Marhaban Ya Ramadhan! Bulan puasa kembali hadir, umat Islam pun bersuka ria menyambutnya. Meskpun sebagian sudah ada yang berpuasa sejak kemarin, tetapi inilah khasanah keragamaan di bumi Indonesia.
Beberapa waktu yang lalu, saya menonton salah satu YouTube Channel milik Sadhguru selain karena saya memang suka dengan pandangan-pandangannya, saya tertarik dengan penjelasannya tentang manfaat puasa, khususnya bagi kesehatan. Karena Sadh Guru bukan seorang muslim, puasa yang dimaksudkan dalam bahasannya adalah puasa intermittent fasting. Buat muslim, puasa Senin-Kamis, puasa Ramadan adalah juga jenis intermittent fasting, yang jendelanya adalah within a week or a year, sementara kalau intermittent fasting biasanya antara 8 – 12 -14 – 16 , atau 18 jam within a day. Bahkan ada yang lebih.
Ibarat mesin, tubuh kita ini butuh direparasi agar tetap berfungsi dengan baik. Tubuh kita ini ibarat mesin yang hidup karena proses metabolisme tak pernah berhenti. Proses metabolisme berkaitan dengan proses pencernaan (digestive process). Ada empat tahapan dalam proses ini, yaitu: (1) ingestion, yaitu memasukkan makanan ke dalam tubuh (intake). (2) digestion, (3) assimilation, dan (4) excretion.
Ingestion bisa terjadi kapan saja, di mana saja, tidak peduli sedang duduk, berdiri, siang atau malam. Kita makan, terus makan, meskipun sedang tidak lapar. Bahkan terkadang keputusan untuk makan seperti ditentukan oleh tangan kita (bukan kesadaran kita), di mana saja ada makanan, comot sana, comot sini. (Ketika mendengar bagian ini saya sih manggut-manggut:), it’s so related! Makanan berlimpah, ada di mana-mana, sayangnya tidak semua orang tahu kapan boleh makan dan kapan mestinya tidak boleh makan. Sementara kalau kita berbicara waktu, kita tahu bahwa waktu itu ada siklusnya. Planet berputar, satu putaran kita bilang satu hari. Bulan berputar, kita bilang satu bulan. Dan bumi kita mengelilingi matahari, kita mengenalnya dangan satu tahun. Jadi waktu adalah siklus. Kelahiran, kematian sebenarnya adalah siklus kehidupan. Jadi keberadaan kita secara fisik adalah siklus. Sementara proses spiritual (karena tubuh kita terdiri dari jiwa dan raga) tidak bersifat siklus.
Siklus adalah berputar. Gerakan berputar akan kembali dari awal ke titik awal, yang pada hakekatnya adalah tidak pergi kemana-mana, berputar-putar saja. Tubuh kita adalah siklus dan siklus ini berhubungan dengan siklus planet, siklus bulan, siklus matahari, dan lain-lain. Kalau kita benar-benar sadar, kita pasti tahu kapan tubuh kita benar-benar butuh makanan dan kapan tidak. Semua makhluk hidup mengetahui siklus ini, ironisnya manusia banyak yang terlena dan lupa. Kucing, anjing, dan binatang-binatang peliharaan lain tahu kapan meraka butuh makan dan kapan mereka tidak mau makan. Ingestion atau memasukkan makanan ke dalam tubuh adalah proses yang disadari, ingestion is continuously, even sometimes compulsively happening. Namun tidak demikian dengan digestion dan excretion.
Digestion terjadi bukan hanya di perut tetapi melibatkan proses pencernaan secara menyeluruh (alimentary canal or digestive track). Demikian juga dengan proses asimilasi. Sementara itu excretion tidak terjadi hanya di saluran pencernaan, tetapi terjadi di semua bagian tubuh. Karena secara fisik kita bersifat siklus, makanan yang kita makan dalam beberapa waktu akan menumpuk, maka kita butuh proses pembersihan, bila tidak maka sisa makanan yang menumpuk ini akan menjadi penyakit. Proses pembersihan ini adalah bagian penting untuk memberikan masa “rehat” pada ingestion. Tidak seperti proses-proses pencernaan yang lain (digestion, assimilation, dan discretion) yang terus bekerja tanpa kita sadari, ingestion adalah proses yang disengaja, I eat when I want to eat. Karena ingetsion adalah proses yang kita sadari maka ada beberapa metode agar proses ingestion menjadi proses yang baik, salah satunya adalah dengan berpuasa.
Maka puasa adalah latihan untuk mendisiplinkan proses ingestion. Bila latihan ini kita kerjakan dengan baik maka keinginan untuk makan menjadi berkurang. Selanjutnya kita pun akan menyadari bahwa energi tidak hanya didapat dari makanan, tetapi juga dari matahari, air, dan udara. 60 atau 70% energi dalam tubuh kita berasal dari ketiga unsur ini. 40% nya adalah dari makanan.
Puasa sebagai suatu proses harus dijalani dengan pemahaman yang benar. Sementara digestion, ketika makan, jangan pernah makan dan minum dalam waktu yang bersamaan. Karena itu ketika berbuka puasa kita dianjurkan untuk minum dulu, beberapa saat kemudian baru makan. Makanan yang kita kunyah sebenarnya sudah mengandung air yang membantu sistem pencernaan. Bila makanan tersebut kita gerojok dengan air, maka makanan akan berdiam lama di perut. Padahal disarankan makanan yang kita makan tidak boleh bertahan lebih dari dua setengah jam di dalam perut yang artinya setelah waktu tersebut, makanan itu akan berpindah ke bagian-bagian lain dalam tubuh. Kalau makanan itu tinggal terlalu lama dalam perut, yang terjadi adalah kita ngantuk, lesu, dan tak bertenaga. Tahu kenapa kebanyakan orang ngantuk setelah makan? Jadi seperti mobil yang baru diisi bensin tetapi tidak bisa dijalankan. Jadi pastikan proses pencernaan berjalan dengan baik, karena isi perut adalah sumber dari segala macam penyakit! Apa yang kita makan dan bagaimana kita makan.
Bagaimana kita makan? Berpuasa adalah salah satu cara untuk memberikan rehat “a break” untuk digestion and assimilation process dalam tubuh kita sehingga “excretion” bisa terjadi dengan baik di semua bagian tubuh kita. Tugasnya adalah mengeluarkan semua kotoran. Make sense?
Catatan di awal Ramadan 2024
