



Bergamo dan naluri belanja
Awalnya, selama di Milan, kami berencana ingin ke Verona, kota yang mendunia berkat kisah cinta Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Namun, setelah membandingkan jarak, waktu, serta membaca ulasan dari para pelancong, akhirnya pilihan jatuh pada Bergamo. Kota kecil yang mungkin tidak sepopuler Verona, tetapi lebih dekat dengan pesona yang beda.
Untuk ke Bergamo, dari Milano Centrale kami naik kereta. Ketika itu tidak ada yang direct ke Bergamo. Jadi kami harus naik dulu ke Lambrate. Lucu namanya. Dan ternyata, sesuai namanya, kereta datang lambreta (telat). Dari Lambrate kami naik kereta regional dengan tujuan akhir Tirano, turun di Bergamo.
Satu jam kemudian, kami pun tiba di Bergamo. Kota tua Bergamo terbagi menjadi dua bagian, Città Alta (Kota Atas) yang dikelilingi tembok-tembok tua peninggalan abad pertengahan, dan Città Bassa (Kota Bawah) yang lebih modern.
Kami tidak berlama-lama di kawasan kota bawah. Setelah menikmati gelato, kami langsung menuju Città Alta, atau Kota Atas, bagian tertua sekaligus jantung sejarah Bergamo. Kami berjalan ke arah funicular, kereta kabel yang telah menghubungkan Kota Bawah dan Kota Atas sejak akhir abad ke-19.
Perlahan funicular menanjak melewati lereng bukit. Dalam beberapa menit kereta pun sampai di atas. Pemandangan kota modern di kota bawah berganti dengan benteng-benteng tua, jalan berbatu, dan bangunan-bangunan berarsitektur abad pertengahan. Jalanan berbentuk lorong-lorong sempit dipenuhi bangunan tua dan kafe-kafe kecil.
Bergamo dijuluki juga sebagai the hidden gem of Lombardy. Kami menyusuri jalan-jalan berbatu di lorong-lorong sempit, menikmati bangunan-bangunan tua yang masih terawat, sesekali berhenti untuk mengagumi jendela-jendela yang dipenuhi dekorasi bunga.
Di sebuah kedai gelato kami singgah. Gelato lagi! Entah sudah berapa kali kami makan gelato selama perjalanan di Italiano. Padahal aku sebenarnya termasuk orang yang jarang sekali makan es krim, apalagi gelato. Lah kok jadi pengen terus ya. Hawa panas, gelato menyegarkan!
Setelah menikmati gelato kami melanjutkan berjalan lagi dan melewati sebuah butik kecil. Lebih tepatnya toko pakaian, dengan tulisan besar di depan pintunya: 15 euro untuk satu item atau 28 euro untuk dua item. Gaun-gaun musim panas, tas, dan aneka pakaian berwarna cerah begitu menggoda. Ah… naluri belanja itu mulai bangkit!
“Murah, lho… murah, lho!” seru L “ngompori” sambil sibuk memilih tas dan baju. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari ruang ganti dengan baju baru yang langsung dipakainya. Cantik kali dia!
Akhirnya kami pun ikutan belanja. Satu hal yang sama sekali tidak ada dalam itinerary. Tapi begitulah perjalanan. Selalu ada kejutan-kejutan kecil yang menambah seru perjalanan.
Setelah lelah menyusuri lorong-lorong kecil, kami kembali menuju stasiun. Di dekat stasiun ini ada rumah makan yang sejak perjalanan berangkat ke Città Alta sudah menarik perhatian kami. Dari luar, kami pikir itu adalah restoran Italia asli. Lumayan buat makan siang nanti sebelum kembali ke Milan. Pikir kami ketika itu.
Dengan semangat lapar, kami pun duduk. Resto agak sepi. Seorang pelayan berwajah India menyambut ramah. Ternyata… oh ternyata! 😄 Restoran itu menyajikan makanan perpaduan Italia, India, dan Meksiko. Ya sudahlah. Masa mau keluar dan cari-cari lagi.
Aku memesan spaghetti, berharap banget makan spaghetti asli Italiano. Sayangnya ternyata sedang habis. Akhirnya, yaaah, samosa (dengan setengah hati) ukuran besar yang diiris-iris macam siomay Bandung gitu. Aku pesan juga tortilla dengan guacamole. L memesan nasi briyani, T memilih lasagna, sementara K… kalau tidak salah akhirnya memesan hidangan yang ada daging babinya.
Sudah jauh-jauh datang ke Italiano, makannyo malah samoso dan nasi briyano. Itu plesetan kami selama di Italia, mengganti huruf akhir di segala kata, dengan suara O. Tak apalah. Kemudian kami kembali ke hotel di Milan.
Kereta datang terlambat, tapi tak masalah dengan pengalaman di Bergamo yang indah.
Hotel BB Milano
Sesampai di hotel, rasanya pingin bisa menyeruput teh hangat apalagi badan terasa capek sekali. Sayangnya, di kamar tidak tersedia tea maker atau ketel pemanas air. Padahal kami sudah membeli telur dan mie instan untuk sarapan keesokan harinya karena kami memesan kamar yang tanpa sarapan.
Lah… bagaimana mau merebus telur atau menyeduh mie kalau ketelnya saja tidak ada?!
Pingin selonjor nonton TV. La dallah! Semua salurannya berbahasa Italia. Aku dan T ngedumel. Mereka pikir semua tamu mengerti boso Italiano ngono? Ada sih satu kanal berbahasa Inggris yang akhirnya ketemu setelah mencarinya cukup lama. Hotel ini juga nggak murah-murah amat, kok. Tapi begini amat ya!
Daripada rasa sebel itu aku pendam sendiri, akhirnya iseng aku menelpon resepsionis.
“Bla… bla… bla...” aku mulai menyampaikan keluhan. Sampai akhirnya keluar juga kalimat kesebelanku. Si nona resepsionis mendengarkan dengan seksama.
“…Even a hotel as big as this doesn’t provide such basic amenities. How can you expect your guests to enjoy their stay?” Aku protes.
Nona resepsionis berkali-kali meminta maaf. Ia menjelaskan bahwa hotel mereka sedang berbenah dan mereka belum bisa menyediakan ketel listrik di setiap kamar.
Ketika telpon hampir saja aku tutup, tanpa dinyana, nona resepsionis itu memintaku turun untuk mengambil voucher sarapan gratis untuk dua hari yang masih tersisa.
Wah… menang! Besok pagi bisa menikmati kopi dan teh panas, roti, dan telur rebus tanpa pusing meminta-minta air panas ke dapur restoran hotel.
Sebagai konsumen, kita berhak dong menyampaikan pendapat atau keluhan. Kan demi perbaikan layanan hotel. Aku juga mengatakan kok bahwa tujuanku bukan sekadar mengeluh.
“…I hope this feedback will help improve your service in the future.”
Mereka kan menjual jasa. Terkadang, masukan dari konsumen bisa menjadi bahan pertimbangan. Dapat bonus pula! Voucher sarapan. 😄
Di hari terakhir, kami bersantai saja menikmati Kota Milan. Hari itu kami naik trem menuju Duomo di Milano yang megah kemudian ke Castello Sforzesco (Sforza Castle), benteng bata merah yang menjadi salah satu ikon bersejarah Milan.
Berjalan kaki di antara bangunan-bangunan tua, alun-alun yang ramai, dan deretan toko di pusat kota menjadi penutup yang sempurna untuk perjalanan kami di Eropa. Saat itu tenaga pun rasanya sudah mulai habis. Rindu pada rumah itu nyata! Ada yang sudah kangen nasi Padang, ada yang ngidam tongseng, aku kangen nasi pecel. Ah, selera Nusantara memang susah dicari tandingannya.
Akhirnya, pada hari Minggu, 5 Juli, kami pun meninggalkan Milan menuju bandara Malpensa untuk penerbangan pulang. Tujuan home sweet home, antara Cibubur dan Jakarta.
Penerbangan dari Milan Malpensa Airport ke Hamad International Airport memakan waktu sekitar 6 jam. Tiba di Doha sekitar pukul dua pagi. Lelah dan ngantuk sekali.
Sebelum benar-benar sampai di Indonesia, suasana “Indonesia” itu sudah terasa sekali di Doha. Ruang tunggu dipenuhi penumpang urang Indonesia. Banyak jamaah umroh. Wajah-wajah Indonesia, so familiar!
Tiba-tiba si L nyeletuk.
“Habis lihat tampang Antonio Banderas, sekarang kok jadi Sule….”
“Husshhh!” kami semua menahan tawa dalam kerumunan banyak orang itu.
Jujur aja deh! Selama di Italia—wajah setiap pria kok seperti perpaduan antara Keanu Reeves dan Pierce Brosnan si mantan bintang James Bond!!! Petugas-petugas dan bahkan polisi-polisi yang berjaga di stasiun-stasiun itu, menyegarkan mata gitu. Nggak salah L memilih negara terakhir Italia. Obat penat😄
Akhirnya, berakhirlah sudah perjalanan ini ketika, pada 6 Juli, pesawat kami mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Senang kembali ke rumah.
Setiap perjalanan pasti akhir. Pulang dengan selamat, koper lengkap, dompet menipis, tapi memori penuh. Saatnya menabung lagi!!!












