Catatan Seorang Penyintas Kanker; Aku Belajar Mendengarkan Tubuhku

Tulisan ini merupakan refleksi diri dari sebuah perjalanan panjang menuju kesembuhan. Perjalanan yang menyadarkanku bahwa sebelum didiagnosis sakit saat itu, aku kerap menzalimi tubuhku sendiri—abai, meremehkan kesehatan jiwa dan raga, serta terlalu sering menganggap diriku selalu kuat, sehat, dan hebat.

Ada masa dalam hidupku ketika tubuh ini hanyalah alat. Ia kupaksa bekerja keras, rasa lapar sering kali kuabaikan, dan ketika makan pun aku nyaris tak pernah benar-benar peduli pada apa yang kumasukkan ke dalam tubuhku.

Belum lagi stres—stres yang datang dari hidup sebagai seorang single parent yang membesarkan dua anak seorang diri. Perjuangan itu penuh uraian air mata, namun aku tetap menuntut tubuhku untuk selalu kuat, selalu siap, selalu bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan hidup, biaya sekolah anak-anak, jadwal kerja yang padat, serta rutinitas pulang-pergi menembus lalu lintas Jakarta yang tak kenal ampun. Di balik itu semua, ada kondisi emosional yang sarat luka dan trauma, yang sering kali kupendam sendiri.

Anehnya, lelah bukan sesuatu yang kurasakan sebagai tanda bahaya. Ia sudah menjadi kebiasaan. Sakit kuanggap sepele, bahkan kerap kuabaikan. Kurang tidur? Itu sudah seperti bagian dari hidup. Dalam sehari, mungkin aku hanya tidur empat hingga lima jam.

Bayangkan: sepulang kerja, aku masih memberi les; kadang dilanjutkan dengan kuliah jika ada jadwal. Aku tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam, lalu menyiapkan segala keperluan anak-anak untuk esok hari. Sebelum subuh aku sudah bangun kembali—memasak, bersiap, dan mengejar kereta pagi. Jika terlambat sedikit saja, gerbong kereta akan penuh sesak, seperti kandang ayam: manusia berjejalan, berdiri berimpitan selama satu jam, bahkan lebih.

Alamak.

Sampai kanker datang dan menghentikan segala kesibukanku. Penyakit ini telah bersemai bertahun-tahun sebelumnya, ketika aku di masa-masa tak menentu itu…konon dia sudah bersarang dan aku selalu mengabaikan. Karena memang tak ada rasa sakit, yang ada tiba-tiba ada sesuatu yang tak biasa di salah satu bagian tubuhku.

Penyakit itu memaksaku berhenti—benar-benar berhenti. Untuk pertama kalinya, aku dipaksa mendengarkan tubuhku, bukan sekadar memakainya seperti mesin yang bekerja tanpa henti.

Sejak diagnosis itu, dan setelah menjalani rangkaian pengobatan yang panjang, hubunganku dengan tubuh berubah total. Tubuh yang dulu kuabaikan kini menjadi sesuatu yang harus diajak berdialog. Aku mulai lebih peka terhadap sinyal-sinyal kecil: rasa lelah yang tak biasa, penat yang datang tanpa sebab jelas, pikiran yang terasa penuh, hingga raut wajah yang tampak buram—meskipun habis  gajian. He… he…

Ada apa gerangan? 

Pelan-pelan, aku mulai memperbaiki pola hidupku yang memang berantakan. Bukan hal yang mudah merubah kebiasaan. Namun dengan kebiasaan kecil yang perlahan aku lakukan, aku mulai melihat diriku yang baru. 

Pola makanku berubah sangat drastis. Dulu, aku nyaris tidak ambil peduli pada apa yang kumakan. Aku makan semata-mata karena lapar, karena suka, karena rasanya enak—tanpa benar-benar memikirkan apakah makanan itu mengandung bahan-bahan yang berpotensi membahayakan tubuhku.

Sejak itu, kebiasaan makanku perlahan kuselaraskan dengan kebutuhan tubuh. Aku menjadi jauh lebih teliti terhadap jenis makanan yang masuk ke dalam diriku. Tubuh ini pun, tanpa kusadari, menjadi ruang eksperimenku sendiri. Setiap kali aku mengonsumsi makanan yang sebenarnya sudah berusaha kuhindari, selalu ada respons: entah tenggorokan terasa tidak nyaman, perut bereaksi, atau suasana hatiku berubah sepanjang hari.

Kini aku memahami respons-respons itu sebagai alarm—peringatan keras dari tubuhku sendiri. Sebuah pengingat bahwa ada batas yang seharusnya kujaga, dan bahwa setiap kali aku melanggarnya, tubuh memberontak. 

Food is the medicine. You are what you eat.
Ungkapan-ungkapan yang sering kudengar itu ternyata benar adanya. Bukan sekadar slogan tanpa makna. Dunia telah membuktikannya, dan lebih dari itu—aku sendiri telah mengalaminya.

Kesehatan tidak pernah menjadi milik mereka yang menyembarangkan kesehatannya. Ia lahir dari pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap hari, dari kesadaran untuk merawat tubuh dengan lebih bijak, dan dari kemauan untuk belajar menghargai diri sendiri.

Melalui penyakit ini, aku merasa Allah memberiku kesempatan hidup kedua—kesempatan untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih baik. Sesuatu yang patut kusyukuri, karena aku telah berhasil melewati masa-masa berat yang bisa saja merenggut nyawaku jauh lebih cepat.

Lima tahun lalu, aku merasa baru saja sembuh. Ketika menoleh kembali ke masa-masa itu, aku masih sering sulit percaya bahwa aku mampu melewatinya dan keluar sebagai pribadi yang lebih utuh, lebih sadar, dan lebih memahami diri sendiri.

Karena bagi seorang penyintas, hidup bukan lagi tentang bertahan, tetapi tentang kepekaan untuk mendengarkan apa yang selama ini diabaikan.

Salam sehat ya untuk para pembaca tercinta. Semoga tulisan ini bermanfaat. Sakit itu berat, jiwa dan raga. Biar aku saja yang pernah mengalaminya.

Health is everything, without health everything is nothing