Jepang yang selalu terkenang (Bagian 2)

Pasti banyak sekali kita temukan artikel atau ulasan di media tentang negeri satu ini. Negeri yang dalam sejarahnya pernah menutup diri dari dunia luar selama ratusan tahun ini menjadi negeri yang menarik banyak wisatawan dari berbagai negara untuk datang berkunjung. Setelah berkunjung dan melihat suasana kehidupan masyarakat Jepang, semua berdecak kagum. Nah, di bagian ini aku akan menulis kenangan akan budaya tertib di negeri samurai ini.

Foto-foto di atas adalah sedikit saja dari gambaran tertibnya kehidupan di Jepang baik di daerah-daerah yang jauh dari kota besar dan di kota-kota besarnya sendiri seperti Shinjuku, Akihabara, Shibuya, dan banyak lagi, you name it.

Orang Jepang sangat identik dengan budaya disiplin. Di antrian misalnya. Bila kereta berhenti, penumpang sudah ramai, tidak ada itu orang yang main serobot masuk duluan sebelum penumpang yang keluar habis (macam di negeri antaberantah...tahu kan negeri mana). Semua rapi berdiri dalam barisan, tua, muda, sedang lelah, sedang gembira, tak tampak bedanya. Semua tegak berdiri sambil masuk dengan rapi setelah antrian penumpang yang keluar selesai. Di dalam kereta atau bis juga tidak ada itu penumpang yang ramai berbicara atau dengan suara keras menjawab panggilan telepon. Tidak ada! Semua penumpang diam. Orang Jepang sangat menghargai kenyamanan di tempat-tempat umum. Begitu juga antrian di depan rumah makan, di depan kasir swalayan-swalayan, bahkan di vending machine (mesin penjual minuman) yang banyak bertebaran di mana-mana.

Orang Jepang sangat menghargai waktu termasuk jam buka dan tutup (sebut saja warung makanan) penjual makanan. Tidak seperti di negeri antahberantah, di mana saja dan kapan saja kita dengan mudah bisa menemukan penjual nasi uduk, mi ayam, bubur ayam untuk mengganjal perut ketika lapar. Di kebanyakan wilayah di Jepang umumnya tempat makan hanya buka pada jam makan siang (antara pukul 11.00 – 14.00) atau makan malam (antara pukul 18.00 – 21.00). Jadi bersiaplah kelaparan bila belum jam makan siang tetapi perut sudah keroncongan.

Ketertiban lain yang membuat kagum adalah ketika ada perbaikan jalan. Pernah aku melewati jalanan di sekitar Takayama, kota kecil nan bersih dan damai. Ketika itu ada perbaikan jalan sepertinya membetulkan bagian aspal jalan yang rusak. Bukan saja cara para pekerja membetulkan kerusakan aspal itu yang tentunya sudah memakai teknologi canggih, tetapi untuk kenyamanan masyarakat yang melewati jalan itu, ada satu petugas khusus yang dengan konsisten berdiri di satu tempat dan menunjukkan jalan alternatif sambil membawa bendera. Yang membuat kagum adalah meskipun jumlah kendaraan tidak banyak yang melintas, tetapi ini pegawai (yang tidak muda lagi usianya) dengan etos kerjanya yang tinggi berdiri sigap, tidak sambil buka handphone atau merokok! Nippon memang luar biasa.


Di sebuah jalan di Takayama. Masih tentang ketertiban di jalan-jalan. Di Jepang orang tidak boleh memarkir mobil sembarangan di pinggir jalan, sesepi apapun jalanan itu. Jadi tidak ada itu mobil parkir diam di gang-gang atau di pinggir-pinggir jalan.

Begitulah bila ketertiban sudah menjadi budaya. Konon semua ketertiban yang sudah mendarah daging itu adalah buah dari pendidikan sejak dini di sekolah-sekolah dan juga keluarga di Jepang. Aku jadi ingat di Netflix ada tuh sebuah reality show yang judulnya Old Enough! – yang menunjukkan bagaimana keluarga-keluarga di Jepang mengajarkan kemandirian dan kedisiplinan sejak usia dini. Tonton deh, menarik, lucu tetapi mengagumkan.

Semoga negara kita Indonesia tercinta kelak bisa menjadi negara dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi, yang konsisten dalam menerapkan aturan-aturan tata tertib khususnya di tempat-tempat umum. Mulai dari hal-hal kecil saja, misalnya dengan menjaga kebersihan. Nah, berbicara tentang menjaga kebersihan ini, Jepang juga top dalam hal yang satu ini! Tetapi nanti itu akan aku tuliskan di bagian berikutnya. Arigato gozaimashita!