Berdamai dengan masa lalu

Semua orang mempunyai masa lalu. Masa lalu yang baik, masa lalu yang buruk, manis, dan pahit getir kehidupan adalah satu paket dalam perjalanan kehidupan setiap insan manusia. Masa lalulah yang menjadikan kita seperti kita sekarang ini. Baik, buruk, bahagia, menderita adalah relatif karena semua tergantung bagaimana kita menjalaninya. 

Masa lalu adalah pilihan-pilihan perbuatan yang pernah kita putuskan untuk melakukannya. Mungkin ketika kita memutuskan sesuatu di masa lalu itu keadaan kita belum sematang dan sebijaksana sekarang sehingga bisa jadi keputusan-keputusan yang pernah kita ambil itu justru menyebabkan kegagalan dan penderitaan. Bila demikian maka kitapun lalu menyebut masa lalu yang penuh kegagalan, kesalahan, dan penderitaan adalah masa lalu yang berat dan kelam. 

Namun di sisi lain banyak juga orang yang masa lalunya wajar-wajar saja. Semua yang direncanakannya mulus, berjalan lancar tanpa aral melintang. Mungkin orang-orang ini sejak di masa lalunya adalah memang orang-orang yang beruntung atau memang sudah memiliki kepribadian yang dewasa dan matang sehingga semua keputusan yang diambilnya di masa lalu membuat masa depannya cemerlang. 

Mumpung masih di bulan Januari, aku ingin menuliskan renungan tentang masa laluku sendiri. Sebagaimana yang diinginkan semua orang, aku juga selalu ingin menjadi orang yang lebih baik, dalam hal apapun. Masa lalu selalu mengajarkan banyak hal dan tak ada kata terlambat bagi siapapun untuk selalu menjadi yang terbaik versi dirinya yang sejati. 

Masa laluku boleh dibilang cukup berat. Sejak usia muda aku sudah merasakan masa lalu yang tidak mudah. Di usia remaja aku terpisah dari orang tuaku untuk hidup bersama keluarga salah satu kakakku di kota. Terlahir dan besar sebagai anak “desa” tidak mudah bagiku saat itu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan dan pergaulan remaja-remaja kota besar, terlebih aku seorang yang “introvert” dan cenderung konvensional dalam banyak hal. Bila aku renungkan kembali, masa remajaku itu adalah masa-masa awal yang membentuk siapa diriku di tahun-tahun setelah itu. Kemudian di usia awal dewasa muda (SMA) aku harus kembali ka kampung halamanku lagi. Lingkungan dan pergaulan kembali berubah, perubahan-perubahan signifikan yang membuatku tumbuh menjadi wanita muda yang terus mencari identitas diri. 

Kemudian selepas SMA aku sendiri memutuskan di mana untuk kuliah dan jurusan apa yang aku inginkan. Orangtuaku adalah orang tua sederhana, seorang petani dan pemimpin desa yang selalu menyemangati anak-anaknya untuk bersekolah setinggi-tingginya. Mereka bekerja keras tanpa lelah demi bisa membiayai anak-anaknya sekolah agar mempunyai masa depan yang lebih baik dari mereka, pastinya. Karena itu orang tuaku mempercayakan sepenuhnya padaku pilihan apapun yang aku ambil. Sebuah cara mendidik yang sangat menumbuhkan tanggung jawab menurutku. 

Sehingga ketika aku memutuskan untuk menikah seusai kuliah. Orang tuaku merestui saja siapa laki-laki yang ketika itu aku pilih menjadi suamiku. Meskipun ketika beberapa bulan sebelum pernikahan aku bisa merasakan sebenarnya Bapakku sempat menunjukkan sikap kurang setuju dengan laki-laki yang aku pilih saat itu karena ketika itu dalam pandangan keluargaku ada sisi kepribadian calon suamiku yang kurang bisa mereka terima. Tetapi ketika itu, benar seperti kata banyak orang, cinta bisa membutakan segalanya, aku buta dan tak bisa melihat sisi buruk yang keluargaku lihat dan rasakan. Aku berkeras dengan tekatku. Orang tuaku tetap memberikan restunya. Betapa orang tua yang sangat baik dan bertanggung jawab Bapakku dan kesadaran itu semakin aku rasakan ketika lima tahun setelah itu pernikahan aku gagal.

Kegagalan dalam pernikahan membuat catatan perjalanan berat dan panjang selama bertahun-tahun kemudian. Beban seakan bertambah berat karena aku selalu menyimpan kemarahan dan merasa diperlakukan tidak adil dalam kehidupan ini. Saat itu aku marah dan kemarahan itu aku tujuan pada Tuhan. Kenapa? Kenapa harus aku? Teriakku ketika itu. Dan beban yang berat itu begitu menyesak dan menyakitkan karena sejak perceraian itu mantan suamiku boleh dibilang kurang peduli dengan biaya tumbuh kembang dan biaya sekolah kedua anaknya, bukan karena dia tidak mampu tetapi karena dia memang tidak mau. 

Perjalanan panjang nan berat itu aku lalui sendiri dengan dukungan keluarga tentunya. Keluarga besarlah yang tiada henti memberikan kekuatan. Tiada orang yang lebih luar biasa dalam membantuku berdiri dalam keterpurukanku di masa-masa berat itu kecuali keluargaku. Keluarga yang pernah aku kecewakan karena aku pernah mengabaikan nasihat-nasihat mereka, keluarga yang tetap menerima aku kembali dengan penuh kesabaran. Melihat perjalanan ke belakang aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas semua kebaikan itu. Betapa aku bersyukur karena terlahir dari orang tua yang tangguh dan berasal dari keluarga yang diberkahi dengan kebaikan. 

Kini aku sadar bahwa aku terlalu banyak menyimpan amarah pada masa laluku, terutama pada kegagalan pernikahanku. Benar orang mengatakan bahwa hanya orang yang kau cintai yang bisa melukai hatimu. Cintaku pada bapaknya anak-anakku sangat besar, suci dan agung hingga sulit untuk kupercaya bahwa semua keagungan itu bisa runtuh dalam waktu sekejap saja, merenggut semua kebahagiaan yang aku impikan. Aku terlalu lama menyimpan dendam dan amarah dan itu membuat diriku begitu menderita. 

Saatnya aku melepaskan semua kemarahan itu. Balas dendam yang terbaik adalah dengan berbuat yang lebih baik dan terbaik. Dan aku sudah melakukannya. Kemarahan itu hanya merugikan diriku sendiri karena kemarahan itu adalah beban perasaan yang mengendalikan  emosi. Aku harus belajar berdamai dengan masa laluku. Aku belajar untuk ikhlas menerima bahwa semua yang telah terjadi adalah takdir hidupku. Aku tidak menyalahkan Allah Tuhanku lagi, dan aku juga tidak menghakimi diriku lagi. Magic does it! Aku merasa lebih damai.

Pelajarannya adalah kita bebas menentukan pilihan dalam hidup tetapi kita tak bisa terlepas dari konsekuensinya di kemudian hari. Don’t let your pain get you down too long. The sooner you heal yourself the better your well-being will be. Trust me! 

Renungan tahun baru, Januari 2023, @Home by the Garden