Quote dari Fyodor Dostoesvsky di atas aku dengar dari podcast seorang dosen filsafat beberapa waktu yang lalu. Quote yang membuat kita merenung bila melihat kejadian-kejadian dalam perjalanan hidup ini. Jadilah matahari maka semua orang akan melihatmu. Apa ya korelasinya dengan gegap gempita kehidupan manusia?

Be the sun and all will see you
Dalam kehidupan yang sarat dengan pengaruh media sosial ini kehidupan kita seperti tersandera. Terkadang kita terjebak dengan pikiran bahwa tolok ukur benar-salah, bagus-jelek, suka-tidak suka adalah apa yang sedang ramai diperbincangkan di sosial media. Akal pikiran seakan menjadi budak dari perasaan kita, bukan sebaliknya. Misalnya begini. Dalam konteks suka-tidak suka. Orang cenderung merasa suka dulu atau tidak suka dulu terhadap seseorang atau sesuatu. Setelah ada rasa yang kuat ini baru mereka mencari-cari alasan dan pembenaran mengapa dia suka atau tidak suka dengan seseorang atau sesuatu itu. Karena itu kita tak perlu heran bila melihat orang yang dulunya sangat membenci seseorang kemudian dia mencari-cari justifikasi akan kebenciannya dengan memposting berbagai keburukan yang bahkan mungkin hoaks adanya demi mencari pembenaran atas sikap bencinya itu. Kemudian waktu berjalan dan pikirannya terhadap orang yang dia benci pun berubah. Terlebih jika dia menemukan banyak kelompok atau orang-orang dalam lingkarannya yang juga ternyata suka dengan orang yang dulu sangat dia benci itu. Maka perasaanya berubah. Dia menjadi suka, mungkin suka karena temannya juga suka, mungkin suka karena orang yang dulu dibencinya itu adalah one of the crazy rich-atau mungkin juga dia suka karena orang yang dulu dibencinya itu ternyata sangat berkuasa. Maka karena sekarang dia menjadi suka maka akalnya pun mencari-cari kebaikan apa pun yang dulu diabaikannya karena tertutup oleh kebenciannya. Kebaikan-kebaikan itu bahkan terkadang tidak masuk akal bagi kebanyakan orang, tetapi buat orang yang sedang suka, dia terus memuja-muja. Jadi itulah sifat perasaan. Berubah.
Dalam kehidupan yang semakin mengglobal ini semakin banyak orang yang dilanda kegelisahan. Semakin kaya seseorang terkadang semakin besar ketakutannya. Semakin sukses orang semakin terasing dia dari dirinya sendiri. Apalagi bila kesuksesan yang diraihnya itu didapatkan bukan karena kerja kerasnya sendiri tetapi karena didapat dari menyogok untuk mendapatkan jabatan atau karena faktor kedekatan. Singkatnya kesuksesan instan, mungkin begitu istilah tepatnya.
Ketakutan dan kegelisahan yang menghantui kita seringkali adalah takut akan hari tua, takut akan menjadi miskin, takut akan ditimpa penyakit, takut akan kematian, dan di jaman ini ketakutan yang paling banyak menghinggapi kebanyakan manusia segala usia adalah takut tidak update atau FOMO (Fear of Missing Out). Kegelisahan ini tanpa sadar justru menjadikan kita semakin jauh dari diri kita sendiri. Kita menjadi asing dengan diri kita sendiri sehingga tidak tahu lagi apa makna dan tujuan hidupnya dan akibatnya tidak bisa mengemban tanggung jawab dan pelan namun pasti kehancuran pun menghampiri. Semakin banyak berita tentang ayah kandung menganiaya bahkan membunuh anaknya sendiri, suami merundung bahkan membunuh isteri. Kejadian baru-baru ini di mana ada seorang ayah di Jagakarsa yang tega membunuh empat orang anaknya adalah kejadian yang sangat mengerikan. Saking miris dan begitu seram terdengarnya, aku memilih untuk tidak mengikuti kelanjutan dari berita itu. Tetapi kejadian itu membuat kita bertanya; koq bisa sih? Nyatanya bisa dan kita hanya bisa mengelus dada. Begitulah mungkin yang dimaksud dengan manusia semakin terasing dengan dirinya sendiri.
Be the sun and all will see you. Pepatah bijaksana ini menurut aku bukan untuk semacam motivasi seperti dalam ungkapan capailah cita-citamu setinggi langit. Jadilah matahari dan semua orang akan melihatmu. Matahari adalah sumber kehidupan. Karenanya bumi jadi terang, makhluk hidup jadi tumbuh dan kembang, singkatnya dia adalah sumber energi yang manfaatnya tiada tandingannya.
Ketakutan dan kegelisahan adalah paket dalam kehidupan, yang artinya suka atau tidak suka semua orang pasti merasakannya sebagaimana kita juga merasakan senang dan bahagia. Tetapi intinya adalah bila ketakutan dan kegelisahan itu datang, sebaiknya kita berhenti sejenak untuk kembali kepada diri, berdialog dengan diri, menata kembali apa sebenarnya yang kita mau dan inginkan dalam hidup ini.
Hidup ini singkat, sementara waktu dalam kehidupan demikian panjang. Jadilah matahari maksudnya adalah jadilah bermanfaat dalam hidup ini setidaknya untuk diri kita sendiri dulu. Ini adalah langkah awal yang penting karena dengan menjadi bermanfaat bagi diri sendiri kita menjadi mengenal diri, lebih tahu apa tujuan hidup kita dan kemudian dengan berani menghadapi segala tantangan yang pasti ada. Bukankah hidup itu adalah perjuangan? Begitu judul salah satu lagu Dewa 19.
Menjadi bermanfaat buat diri sendiri maksudnya bagaimana? Diri kita adalah salah satu makhluk terindah di antara milyaran manusia di dunia ini. Tahu kan maksudnya? Maksudnya ya kenali diri sendiri dengan baik. Setiap diri adalah unik dan spesial. Maka jangan banding-bandingkan diri kita dengan diri yang lain-lain. Jangan sibuk mencari kambing hitam bila musibah sedang menimpa. Kembali pada diri intinya adalah mencintai diri dengan lebih baik, merawat diri dengan memberi makanan yang sehat buat raga dan pikiran yang sehat buat jiwa. Maka jangan terlalu tenggelam berlama-lama dalam keterpurukan karena keterpurukan bisa membawa pikiran kalut dan semakin terasing dari diri sendiri.
Bermanfaat untuk diri sendiri adalah tidak menjadi beban bagi orang lain karena masing-masing menyadari tanggung jawabnya dan menjalankan dengan baik. Bermanfaat untuk diri sendiri adalah memberi contoh dalam perilaku dan perbuatan-perbuatan baik tanpa harus gembar-gembor atau sibuk menceritakan kebaikan dirinya. Tanpa itu orang dengan sendirinya akan melihat karena ibarat matahari, terkadang tertutup awan tetapi pasti akan nampak juga pada akhirnya.
Semoga tahun 2024 akan menjadi tahun yang penuh dengan kebaikan, kesuksesan dan tercapainya harapan-harapan kita yang tertunda di tahun-tahun sebelumnya. Be the sun and all will see you.
