Pernak-Pernik Join-Trip:  Antara Drama, Tawa, dan Pelajaran Hidup (Bagian 1 dari 3 tulisan)

Setiap perjalanan mempunyai cerita. Dan setiap orang membutuhkan figur sosok teladan. Semua itu terangkai dalam cerita perjalanan yang indah. Terlebih bila perjalanan itu kita lakukan dengan orang-orang yang sebagian besar atau mungkin semuanya belum kita kenal. Kita seperti dihadapkan pada cermin besar yang memantulkan banyak wajah dan karakter, ada yang cepat akrab, ada yang pendiam sekali, ada yang selalu ceria, ada pula yang penuh kejutan. 

Perjalanan semacam ini bukanlah sekadar menjelajah tempat-tempat baru, tetapi juga tentang pelajaran hidup yang bisa kita petik dari interaksi dengan sesama pejalan. Toleransi, kesabaran, pengertian, dan rasa syukur sering kali tumbuh terpupuk  tanpa disadari saat kita berbagi ruang, waktu, dan cerita dengan orang-orang yang tadinya asing, tapi perlahan menjadi seperti teman bahkan keluarga dalam perjalanan.

Peserta trip, usia beragam, waktu yang menyatukan.

Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi beberapa hal yang sangat berkesan selama mengikuti trip ke atap dunia di bulan Juni lalu. Hal-hal yang sangat berharga untuk dikenang sebagai “life lessonsthat we never learn at school or just by reading a book. 


Sosok yang menginspirasi
Di antara para peserta rombongan ini, ada satu sosok yang mencuri perhatian sejak awal, seorang perempuan yang tahun ini genap berusia 82 tahun! Saat beliau menyebutkan usianya itu, hampir semua peserta, yang belum mengenalnya tentunya, ternganga dengan raut tak percaya. Wajahnya cantik alami dihiasi rambut yang semua memutih. Namun tubuhnya tegap dan langkahnya mantap. Sorot matanya memancarkan semangat hidup yang menyala, seolah siap menaklukkan jalur-jalur pegunungan yang curam sekalipun. Sosok itu menjadi inspirasi yang menghidupkan suasana. Beliau adalah Hermandari Kartowisastro, yang kami panggil dengan sebutan akrab Budhe Ndari.

Ketika aku mencari namanya di Google (silakan pembaca search juga bila ingin mengenal lebih jauh tentang beliau), ternyata sosok ini cukup populer. Beberapa media telah mengulasnya sebagai figur yang tak asing lagi di dunia fotografi dan sering mengadakan pameran hasil karyanya. Bagi kebanyakan orang, usia senja mungkin menjadi waktu untuk memperlambat langkah dan membatasi kegiatan dan jangkauan hidup. Namun tidak demikian dengan Budhe Ndari.

Di usia emasnya ini, beliau justru masih menyimpan sebuah obsesi untuk mengunjungi lebih banyak tempat baru dan mengabadikan setiap momen melalui lensa kamera yang selalu tergantung di dadanya. “Aku sedang berlomba dengan umur…,” katanya dengan senyum lebarnya di suatu ketika dalam percakapan santai bersama rombongan, ketika kami saling berbagi rencana-rencana perjalanan setelah trip ini selesai. Banyak sekali hal yang mengagumkan tentang Budhe Ndari selama perjalanan.

Budhe Ndari dengan kameranya.

Di antaranya:

-Beliau ikut bersama rombongan menuju ke puncak Sulaiman-Too (1.110 m). Sesampai di puncak, Budhe Ndari tidak tampak kelelahan. Beliau mendaki dengan bantuan sebuah tongkat kecil dan partner jalannya yang selalu setia mendampinginya. Budhe Ndari bilang dia adalah anak angkatnya. Hmm, beruntung sekali perempuan itu, gumamku ketika itu. Foto berikut adalah Budhe Ndari sedang menuruni tangga di Sulaiman-Too.

-Dengan perlahan namun pasti, Budhe Ndari juga ikut bersama rombongan mendaki ke atas gunung menuju ke reruntuhan vihara di desa Vrang (4302 mdpl). Kami berdecak kagum! Ketangguhan dan semangat Budhe Ndari ini cukup manjur untuk membuat para peserta yang lebih muda “malu” tidak mau kalah.

-Selama menjelajahi kawasan “atap dunia” yang penuh tantangan dan berada di ketinggian ekstrem, Budhe Ndari tetap sehat dan bugar. Tubuhnya tampak mampu beradaptasi dengan baik, bahkan ketika sebagian peserta mulai merasakan gejala AMS (Acute Mountain Syndrome), kondisi yang umum terjadi di dataran tinggi. Ketahanan fisik dan semangatnya benar-benar mengagumkan, seolah usia benar-benar hanya angka, bukan batas bagi jiwa petualangannya!

-Perjalanan ke atap dunia bukan perjalanan yang mudah. Tempat-tempat yang dituju di kawasan Pamir adalah terpencil dan jauh dari kenyamanan kehidupan modern, sehingga kejutan-kejutan tak terduga pun kerap mewarnai perjalanan. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, Budhe Ndari, dengan jiwa khas petualangnya itu selalu memancarkan semangat positif dalam segala suasana. Padahal, dengan kenyamanan hidup yang dimilikinya dan sebagai peserta tertua di rombongan, beliau sangat wajar jika ingin dimanjakan atau merasa tidak nyaman. Tapi luar biasanya, tak sekalipun kami mendengar keluhan darinya. Sikap positif dan keteguhan hatinya menjadi inspirasi bagi kami semua.

Budhe Ndari yang selalu ceria

Di satu kesempatan, aku bertanya kepada beliau, apa gerangan resepnya agar bisa tetap sehat dan bugar seperti Budhe? Dengan senyum khasnya yang tenang, Budhe Ndari menjawab, “Pola pikir positif, menerima apa yang terjadi, banyak bersyukur, dan tentu saja pola hidup sehat. Itu kuncinya.” Jawaban yang sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Dalam perjalanan yang penuh kejutan dan medan yang terjal ini, apa yang Budhe sampaikan seolah bukan sekadar teori. Kami menyaksikan sendiri bagaimana beliau menghidupi nasihatnya, walk her talk. Saat harus antri lama di perbatasan, makanan yang terkadang sangat sederhana atau ketika fasilitas penginapan jauh dari nyaman, bahkan diserobot tamu dari negara lain, Budhe Ndari tetap tenang, tidak mengeluh, selalu asyik menjepret apa saja yang menarik perhatiannya.

Kehadiran Budhe di tengah rombongan bukan hanya menghadirkan kekaguman, tapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang tinggi. Usia bukan penghalang untuk terus bertumbuh, menjelajah, dan berbagi kebaikan. Bahwa menjaga semangat, bersyukur, dan menerima dengan lapang dada adalah cara terbaik untuk menikmati hidup, di mana pun kita berada.

Ah, Budhe Ndari! Kekaguman kami padamu tak hanya karena sikap positifmu itu atau kepiawaianmu dalam mengabadikan setiap momen dengan jepretanmu. Engkau bukan hanya telah menjelajah negeri-negeri jauh, tetapi dalam perjalanan ini engkau juga telah menjelajahi hati kami, meninggalkan jejak kebijaksanaanmu.

Terima kasih untuk teladan itu, Budhe!

“She didn’t just travel across borders, she crossed the boundaries of age with grace and courage to teach us that growing older is just another way of growing braver.”