Catatan akhir tahun seorang pelacur

Setahun sudah kehidupan kelam itu dijalaninya.  345 malam sudah dia menari-nari dalam tabuh gendang kegelapan……purnama sudah dia melayani nafsu-nafsu dunia, yang selalu haus dan tak pernah puas dalam mencari kenikmatan. 

Sutini. Usianya kini memang tak mudah lagi, Lima kali ulang tahun lagi, dia akan beranjak menuju usia emas, 50 tahun. Dia pun mulai berpikir bahwa pekerjaan melacur ini harus segera dia hentikan karena selain pelanggannya mulai berkurang juga kondisi fisiknya mulai melemah.. Dia harus segera mencari alternatif pekerjaan lain.

Awal Januari lalu, suami Sutini, Amran, ditangkap polisi karena di gerobak tempatnya berjualan bakso dan es kelapa ditemukan sebungkus daun ganja kering yang entah darimana datangnya. 

Suatu sore ada sebuah bungkusan kecil di dalam kresek hitam yang tertinggal (atau mungkin sengaja ditinggal) seseorang. Suaminya tidak berani membuka-buka atau memindahkannya karena yakin pemilik bungkusan tersebut akan kembali. Ini bukan kali pertama ada pembeli yang ketinggalan barang dan biasanya mereka kembali untuk mengambilnya. Namun siapa sangka bahwa barang yang terrtinggal kali ini akan membawa petaka bagi suaminya. 

Hingga ketika dua orang berseragam polisi tiba- tiba datang dan menangkapnya dengan tuduhan  mengedarkan ganja sambil berjualan bakso. Amran meronta dan bersumpah ribuan kali bahwa dirinya bukanlah pengedar ganja dan dia tak tahu menahu perihal bungkusan yang tertinggal di gerobak baksonya itu. Namun Amran tak berdaya ketika dirinya digelandang ke kantor polisi dan dijebloskan ke dalam ruang tahanan. 

Sejak itu gelap terasa dunia bagi Sutini. Tiga orang anak mereka  masih banyak membutuhkan biaya. Uang tabungan yang dengan susah payah mereka kumpulkam telah terpakai untuk biaya masuk kuliah anak pertama mereka. Sementara Sutini selama ini hanya membantu suaminya berdagang bakso. 

Sutini tak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan agar suaminya dibebaskan dari jeratan perkara ini. . Jeritan hatinya serasa sia-sia, isak tangisnya di setiap persidangan tak mampu mempengaruhi proses hukum yang berjalan. Amran pun divonis tiga tahun penjara untuk suatu perbuatan yang sama sekali tak dilakukannya.    

Sutini pun tak punya pilihan lain kecuali meneruskan pekerjaan suaminya. Berjualan bakso ia jalani hingga  malam karena di saat-saat itulah banyak pembeli datang. Terkadang mereka duduk-duduk hingga  larut malam. Sutini pun akhirnya menyediakan kopi sebagai penghasilan tambahan. 

Entah kapan dan siapa yang memulai, Sutini yang masih tampak ayu itu sering juga tampak pergi dibonceng beberapa laki-laki secara bergantian. Entah kemana dan untuk urusan apa. Sutini tidak pernah bercerita. Setiap kali pergi, kepada anak sulungnya dia hanya berpamitan hendak ke pasar membeli barang dagangan.

Di hari terakhir di ujung tahun ini, Sutini menengok suaminya setelah lebih dari sebulan tak ditemgoknya. Terenyuh hatinya melihat betapa kurus dan menderita suaminya. Amran yang baik, Amran yang telah melewati hari-hari bersamanya, Amran yang menjadi bapak dari ketiga anaknya itu, harus mendekam di penjara untuk sesuatu yang tak pernah dilakukannya. Betapa dunia telah mempermainkan nasib keluarga mereka dengan tidak adilnya.

Sutini seketika merasa kecil dan kotor dihadapan suaminya. Tiba-tiba air matanya deras mengalir membasahi kedua pipi yang dengan sembunyi-sembunyi telah dilacurkannya. Amran memeluknya seolah  memahami betapa kesepian isterinya sepeninggal dirinya. Ucapan maaf yang berkali-kali keluar dari mulut Sutini dibalasnya dengan belaian lembut di rambut dan punggung isterinya. 

Sepulang dari menengok suaminya, Sutini memasak makanan kesukaan ketiga anaknya. Makanan spesial yang bisa dihidangkannya sesekali bila ada rejeki lebih. Rawon. Seusai bersantap malam bersama di penghujung tahun itu, Sutini mengatakan pada anak-anaknya bahwa dia akan berhenti berjualan bakso. Anak-anaknya nampak maklum karena mungkin menyadari betapa letih Ibu mereka yang setiap hari harus pulang malam. Lalu kepada anak sulungnya secara terpisah dia sampaikan rencana pekerjaan barunya untuk berjualan sayuran dan kebutuhan sehari-hari di rumah demi bisa dekat dengan anak-anaknya. Anak sulungnya telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Sutini ingin menjadi ibu sekaligus sahabat yang baik baginya.   

Sutini bertobat, Sutini bertekat untuk terus berjuang demi anak-anaknya dan juga Amran suaminya. Dia tidak mengerti apa itu hukum dan keadilan. Namun satu hal yang dia tahu dan kenal dengan sangat baik, Amran adalah lelaki yang setia dan jujur. Kejujuran yang selalu memancar dari tatapan mata suaminya itu membuat Sutini merasa ditelanjangi setiap kali dia datang menengoknya di penjara. 

Sutini merasa tak sanggup lagi untuk terus melacurkan amanah yang diembannya. Amanah membesarkan ketiga anak mereka ketika Amran sedang dipaksa menerima kenyataan hidup yang pahit yang memisahkannya dari keluarganya. 

Sutini menutup hari terakhir di penghujung tahun yang kelam ini dengan seuntai doa: ” Tuhan, suamiku orang jujur, kembalikanlah dia pada anak-anak kami. Mengapa orang baik harus mendekam di penjara karena sesuatu yang tak pernah dilakukannya. Dan mengapa kau biarkan orang jahat yang sebenar-benarnya jahat bisa terbebas dari perbuatannya. Seandainya kami orang kaya, apakah ketidakadilan ini bisa menimpa kami juga? Jawablah doaku, ya Tuhanku, Tuhn Yang Maha Benar, Tuhan Yang Maha Adil. Amin.” 

Ayu, Jakarta 31 Dec 2014