing on You. Dari sinilah kita berjalan ke Iseltwald Pier.
- Bönigen — desa indah di ujung Danau Brienz.
- Unterseen — kota tua yang berdampingan dengan Interlaken.
- Matten bei Interlaken — kawasan yang menyatu dengan pusat Interlaken.
- Ringgenberg — desa di tepi Danau Brienz.
- Beatenbucht — titik akses menuju kawasan Danau Thun.
Akupun tidak menyia-nyiakan fasilitas itu. Esoknya jam enam pagi aku sudah berdiri menunggu bis di halte depan hotel. Kemana? Ke tempat syuting Crash Landing On You! Bagi kalian yang juga penggemar drama ini, pasti masih ingat kan adegan ketika Kapten Ri Jeong-hyeok memainkan piano di sebuah dermaga yang menghadap danau, sementara Yoon Se-ri diam-diam menyaksikannya. Adegan itu tidak saja menjadi salah satu momen paling ikonik dalam serial tersebut tetapi juga paling terkenang dalam ingatanku, ha ha!



Dermaga itu berada di desa kecil Iseltwald, di tepi Lake Brienz, sekitar 20 menit dari hotel dengan bus gratis tadi. Wooaaaah!!! Kesanalah aku. Karena masih pagi, suasana pun masih sepi. Untunglah! Karena begitu agak siang sudah ramai dengan para wisatawan penggemar CLOY yang berfoto ria. OMG! Memang indah sekali! Rumah-rumah tradisional Chalet berjajar dengan kokohnya di tepi danau. Kalau ada kata lain selain indah, spektakuler!




Ingin sekali bisa berlama-lama di tempat ciamik ini. Oh, ya aku pergi sendiri ke Iseltwald ini karena L dan K karena mereka sudah datang terlebih dulu mereka sudah mengunjungi tempat ini. Sementara T, temanku yang satu kamar, masih tertidur pulas. Akhirnya aku menunggu bis lagi untuk kembali ke hotel.
Grindelwald
Setelah sarapan, agenda kami adalah ke Grindelwald dan ke Lauterbrunnen. Jujur untuk pemilihan destinasi ini aku ikut agenda L yang memang sudah pernah ke tempat-tempat ini dan menceritakan betapa indahnya. Tempat-tempat terindah di Eropa, katanya. Benar adanya!
Pukul 10 waktu Swiss, kami pun berangkat ke stasiun Interlaken Ost untuk naik kereta ke Grindelwald. Bis gratis tadi tidak mencakup ke Grindelwald. Namun bisa naik hanya sampai di stasiun utama. Interlaken Ost adalah stasiun utama yang menjadi pintu gerbang menuju kawasan Jungfrau. Dari sinilah kereta-kereta berangkat menuju desa-desa pegunungan yang terkenal dengan panorama Alpen, salah satunya Grindelwald.
Setelah kurang lebih 30 menit naik kereta ke Grindelwald, kami membeli tiket Gondola First, kereta gantung yang akan membawa kami ke kawasan wisata pegunungan yang berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.


Kami pun berlima naik gondola. Berlima? Iya, ketambahan satu orang yang baru kenalan di hotel. Cewek Taiwan solo traveller. Dia sekamar dengan L dan K.
Gondola perlahan meninggalkan stasiun, melayang di atas padang rumput, hutan pinus, dan rumah-rumah chalet khas Swiss yang semakin lama tampak semakin kecil. Alamak cantiknya!!!! Semakin tinggi kami naik, panorama Pegunungan Alpen terbentang semakin luas. Puncak-puncak yang masih diselimuti salju berdiri megah di kejauhan, sementara lembah hijau membentang di bawah kaki dengan sapi-sapi yang merumput dan bel yang menggantung di leher para sapi itu berbunyi tertiup angin, klining-klining! What a paradise!

Sesampainya di First, udara terasa jauh lebih dingin dan segar. Dari sana, kami berjalan menuju First Cliff Walk, jalur pejalan kaki yang menempel di sisi ketinggian tebing. Jalur baja itu memanjang mengikuti kontur tebing, lengkap dengan pagar pengaman. Meski begitu bila melihat ke bawah rasanya seolah-olah melayang di atas jurang-jurang yang curam.




Melihat ke kanan, dinding batu menjulang. Melihat ke kiri, lembah terbuka begitu luas dengan pegunungan Alpen yang seakan tak berujung. Para wisatawan rela berantri ria menyusuri jalur baja di tebing ini demi bisa berfoto-foto di ujungnya sana dengan latar belakang gunung bersalju. Worthed sih! Gak rugi antri.
Di ujung jalur terdapat sebuah platform yang menjorok ke arah jurang. Berdiri di sana memberikan sensasi yang sulit dilukiskan, hanya ada langit biru, deretan puncak Alpen, dan hamparan lembah hijau yang terbentang tanpa batas sementara paralayang warna-warni bergantian mendekat seolah menyapa. Hmm! Pantas saja mengapa begitu banyak orang memasukkan Grindelwald First ke dalam daftar destinasi mereka.
Setelah puas berfoto, tak ada puasnya sih sebenarnya!
Setelah menyelesaikan First Cliff Walk, tujuan berikutnya adalah Bachalpsee, sebuah danau alpine yang dapat dicapai dengan berjalan kaki menyusuri lereng pegunungan. Awalnya aku mengira jaraknya dekat saja. Ternyata oh ternyata! Jalur yang harus kami tempuh lebih dari satu jam berjalan kaki. Lebih karena harus berhenti-berhenti kalau nggak untuk bernapas ya untuk foto-foto. Siang itu kira-kira pukul satu, tepat saat matahari terik di atas sana.

Meski perjalanan panjang dan melelahkan, setiap langkah seakan terbayar oleh pemandangan di sepanjang perjalanan. Jalur setapak membelah padang rumput pegunungan yang luas, sesekali dipenuhi bunga-bunga liar musim panas. Di kejauhan, puncak-puncak Alpen yang masih berselimut salju dengan angkuh memandang kami. Udara yang sejuk dan bersih membuat rasa lelah perlahan terabaikan.


Setelah berjalan ibarat tanpa ujung, akhirnya danau Bachalpsee itu terlihat di depan mata. Lagi-lagi berdecak kagum!!! Oh Tuhan!!! Betapa indah alam ciptaanMu. Airnya begitu jernih hingga memantulkan bayangan pegunungan di sekelilingnya seperti cermin. Semilir angin membawa sejuk dan untungnya awan silih berganti memayungi bumi. Rasanya seperti menemukan sebuah tempat yang tersembunyi di lereng Pegunungan Alpen yang maha luas.
Oh indahnya! Oh cantiknya!


Setelah puas berganti pose, berganti gaya mulai dari duduk, nungging, tiduran, berdiri, gaya apapun yang mengekspresikan bahagianya melihat keindahan alam itu. Ternyata awan mulai menebal di langit. Pukul tiga lebih sore hari waktu Swiss. Konon Gondola terakhir yang membawa kami turun kembali jam enam sore. Wah! Artinya kami harus berjalan turun ke bawah untuk mengejar gondola. Kalau tidak..bisa bermalam di lereng Alpen!!!
Beriringan dengan para wisatawan lain kami pun turun kembali. Waktu tempuh kurang lebih satu jam. Kami berjalan lebih cepat karena takut kehujanan mengingat mendung mulai membayang di langit Alpen.
Yaayyy!!! Sampailah kami kembali di Grindelwald bawah. Setelah antri di toilet dan tempat refill air minum, Gondola pun membawa kami kembali ke bawah.
Lauterbrunnen
Perjalanan belum selesai, kawan! Karena aku dan T belum ke Lauterbrunnen (L dan T sudah karena mereka datang sehari sebelum aku dan T). Kami pun ke Lauterbrunnen untuk melihat air terjun. Tiket kereta sudah kami beli sekalian sebelumnya, jadi kami tinggal naik saja begitu kereta menuju Lauterbrunnen berangkat.
Dari stasiun kami berjalan kaki berkejaran dengan hujan yang mulai mengguyur lereng Alpen. Untunglah segala senjata; payung dan jas hujan sudah kami siapkan. Beriringan kami berjalan menuju air terjun yang mengucur dari ketinggian itu.
Desa kecil Lauterbrunnen ini sering disebut sebagai salah satu lembah terindah di Swiss. Lembah yang hijau diapit oleh tebing-tebing batu yang menjulang hampir tegak lurus, sementara rumah-rumah kayu chalet khas Swiss tersebar dengan latar Pegunungan Alpen yang megah.


Air terjun Staubbach Falls adalah daya tarik utama Lauterbrunnen. Air terjun setinggi hampir 300 meter yang jatuh bebas dari puncak tebing. Dari kejauhan, aliran airnya tampak begitu halus hingga menyerupai sehelai kain putih yang melayang-layang tertiup angin.



Berdiri di bawahnya, aku bisa merasakan percikan air yang terbawa angin pegunungan. Suara gemuruh air berpadu dengan semilir angin dan kicau burung, aiih damainya! Sulit rasanya percaya bahwa pemandangan seindah ini benar-benar ada di hadapanku, bukan hanya gambar di kartu pos, kalender atau layar komputer.
Hujan semakin deras. Kami pun tidak bisa berlama-lama menikmati suasana di bawah air terjun. Kami pun kembali ke hotel dengan perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Aku hanya menginap dua malam di Interlaken, sementara L dan K tiga malam. Mengapa sebentar? Alasan utamanya adalah; budget!!! Swiss memang negara mahal. Apa-apa mahal. Untuk makan kami berbelanja di Coop. Coop adalah jaringan supermarket yang mudah ditemukan di hampir setiap kota, mulai dari Interlaken hingga Grindelwald. Bagi wisatawan, supermarket ini menjadi penyelamat karena menyediakan berbagai kebutuhan dengan harga yang jauh lebih bersahabat dibandingkan makan di restoran.
Begitulah sekelumit cerita perjalanan singkat, singgah di surga benua Eropa. Swiss memberikan cerita tentang pegunungan yang megah, danau yang sebening kaca, dan desa-desa yang terlihat seperti lukisan. Aku tidak membeli oleh-oleh apa-apa kecuali magnit-magnit dan ratusan foto di ponsel.
“The best souvenirs are not the things we buy, but the moments that quietly change us.” Terima kasih, Tuhan untuk waktu-waktu indah dalam perjalanan hidup ini.
