No Signal, No Flush, No Fuss: Surviving and Thriving in the Pamirs (Bagian akhir)

Pernak-Pernik Join-Trip: Antara Drama, Tawa, dan Pelajaran Hidup

Sebelum kita membahas urusan belakang, mari kita mulai dari urusan depan dulu, meja makan, maksudku. Ha! Foodwise, perjalanan dari Uzbekistan, Kirgizstan, hingga Tajikistan terasa seperti sajian kuliner yang berulang. 

Aneka hidangan khas yang kami cicipi mulai dari plov, nasi berbumbu seperti biryani yang populer di Uzbekistan; laghman, mi yang disajikan dengan kuah kental, daging, dan sayuran; manty, pangsit kukus berisi daging cincang; hingga beragam salad segar, Qurutob, dan buah yang melimpah. Ada juga Shashlik, sate daging yang sudah dimarinasi dengan aneka bumbu khas. Kalau di Indonesia, rasanya mungkin seperti sate maranggi, tapi shashlik disajikan dalam potongan yang lebih besar dan dibakar di atas arang hingga beraroma smokey yang menggoda. Enak! 

Kalau sedang bermalam di hotel, pilihan dan cita rasa makanannya tentu lebih beragam dan aman di lidah. Tapi lain cerita kalau sedang menginap di guesthouse, soal rasa jadi lebih subjektif. Hidangannya sederhana, bahkan sangat sederhana. Untuk sarapan, suguhan utama adalah telor ceplok dan sosis goreng. Sampai ada yang bilang takut bisulan karena makan telor tiap hari! Hanya bercanda sih! Sekembalinya toh ga ada yang lapor bisulan, ha..ha

Makan di hotel tentu banyak pilihan, foto satunya makan di guesthouse

Suatu hari, kami menginap di sebuah guesthouse yang letaknya sangat terpencil. Ternyata, pemilik guesthouse itu tidak tinggal di sana, dan pagi itu mereka datang agak kesiangan. Kalau harus menunggu mereka menyiapkan sarapan, kami bakal kesiangan juga. Tour leader (Agustinus Wibowo) mulai terlihat agak panik. Ketika dia  bilang: “Indomie?” Semua peserta bersorak dan bertepuk tangan kegirangan. Wah, Indomie memang pahlawan sejuta umat! Tanpa banyak cingcong, kami pun bergotong-royong memasak Indomie dan menyantapnya. Untungnya lagi, sambal andalan yang dibawa rombongan juga menjadi penyelamat selera. Cocolannya itu, lho, sampai roti patyr yang hambar, langsung jadi maknyuuuss! Jadi, kalau kamu berniat menjelajah Asia Tengah, satu tips penting ya: bawa sambal! Indomie and sambal are an absolute luxury.

Rame-rame masak indomieee…sementara foto satunya ehh…ada yang sedang menikmati indomie di padang belantara. Indomie tuh di sana sedapnya tiada tara!

Nah! Sekarang mari kita menengok urusan pertoiletan. Sejujurnya, sejak sebelum berangkat, aku sudah bisa membayangkan seperti apa kehidupan di desa-desa terpencil itu, terutama setelah membaca itinerary yang dibagikan. Jadi harus siap menghadapi tantangan apapun di depan mata! Tapi siapa sangka, ternyata kenyataan di beberapa tempat justru beyond my imagination!

Model dan kondisi toilet, lebih tepatnya “jamban” di beberapa tempat sangat menguji nyali! Wow!  Kawasan itu memang tertinggal, sih tapi apakah ini juga bagian dari kearifan lokal? Tentu, tak ada maksud menghina. Not at all! Hanya heran, bercampur takjub. Bahwa standar dan persepsi tentang kenyamanan memang bisa begitu berbeda. Mungkin, cara hidup di kawasan terpencil itu tak selalu bisa diukur dengan air mengalir dan harumnya pewangi toilet. Mungkin, di tengah aroma yang ‘unik’ itu, kita dituntut untuk belajar lebih dalam tentang adaptasi dan penerimaan, sebagai tamu di tanah orang.

Jadi begini ceritanya. Sebenarnya bentuk kamar kecilnya bisa di google, tapi ini cukup satu saja foto toilet (baca: jamban) di persinggahan, yang “paling bersih” di antara jamban-jamban di persinggahan lainnya. Selanjutnya aku akan deskripsikan saja ya.

Ada peserta yang bilang ini adalah jamban syariah. Ha ha! Jamban di tempat lain hanya satu koq, mungkin ini karena ada di samping tempat makan jadi dibuat dua. Bisa jadi pemilik warung takut kalau tamunya setelah makan banyak yang butuh ke jamban, jadi, barengan yuuk..:)

Sementara jamban di persinggahan yang lain. Bayangkan sebuah bangunan kecil dengan daun pintu kayu kadang tak bisa ditutup. Nah, kalau situasinya begini, harus ada peserta lain yang rela menjadi penjaga jamban ketika temannya sedang di dalam. Nah, di depan pintu itu kita harus sudah siapkan mental sebelum membukanya. Aroma khas langsung menyergapmu begitu pintu terbuka!

Toilet di salah satu persinggahan dekat border. Bisa lihat semua sudah ancang-ancang dengan memakai masker:)

Kuat mental? Masuk!
Di dalam bangunan mungil itu, ada lubang di tanah dengan dua pijakan kaki di atasnya. Sangat sederhana, tapi justru di situlah letak ujian hidup. Air? Nope! Tisu? Bawa sendiri! Pengharum? Apalagi. Flush? Bawa bidet atau Aqua botol!

Di dalam lubang itu… Stop! Jangan tengok ke dalamnya. Tak perlu cari tahu. Apalagi tanya-tanya ke orang lokal. Karena di sanalah, di atas lubang itu, kawan, kita akan merasakan hakikat perjuangan hidup yang sesungguhnya. Begitu sudah di dalam, kita harus melatih fokus pikiran bukan pada bau, tapi pada misi utama! Tapi percaya deh, semua drama hidup; drama kerjaan, drama rumah tangga, atau gebetan yang ternyata lebih melirik orang lain, mendadak terasa remeh bila sudah berada di dalam ruang sempit itu. Ketika memijakkan kaki di atas lubang itu, awas terperosok ke dalam, ya! Bisa runyam! Maka, badan harus seimbang, tahan napas, dan berdoa!  Merem kalau perlu biar semakin menghayati.

Fiuuh! Di dalam bangunan kecil itu kita akan merasakan bahwa urusan perut seakan menjadi latihan meditasi, kekuatan otot paha, dan spiritualitas tingkat tinggi. Tapi… setelah kita keluar dengan berhasil, rasanya tuh seperti naik level, menjadi petualang sejati! Jadi, petualang sejati itu tak diukur dari banyaknya stempel di paspor, tapi dari seberapa berani kita memasuki toilet di kawasan Pamir.

Namun toilet macam itu hanya di kawasan yang terpencil saja sih. Karena itu kalau menginap di tempat-tempat seperti itu, tak perlulah punya ambisi tinggi-tinggi. Turunkan harga diri, sedikit saja. Karena harga diri bisa juga tertinggal di jamban kalau kita marah atau menyumpah serapah setelah masuk kedalamnya. Lalu bila di penginapan, tak perlu rebutan kamar, minta yang dekat toilet karena berpikir kalau malam-malam ingin ke toilet ga perlu jauh-jauh. Eiiiit, tunggu dulu! Karena toilet di dalam bangunan yang bagus pun ternyata bisa menjebak! Pinginnya enak dekat toilet, ehhh, malah kalau malam angin pegunungan bisa membawa bau toilet menyusup ke dalam kamar melalui kisi-kisi pintu atau jendela. Celaka kan!  Kamar yang tadinya berasa surga bisa berasa jamban!

Setelah membaca tulisan ini jangan lantas menciutkan niat untuk mengunjungi Pamir ya! Percaya deh, semua perjuangan berat itu terbayar dengan pemandangan yang spektakuler, keelokan budaya, dan kehangatan penduduk lokal. Di guesthouse-guesthouse sederhana itu juga banyak pelancong-pelancong dari negara-negara lain yang singgah. Bersiap saja dengan segala keadaan tak terduga karena kondisi di guesthouse sendiri kadang ada yang hanya berbatas pintu yang begitu kita buka, di depan mata sudah berjajar kasur-kasur tempat para pelancong lain tidur. Atau malam-malam tiba-tiba melihat ada bule yang sudah kebal dengan hawa dingin itu bergentayangan mencari air atau sakelar lampu dengan hanya mengenakan sempak, misalnya. Jangan takut, mereka pelancong-pelancong yang tahu diri, hanya memang begitulah adanya. Tapi bukankah justru di situ letak menariknya sebuah perjalanan? 

Ok, begitulah kira-kira. Akhirnya, aku tutup tulisan tentang perjalanan ke atap dunia ini dengan satu ungkapan: “Semakin tinggi tempat yang kita datangi, rasanya semakin kecil kita di hadapan semesta.”

Perjalanan ke Pamir bukan sekadar tentang lanskap yang megah, langit yang biru jernih, atau toilet (baca: jamban) yang memaksa kita mempertanyakan pilihan hidup begitu berdiri di depannya. Namun adalah juga tentang menerima hal-hal yang tak nyaman dengan senyum, menemukan makna dalam kesederhanaan. In a place so remote, perhaps it’s not about what we expect,  but about what and how we learn to appreciate. Iya ga sih? 

Makan plov di Besh Cozon Central Asian Pilav Centre yang terkenal dengan masak plov di kuali raksasa itu. (Tashkent)

Terima kasih sudah membaca rangkaian catatan perjalanan ini!

“No signal, no flush, no fuss. In the Pamirs, forget five-star hotels! Just stars above and memories somewhere in between.”