What doesn’t kill you, make you stronger (#3)

Di bagian sebelumnya, aku sempat sekilas menyinggung tentang kuatnya dampak kemo terhadap “wellbeing”ku.

Kemo  aku jalani selama enam kali dengan rentang waktu tiga minggu per kemo. Jadi kalau misalnya minggu ini ada jadwal kemo, maka kemo berikutnya adalah tiga minggu kemudian. Begitu sampai kemo ke – 6.

Kemo pertama, seperti yang pernah aku ceritakan, belum begitu terasa dampaknya. Ketika pulang, dokter dan para perawatnya pesan bahwa aku harus melawan bila ada rasa mual datang. Tetapi rasa mual itu belum aku rasakan. Nafsu makanku normal dan aku berusaha menambah asupan makanku, mumpung tidak mual, pikirku. Maka berat badanku pun bertambah, he..he…Aku terlihat lebih montok, dan mulai merasakan beban berat badanku. Tinggiku 157 cm. Berat badanku Ketika itu mencapai 64 kilogram. Kebayang kan? Semua bagian tubuh membesar termasuk paha

Setelah kemo kedua, rambutku mulai rontok. Rambut berguguran di manapun aku berada. Di lantai ruang tamu, di dapur, di kamar mandi, di mana-mana banyak sekali rambut. Apalagi begitu selesai keramas dan  ketika menyisir rambut, sisir dipenuhi oleh ribuan helai rambut yang lepas begitu saja dari kulit kepalaku. Aku pun mulai mengoleskan minyak kelapa atau minyak kemiri setiap hari sesering mungkin. Harapanku, semoga rambutku akan segera tumbuh lagi.

Aku botak, benar-benar botak setelah selesai kemo ketiga. Ketika itu, bermacam-macam reaksi yang aku terima dari anak-anak dan orang-orang terdekatku. Kaget, sedih, lucu, kasihan, tidak tega, suportif, empati, simpati, entah apa lagi. Semua aku terima dengan lapang dada. Terserah apalah. Aku yang mengalami dan aku yang merasakan, kataku pada diri sendiri. Tetapi tentu aku sangat mengerti mengapa reaksi bisa berbeda-beda.

Seusai kemo kedua, rasa mual mulai datang. Sedihnya, mual datang justru ketika aku harus makan makanan yang paling dianjurkan agar pengobatan bisa efektif. Ikan, ayam, daging, dan sayur-sayuran, khususnya brokoli. Indra penciumku seperti begitu tajam sehingga bau-bauan ikan, ayam brokoli tercium kuat dan menyengat yang memicu mual. Di sini rupanya perjuangan itu. Aku harus makan banyak protein agar obat kemo yang sudah masuk ke dalam tubuhku bekerja dengan efektif. Bila asupan protein kurang, semua usaha pengobatan sepertinya akan sia-sia saja. Begitu pesan dokter setiap kali selesai kemo.

Namun apa dikata. Setiap waktu makan ibarat pergi ke medan perang. Makanan di depanku lama aku biarkan dan aku pandangi saja. Setiap akan menelan sesuap apapun itu, yang berupa protein dan sayuran, rasa mual tak tertahankan. Indra pengecapku pun tidak bekerja. Semua masakan terasa hambar. Kecuali jenis makanan karbohidrat. Kalau jenis ini gampang sekali aku menelannya. Masalahnya aku tidak boleh terlalu banyak mengosumsi karbo. Serba salah kan. Harus makan protein, tetapi tidak sanggup menahan mual. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melewati semua ini? Kataku saat itu.

What doesn’t kill you, make you stronger. Aku tidak mau menyerah dengan situasi yang berat itu. Aku searching di dunia maya untuk mencari jalan keluar. Akhirnya pencarianku di Google menemukan nama merek susu yang khusus diperuntukan bagi pasien kanker dan ternyata banyak yang merekomendasikan. Harganya lumayan mahal karena memang bukan susu biasa. Susu tinggi protein yang dikonsumsi untuk menambah protein. Tanpa pikir Panjang aku pun membelinya. Aku harus sembuh. Tekatku.

Tetapi ternyata, minum susu pun sama berat perjuangannya. Tetap mual. Minum satu gelas adalah sebuah perjuangan yang disertai dengan doa-doa  Tetapi karena susu  berbentuk cairan,  lebih mudah caranya untuk masuk ke dalam tubuhku karena aku tidak perlu mengunyah terlebih dahulu. Jadi cairan itu hanya lewat di mulut.

Akhirnya aku menemukan cara lain untuk melawan mual. Bermacam empon-empon pun menjadi menu minuman harianku. Jahe, kencur, kunyit, temulawak, serai, cengkeh, kayumanis. Akun seduh dan minum sebelum makan. Bisa membantu sih, tetapi tidak banyak alias rasa mual tetap berjaya.  

Perjuangan berat untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuh terus berlangsung hingga kemo keenam. Terkadang aku lelah sekali menghadapi situasi yang ibarat “hidup segan mati tak mau” itu. Benar-benar jangan ada yang merasakan, biarlah aku saja.

Di saat-saat berat seperti ini dukungan moril dari orang-orang terdekat begitu berarti. Berbagai emosi campur aduk ketika anakku marah, misalnya. Dia marah (dalam arti memotivasi) ketika aku pernah menyerah dan tidak mau makan sama sekali. Aku menangis melihat matanya berkaca-kaca dan dengan suara bergetar  menyuruh aku untuk tetap berusaha makan. Permintaannya seakan mengandung pesan “Ibu harus kuat, Ibu tidak boleh menyerah!”

Oh ya, ada yang hampir terlupa. Setelah kemo keempat ada perubahan lain di bagian tubuhku yang perlahan mulai terlihat. Tetapi hal ini nanti aku ceritakan di bagian selanjutnya saja ya. Di bagian ini, sambil menulis  air mataku sempat meleleh karena teringat akan drama-drama yang sudah aku lewati. Maka aku cukupkan bagian ini di sini. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan! Chao!

Ayu – Nov 19, 2022