Adakah yang lebih menyakitkan daripada sebuah penantian tanpa kepastian?
Adakah yang lebih mengguncang jiwa daripada keyakinan bahwa kebenaran akan tetap ada, meskipun berusaha ditenggelamkan dengan paksa?


Laut Bercerita adalah sebuah karya yang mengaduk-aduk emosi pembacanya. Novel ini mengisahkan perjuangan sekelompok anak muda pemberani yang berani bermimpi dan memperjuangkan mimpi mereka, meski mereka sepenuhnya sadar akan konsekuensi yang kelak menghadang. Sebuah kisah perjuangan panjang yang penuh risiko, ketakutan, dan kehilangan.
Biru Laut, begitu nama tokoh utama dalam novel ini, seakan mengirimkan kisah pedihnya kepada dunia melalui angin dan udara. Ia adalah mahasiswa yang cerdas dan idealis. Bacaan-bacaan sastra dunia yang akrab dengannya ikut membentuk persepsinya tentang sebuah negara yang demokratis—tempat di mana warganya merasa aman, terlindungi, dan bebas menyuarakan hak-haknya. Namun apa yang ia temui dalam realitas justru sebaliknya: kekuasaan yang terlalu lama bercokol, aparat yang represif, dan suara-suara kritis yang dibungkam. Semua itu mengusik nurani idealis Biru Laut dan kawan-kawannya.
Maka, jauh sebelum Presiden Soeharto akhirnya mengundurkan diri, Biru Laut telah menanam benih-benih perlawanan. Ia dan teman-temannya menempuh jalan yang terjal: hidup berpindah-pindah untuk menghindari kejaran aparat, ancaman dikeluarkan dari kampus, terpisahkan dari orang-orang yang dicintai, hingga kelelahan yang nyaris mematahkan semangat. Namun di tengah semua itu, Biru Laut tetap setia pada keyakinannya.
Ironisnya, luka terdalam justru datang bukan dari siksaan demi siksaan yang dia terima, tetapi dari pengkhianatan temannya sendiri. Seseorang yang selama ini dipercaya, memilih menikamnya dari belakang. Tak ada yang lebih mengiris hati selain menyadari bahwa ancaman itu ternyata datang dari lingkaran terdekatnya.
Membaca Laut Bercerita menghidupkan kembali masa-masa suram di sekitar 1998, tahun di mana sebuah perubahan besar yang diperjuangkan dengan harga yang sangat mahal akhirnya terjadi di negeri ini. Meski Biru Laut tak sempat menyaksikan perubahan itu, ia adalah bagian penting dari sejarah perjuangan negeri ini.
Meskipun namanya tak pernah tertoreh atau dikukuhkan sebagai pahlawan, meskipun jasadnya dihilangkan dengan paksa, Biru Laut seakan menjadi suara yang tak pernah benar-benar dibungkam. Ia hidup dalam ingatan, dalam cerita, dalam acara Kamisan, yang terus menyuarakan kesadaran bahwa kebebasan hari ini lahir dari keberanian mereka yang berani melawan ketidakadilan, meski harus dibayar dengan hidupnya sendiri.
Novel ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang menang dan tampil di panggung kekuasaan, tetapi juga oleh mereka yang dihilangkan dengan paksa, namun jejak keberaniannya tetap tinggal dan abadi, seabadi cinta Biru Laut pada kekasihnya, Anjani.
