Garis Batas

Garis Batas bukanlah buku perjalanan biasa. Buku ini menggambarkan kehidupan masyarakat, budaya, konflik politik, batas negara, identitas, serta makna “tanah air” dan “kebangsaan.”

Dengan gaya bahasa yang reflektif serta narasi dan deskripsi yang kuat, pembaca seakan bisa melihat dan mengalami sendiri peristiwa dan potret kehidupan yang digambarkan dengan begitu hidup dan memukau.

Dari buku ini kita belajar tentang identitas—sejalan dengan tujuan penulisan buku ini yang merupakan pencarian identitas sang penulis sendiri. Agustinus menulis dari sudut pandang yang unik, melihat negara-negara yang jarang dikunjungi dari perspektif seorang Asia, khususnya orang Indonesia. Hal itu membentuk rasa empati dan kemanusiaan; kisah-kisah penduduk lokal yang menyentuh membuka wawasan kita bahwa manusia, di manapun berada, pada dasarnya memiliki kebutuhan universal yang sama: kedamaian dan ketentraman untuk hidup di wilayahnya sendiri.

Selain kekuatan narasi dan pesan kemanusiaannya, gaya penulisan buku ini juga cukup berat dan filosofis. Mungkin ini tak lepas dari latar belakang Agustinus yang telah membaca ratusan buku ketika menuliskan catatan perjalanannya. Oleh karena itu, buku ini mungkin kurang begitu cocok bagi pembaca yang mencari bacaan ringan untuk sekadar hiburan.

Salah satu kalimat paling berkesan bagi saya dalam buku ini adalah:

“Kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih untuk menjadi manusia.”

Garis Batas bukan hanya catatan perjalanan, melainkan juga perjalanan batin seorang manusia dalam mencari makna rumah, identitas, dan batas-batas yang sesungguhnya tidak perlu ada.

Ayu Matruno – 18 April 2025

Tinggalkan komentar