Dua hari lagi Ramadan tiba. Tak terasa. Waktu begitu cepat berputar, rasanya belum lama kita merayakan tahun baru. Eh, bulan puasa sudah di depan mata.
Ramadan tiba berarti musim mudik menjelang segera, mal ramai dengan pebelanja yang membelanjakan uang THR mereka, penjaja kue kering menawarkan dagangannya, berbagai rupa hampers dipajang, dan lain lain kemeriahan.
Memang selalu ada sesuatu yang berbeda ketika bulan ini tiba.
Di dunia di mana keseharian kita terbiasa dengan bergerak cepat, makan sambil bekerja, sambil mengecek email, sambil scrolling, minum kopi tanpa jeda, dan camilan di antara jam makan utama. Kehadiran Ramadan seperti tombol pause yang kita tekan.
Ramadan selalu setia mengingatkan bahwa tubuh kita pun butuh istirahat. Bukan hanya jiwa penat kita yang membutuhkan rehat, tetapi tubuh kita, kendaraan kita dalam mengarungi hidup ini, ibarat mesin, butuh jeda beberapa jam untuk tidak bekerja.
Tengok sistem pencernaan kita yang bekerja setiap hari, tanpa henti. Dari pagi hingga malam, ia mencerna, menyerap, mengolah, dan menyimpan. Bahkan saat kita tidur, ia masih sibuk menyelesaikan tugasnya.
Kita jarang memberi kesempatan bagi tubuh kita untuk benar-benar berhenti.
Bulan puasa mengubah semua itu.
Menurut para ahli yang sering berbicara tentang intermitten fasting atau tentang puasa pada umumnya. Mereka bilang bahwa ketika kita menahan makan dan minum, tubuh kita perlahan beralih dari “mode mencerna” ke “mode memperbaiki.” Energi yang biasanya digunakan untuk memproses makanan mulai dialihkan untuk membersihkan sel-sel lama, memperbaiki jaringan, dan membakar cadangan lemak sebagai sumber energi.
Banyak orang menyebutnya dengan istilah detoks. Sementara ilmu menyebutnya dengan autophagy.
Proses ini terjadi begitu halus, tidak ada suara berisik pembersihan atau tanda-tanda apa gitu dalam tubuh kita. Namun pelan-pelan tetapi pasti, sesuatu berubah.
Perut terasa lebih ringan, nyaman. Pikiran terasa lebih jernih, tenang. Rasa lapar seakan mengajarkan pada kita untuk mendengarkan tubuh kita.
Tubuh kita ini juga terkenal cerdas, untuk yang menyadarinya. Karena ia tahu cara menyembuhkan dirinya sendiri.
Namun, puasa bukan sekadar menahan diri sepanjang hari, lalu ketika saat berbuka tiba kita membalasnya dengan makanan berlebihan. Berbagai makanan kita kumpulkan sebelum buka puasa tiba…ha..ha! Teringat pada masa kanak-kanak, ketika saya duduk saja di meja bersama kakak untuk menunggu suara adzan tiba, ha! Begitu suara beduk berbunyi, tangan pun sigap mengambil ini, itu, melahap semua makanan yang terhidang, atau yang dikumpulkan sejak siang. Inilah balas dendam.
Namun sadarkah kita justru kebiasaan seperti itu merusak makna dan manfaat berpuasa itu sendiri.
Jika kita ingin Ramadan menjadi momen reset, momen sehat yang menyehatkan, maka pilihan kita adalah saat sahur dan berbuka. Dua waktu ini adalah bagian penting dari proses itu. Memang berat, pasti berat, untuk yang belum terbiasa dan belum terlatih menahan hawa nafsunya.
Puasa menciptakan ruang kosong — dan di ruang kosong itu, kita mulai mendengar tubuh sendiri dengan lebih jelas.
Di tengah perihnya perut yang kosong setelah berpuasa seharian, mari kita bertanya:
Makanan apa yang sebenarnya aku butuhkan untuk perut yang telah kosong sekian lama?
Setelah seharian menahan lapar dan haus, tubuh kita berada dalam kondisi yang berbeda. Lambung kita tidak bekerja sejak fajar. Tetapi asam lambung tetap diproduksi, meskipun tidak ada makanan yang masuk. Energi perlahan diambil dari cadangan yang tersimpan, ini yang tadi disebut dengan autophagy.
Maka ketika azan magrib berkumandang, wajar sekali kalau yang paling sering terjadi adalah dorongan untuk membalas semuanya sekaligus.
Ternyata perut yang kosong seharian tidak siap menerima kejutan besar dengan tiba-tiba.
Berbuka puasa bukan lomba adu cepat tetapi adalah proses menghidupkan kembali sistem pencernaan tubuh secara perlahan.
Rasulullah Nabi kita Muhammad SAW menganjurkan untuk memulai dengan yang manis, terutama kurma.
Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa beliau berbuka dengan kurma segar (ruthab), jika tidak ada maka dengan kurma kering, dan jika tidak ada juga, maka dengan air putih saja. Mengapa kurma? Ternyata kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa yang cepat mengembalikan energi tanpa membuat sistem pencernaan “kaget”. Sementara air menghidrasi kembali tubuh yang telah kehilangan cairan.
Kemudian tubuh kita beri jeda beberapa menit, dengan menjalankan sholat magrib. Kita biarkan tubuh kita menyadari bahwa makanan sudah kembali datang. Perintah kepada lambung untuk bersiap. Lambung kita sapa perlahan. Bayangkan jika lambung yang seperti mesin yang telah berhenti bekerja selama berjam-jam, tiba-tiba kita masukkan makanan berat, gorengan berminyak, minuman dingin dan manis, atau kopi pekat. Wohooo! Tubuh kita pasti “kaget”.
Maka berbagai masalah malah bermunculan setelah berbuka puasa. Ini karena perut yang kosong lebih sensitif terhadap lemak berlebih, gula tinggi, dan makanan pedas. Akibatnya, perut begah, kembung, bergas, asam lambung naik, kadar gula darah melonjak….alamak! Tentu bukan ini yang kita kehendaki.
Tujuan puasa, jika dijalani dengan benar, adalah menghadirkan kesehatan, bukan?
Kesehatan tubuh, karena ia diberi waktu untuk beristirahat, membersihkan, dan memperbaiki diri.
Kesehatan pikiran, karena ia dilatih untuk lebih sabar dan sadar.
Kesehatan hati, karena ia diajak kembali untuk merasa cukup dan bersyukur.
Kesimpulannya, puasa menjadi menyehatkan ketika kita:
- Berbuka dengan bijak, bukan berlebihan.
- Memilih makanan yang memberi nutrisi, bukan sekadar suka rasa dan ingin memakannya.
- Mendengarkan tubuh, bukan menuruti nafsu berlebihan.
- Menjaga keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan fisik.
Ramadan adalah kesempatan tahunan untuk kita melakukan reset. Namun reset itu hanya terjadi jika kita menjalaninya dengan benar dan sadar.
Puasa yang dijalani dengan benar bisa membantu menurunkan kolesterol, menstabilkan gula darah, dan mengurangi peradangan. Puasa juga menata ulang kebiasaan kita.
Semoga Ramadan kali ini menjadi bulan yang bukan hanya mendekatkan kita kepada Allah, hamba-Nya, tempat kembali kita semua, tetapi juga mendekatkan kita pada tubuh yang lebih sehat. Siapa pula yang tak mau bertubuh sehat?
Selamat berpuasa!
