Seperti yang pernah aku sampaikan di dua tulisan sebelumnya, di bagian ini aku akan menulis tentang “culture shock” lainnya yang aku rasakan ketika melancong ke Jepang. Mengapa negeri Sakura itu begitu bersih adalah keheranan yang aku rasakan sejak pertama kali menginjakkan kaki di negeri asal Naruto ini. Wisatawan yang berkunjung ke negeri ini pasti terkesima. Kebersihan bukan hanya tampak di jalanan kota-kota besar tetapi juga di sudut-sudut jalan di kota-kota kecil.


Ketika menyusuri jalan-jalan di Jepang sambil membawa botol minum air mineral, ketika air habis terminum maka otomatis aku melongok-longok mencari di mana gerangan tempat sampah:) Ternyata di sepanjang jalan aku tidak menemukan satupun tempat sampah seperti kebanyakan di jalan-jalan di negara kita Indonesia tercinta di mana sampahnya terkadang meluber ke jalan-jalan.
Sebenarnya aku juga sudah antisipasi sih sebelum pergi ke Jepang untuk membawa kantong sampah sendiri karena konon dan ternyata benar adanya bahwa membuang sampah di negara ini benar-benar tidak bisa sembarangan.
Kebetulan ketika itu kami sedang berjalan dengan seorang rekan kerja yang memang asli orang Nipon. Langsung deh aku tanya, “Kenapa tidak ada tempat sampah di jalan-jalan?” Jawaban yang kudapat membuat aku semakin kagum dengan cara pemeritah Jepang mencegah agar ancaman teroris tidak terulang lagi. Jadi tidak adanya tong-tong sampah di jalan-jalan ternyata adalah reaksi pemerintah Jepang terhadap serangan teroris yang pernah terjadi di tahun 1990-an di kereta bawah tanah (subway) Tokyo. Konon para teroris ketika itu menggunakan kantong plastik yang dibungkus koran untuk menyebarkan gas beracun yang mematikan. Nah kejadian inilah yang menjadi alasan utama pemerintah Jepang memutuskan untuk tidak menaruh tempat sampah di pinggir-pinggir jalan.
Kemudian di mana dong kita membuang sampah? Warga Jepang sudah terbiasa mengantongi sampah mereka sendiri bila bepergian dan membawanya pulang bila tidak menemukan tempat pembuangan sampah yang benar. Selain itu yang lebih menarik lagi adalah setiap swalayan atau penjual makanan di tempat-tempat wisata menerima pembuangan sampah dari pembelinya. Kebayang kan betapa membuang sampah di tempat yang benar sudah menjadi budaya yang melekat di Jepang.
Karena penasaran dengan bagaimana sih masyarakat Jepang koq bisa begitu teguh menerapkan pola hidup bersih. Maka aku pun mulai mencari-cari informasi. Beneran, dan apa yang aku dapat itu mengisnpirasi banget.
Jadi selain aturan yang ketat tentang pembuangan sampah, ternyata sikap mencintai kebersihan ini tumbuh dari agama yang mereka anut, yaitu Shinto.
Sebelum agama Buddha masuk ke Jepang, Shinto sudah lebih dulu ada. Shinto ini diyakini lebih dari sekedar agama, tetapi adalah gabungan antara sikap dan pikirang yang sudah menyatu dalam budaya perilaku. Nah, kebersihan ternyata adalah jantung dari ajaran Shinto. Di dalam ajaran Shinto ada istilah kagare yang artinya adalah kotoran dan ketidakbersihan jiwa. Penyebab kagare bisa penyakit, kematian, kotoran fisik atau perbuatan-perbuatan bejat lainnya yang bisa membawa malapetaka. Kagare ini menjadikan tradisi bersih-bersih mengakar kuat pada masyarakat Jepang. Sikap mencintai kebersihan pun ditanamkan di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, di rumah-rumah, bahkan sudah menjadi sikap yang terbawa kemanapun warga Jepang pergi. Nah ingat ga waktu Piala Dunia di Qatar tahun 2022 yang lalu? Suporter asal negara Jepang melakukan aksi bersih-bersih dengan mengumpulkan sampah yang berserakan di Stadion Al Bayt. Begitu juga ketika piala dunia digelar di Rusia di tahun 2018. Sikap cinta kebersihan ini sudah begitu mendarah daging pada generasi-generasi muda Jepang.
Sebagai seorang muslim, aku jadi teringat nih dengan bunyi sebuah hadits yang mengatakan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam mengapa ya ajaran ini tidak kelihatan dampaknya dalam perilaku kebanyakan masyarakat Indonesia. Coba kenapa? Sedih sekali bila melihat sampah-sampah berserakan di tempat-tempat umum, melihat toilet-toilet umum yang kotor dengan tisu pembersih berceceran, melihat puntung-puntung rokok dibuang sembarangan dan banyak lagi. Tetapi okelah aku tidak mau berpanjang lebar soal itu. Tetapi sudah saatnya Indonesia tuh mulai berpikir serius, konsisten dan teguh tentang mewajibkan menjaga kebersihan di tempat-tempat umum. Wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Jepang semakin lama semakin meningkat jumlahnya. Harapanku sih semoga budaya tertib dan bersih ini dibawa pulang, dilakukan dan menjadi sikap dan kebiasaan yang bisa dicontoh oleh orang lain karena ya masa setiap orang harus pergi ke Jepang dulu untuk memulai pola hidup tertib dan bersih. Ayo kita mulai dari dalam keluarga kita sendiri dulu, mengajarkan mulai memilah-milah sampah kepada anak-anak kita, membiasakan menyimpan sampah dalam tas dan membawa pulang bila tidak menemukan tempat pembuangan sampah yang benar. Ayo kita jadikan kebiasaan karena kebiasaan yang dengan konsisten dilakukan akan menjadi sikap dan karakter. Dan ingat, negara ini terlalu indah untuk terus dikotori!
