Rinduku Pada Sumba…

Bulan Juli yang lalu aku sempat berkunjung ke Sumba bersama dua orang rekan kerja. Perjalanan jauh pertama dengan tujuan murni untuk jalan-jalan sejak pandemi melanda. Pulau Sumba adalah salah satu tempat yang ada di bucket list-ku dan termasuk dalam 10 things to do before I die:) Ha..ha, seperti judul film atau novel ya…. sok dramatis.

Berjalan di hamparan celah-celah perbukitan tanah Sumba.

Pulau Sumba sudah sejak lama terbayang dalam anganku, terlebih setelah membaca puisi dari Taufiq Ismail. Tahu kan? Salah satu puisi beliau tentang keindahan Pulau Sumba. “Beri Daku Sumba.” Dan memang benar. Setelah membuktikannya dengan pergi sendiri ke sana, tiada henti aku berdecak kagum dengan pesona alam, bukitnya, lembahnya, ngarainya, pantainya, padang savana, air terjun, langitnya, budayanya. You name it. Tak ada habisnya aku membicarakan dan mengenang perjalanan selama seminggu itu.

Tetapi karena blog-ku ini bukan blog macam traveller, maka aku tidak akan menuliskan secara rinci tentang tempat-tempat di Sumba atau memberikan saran ini itu bila ke Sumba. Aku lebih tertarik menuliskan tentang perjalanku ke tanah Sumba karena aku ingin selamanya mengenang keindahannya. Sejauh ini Sumba adalah tempat terindah yang pernah aku kunjungi. Aku ingin terus mengenangnya, abadi dalam untaian kata-kata.

Sepanjang perjalanan, dari ujung ke ujung, khususnya ketika menuju hamparan savana Puru Kambera, orkestra alam di tanah Sumba. Ternak-ternak merumput, sapi, kambing bahkan kuda-kuda dibiarkan lepas liar di hamparan savana berhektar-hektar. Sejauh mata memandang, aku merasakan sensasi seakan sedang berada di daratan Afrika, di sebuah jalan beraspal yang berada di tengah-tengah savana, sepi tak ada kendaraan melintas, semacam susana sebuah latar di film-film Hollywood. Siapa yang tak merindukan Sumba?

Puru Kambera di mana kuda-kuda liar merumput di hamparan padang terbuka

Belum lagi Bukit Wairinding. Bukit yang sejak menjadi salah satu lokasi syuting film yang disutradarai oleh Mira Lesmana dalam film Pendekar Tongkat Emas ini, memiliki lanskap perbukitan yang sangat indah. Kita bak menemukan sekeping surga yang terhampar diantara perbukitan. Wairinding memang membuat merinding! Dan tempat yang pas untuk healing. Apalagi bila matahari mulai terbenam. Ck, ck, ck, ck, ck….Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa kita dustakan?

Bukit Hiliwuku atau yang dikenal juga dengan nama Bukit Teletubies, alamaaak!!!! Tak berkedip mataku memandang keindahannya. Lekukan bukit dan lembahnya begitu eksotik, hamparan hijau bergelombang dengan langit biru cerah dan cuaca yang panas membara. Seperti bola api yang berpijar, demikian kata Taufiq Ismail dalam puisinya.

Kemudian pesona pantainya. Pantai Mandorak dengan deretan tebing karangnya yang berbongkah-bongkah dan mengeluarkan suara “BOOOM” bila gelombang dan debur air menerjang atau yang lebih dikenal dengan istilah water blow. Pantai Mandorak punya daya tarik tersendiri yaitu air laut yang biru segar berpadu dengan pasir putih yang halus.

Pantai Walakiri. Pantai yang memiliki mangrove unik dengan hamparan pasir putih dan pohon kelapa berjajar menaungi. Pantai ini merupakan spot yang luar biasa eksotik terutama saat matahari menjelang terbenam. Pepohonan mangrove kerdil di sepanjang pantai membuat siluet yang meliuk-liuk bak penari. Semua ini menjadikan pantai Walakiri terlihat sungguh artistik dan fotogenik.

Pantai Walakiri di senja hari. Welcome to tanah Sumba..la..la..la..la

Danau Weekuri atau Weekuri Lagoon adalah danau lonjong yang lebarnya kurang lebih 50 meter. Dalam bahasa Sumba, Wee artinya air dan Kuri artinya percikan. Mungkin awalnya percikan karang yang menembus daratan dan menjadi sebuah danau. Danau yang memukau setiap mata yang memandang.

Danau Weekuri. Bercengkerama dengan anak-anak Sumba.

Lalu ada air terjun Tanggedu. Dulu ketika aku masih SD, di rumahku di kampung sering terpasang kalender dengan gambar-gambar pemandangan di pelosok nusantara. Salah satu gambar yang aku kagumi di kalender itu adalah gambar air terjun.

Gambar itu begitu melekat di pikiranku hingga ketika aku mendatangi lokasi air terjun Tanggedu, Oh Tuhan! Ini rupanya gambar air terjun yang sangat melekat di pikiranku di sepanjang usiaku itu. Subhanallah! Teriakku antara kagum dan tidak percaya dengan pemandangan air terjun yang terhampar di depan mata. Konon air terjun ini katanya mirip dengan Grand Canyon di Amerika. Air terjun Tanggedu terlihat sangat megah, grande, eksotis dan terkesan mistis karena lokasinya yang jauh dari jangkauan.

Belum lagi kampung tradisional dengan rumah-rumah berbentuk unik. Kampung adat Ratenggaro terletak di Sumba Barat Daya. Terlepas dari sejarahnya yang konon cukup seram katanya, nyatanya kampung adat ini sungguh indah. Lokasinya di dekat pesisir pantai dengan rumah-rumah tradisional dengan menara atap menjulang tinggi. Konon hal ini mencerminkan status sosial dan pemujaan terhadap arwah leluhur. Kebanyakan masyarakat di Sumba masih menganut kepercayaan marapu, yaitu pemujaan kepada arwah leluhur.

Kemudian kampung adat Prai Ijing di Sumba Timur, rumah adat dengan dinding kayu beratap rumbai. Kampung ini berada di ketinggian yang harus dicapai dengan menaiki tangga. Namun bila kita sudah berada di atas, kita bisa melihat kota Waikabubak dengan pesona alam dan hamparan sawah nan hijau. pemandangan yang sangat memanjakan mata. Kampung ini sangat cocok untuk wisata budaya, karena di sini kita bisa menyewa pakaian adat, membeli oleh-oleh kopi dan tenun khas Sunda dan juga bercengkerama dengan penduduk lokal. Tiada taranya keindahan Sumba!

Keindahan tanah Sumba membuat aku semakin mengagumi keindahan Indonesia tercinta. Betapa sangat beruntungnya aku terlahir dan menjadi warga negara di bumi pertiwi ini. Dari Sabang sampai Merauke, keindahan dan pesona Indonesia begitu memukau penduduk dunia. Tanah Sumba! Memori indah yang tak kan terlupakan!

Home by The Garden, November 9, 2022

2 respons untuk ‘Rinduku Pada Sumba…

Tinggalkan Balasan ke FiftySomething Batalkan balasan