Belum banyak yang mengetahui tempat apa yang tersembunyi di balik pegunungan Pamir yang menjulang megah, padang stepa tak bertepi, dan batas-batas negara yang seperti digaris ulang oleh sejarah. Asia Tengah bukanlah destinasi yang lazim tertera di brosur wisata, apalagi wisata-wisata yang cantik manja. Tempat-tempat ini tidak menawarkan kenyamanan ala kota besar atau kemewahan ala hotel bintang 5.
Perjalanan menelusuri Jalur Sutra dan melintasi kawasan pegunungan Pamir bukan sekadar lintasan batas geografis dari Uzbekistan, Kirgizstan, hingga Tajikistan, tetapi adalah sebuah lintasan uji nyali kita untuk membaur dengan kebersahajaan, sisi lain dari dunia kita yang mapan. Jalanan berdebu, berbatu, terjal, dan berliku, berlingkup gunung-gunung yang setiap saat bisa saja runtuh menimpa mobil-mobil yang melintas adalah sisi dunia yang selama ini tersembunyi di balik hiruk pikuk destinasi populer. Inilah “the road less travelled”, jalur yang tak banyak dipilih.
Di hari ke-7, rombongan mulai menuju arah pegunungan Pamir di wilayah Tajikistan, negeri di atap dunia, negeri yang memeluk langit. Di sinilah Pegunungan Pamir, yang dijuluki The Roof of the World, membentang luas, membentuk lanskap yang seolah tak tersentuh oleh waktu. Papan-papan nama dengan huruf Kiril terlihat di pinggir jalan memberikan panduan.




Berhubung di sepanjang perlintasan itu terdapat wilayah-wilayah khusus karena statusnya yang istimewa dan sejarahnya yang sensitif, maka pemerintah Tajikistan menerapkan pengawasan yang ketat terhadap siapa pun yang masuk ke wilayah-wilayah ini, termasuk wisatawan. Wilayah-wilayah itu adalah Pamir Highway, Khorog, Murghab, Langar, Ishkashim, Danau Karakul, dan Wakhan Valley/Wakhan Corridor. Wilayah-wilayah ini terkenal liar dan indah, namun juga ekstrem dan terisolasi.
Karena akses terbatas dan minimnya infrastruktur, pemerintah Tajikistan ingin memastikan bahwa setiap pengunjung dipantau dan dapat segera ditolong jika terjadi keadaan darurat, termasuk masalah keamanan. Wilayah-wilayah ini berbatasan langsung dengan Afghanistan, Cina, dan Kirgizstan, tiga negara yang mempunyai dinamika geopolitik tersendiri. Untuk alasan keamanan dan stabilitas, pemerintah perlu mengetahui dan mencatat semua orang yang melintasi kawasan ini.
Maka meskipun kita berasal dari negara yang bebas visa sekalipun, kita tetap wajib mempunyai ijin GBAO (Gorno-Badakhshan Autonomous Oblast) atau daerah propinsi otonom. Konon di wilayah ini sering terjadi konflik antara tentara Tajikistan dan militan Islam. Maka jangan heran bila di sepanjang perjalanan, banyak tentara perbatasan bersenjata tiba-tiba muncul dari balik bukit atau menyembul dari atas gunung mengawasi setiap kendaraan yang melintas.



Sempat terjadi sesuatu yang mendebarkan dalam perjalanan rombongan kami. Ketika di perbatasan Kirgizstan – Tajikistan, ada satu supir kami yang tidak boleh memasuki wilayah Tajikistan dengan alasan ada dokumen tertentu yang menurut tentara yang sedang bertugas itu tidak sesuai. Namun, ada satu supir lain, yang sepertinya sudah begitu menguasai permasalahan perbatasan dua negara yang rawan konflik itu. Dari dalam mobil kami menyaksikan supir tersebut seperti sedang bernegosiasi keras, mengusahakan agar dua rekannya tetap bisa melintas. Namun sepertinya tentara tetap berkeras sehingga Agustinus, salah satu penumpang dari mobil tersebut terpaksa turun dan juga menurunkan semua barang dan kopernya untuk pindah ke mobil lain.

Pemeriksaan di perbatasan
Namun, ketika Agustinus sudah pindah kebetulan ke mobil yang aku tumpangi, tiba-tiba sang tentara membolehkan kami semua melintas dengan syarat mereka harus ikut dalam mobil sampai di perbatasan berikutnya. Jadilah tiga orang tentara, masing-masing duduk di samping supir di setiap mobil. Lima mobil lainnya sudah lolos terlebih dahulu, ini adalah tiga mobil yang berada di urutan belakang. Fiuuuh!

Dikawal tentara di perbatasan
Konvoi mulai memasuki negara Tajikistan. Negara dengan lingkup geografis yang ekstrim, salah satu negara yang paling bergunung-gunung di dunia, konon 93% wilayahnya berupa pegunungan, yang sebagian besar tandus dan kering. Pegunungan yang memisahkan Tajikistan dari negara tetangga: Kirgizstan di utara, Uzbekistan di barat, Afghanistan di selatan, dan Tiongkok di timur.
Di lereng pegunungan itu mengalirlah sungai utama Amu Darya, Panj, dan sungai-sungai lain yang mengalir dengan arus yang deras sekali. Yang menarik, bila kita menyusuri tepian sungai Amu Darya ini, di sisi seberangnya kita bisa menyaksikan wilayah Afghanistan. Beberapa desa kecil dengan rumah-rumah batu bisa terlihat jelas menunjukkan kemiskinan dan keterbatasan yang memiriskan hati. Bahkan kami juga mendapati serombongan warga Afghanistan yang sedang mengendarai onta dan kuda dengan pakaian khas tradisional mereka. Menurut Agustinus mereka ini adalah etnis Wakhi yang akan pergi menggembalakan ternak atau mungkin pergi ke ladang.



Tajikistan adalah sumber air yang memberi kehidupan bagi lembah-lembah kering dan tandus di sekitarnya. Tajikistan juga memiliki banyak danau spektakuler, terutama karena letaknya yang bergunung-gunung. Banyak dari danau ini berada di ketinggian, terbentuk dari gletser, tanah longsor, atau aktivitas tektonik. Beberapa danau yang memukau itu adalah Karakul, danau terbesar di Tajikistan letaknya di Murghob, Bulunkul di perlintasan Pamir Highway, Yashilkul (dekat Langar), Iskander-kul (di barat laut Dushanbe).




Akhirnya, setelah menempuh perjalanan terjal nan panjang, kamipun tiba di danau Murghob. Malam itu kami singgah dan beristirahat di sebuah guesthouse di dekat danau Karakul, permata biru yang terhampar sunyi di ketinggian lebih dari 3.900 dpl. Di luar, udara dingin menusuk kulit. Angin dari pegunungan Pamir bertiup kencang, membawa suara-suara alam yang mistis. Namun di dalam guesthouse sederhana itu, kami bertemu dengan beberapa pelancong bermotor yang juga singgah sejenak.
Karakul artinya adalah “danau hitam”, meskipun sekilas warnanya tak nampak hitam, namun bila mendekat, airnya tampak legam. Rombongan yak berbaris dan berlari-lari kecil di tepi danau menuju ladang rumput. Tak ada hiruk-pikuk kehidupan kota, hanya sunyi dengan rumah-rumah kotak yang bagai tak berpenghuni. Karakul menyimpan sejuta cerita yang membentang luas membuncah di bebatuan yang bisu.



“Where the road ends and the mountains rise, Karakul cradles the traveler in quiet wonder”.
Bagian berikutnya tentang desa unik Murghob dan Alichur. Stay tune!


