Emak yang perlahan “menghilang” (Merawat lansia dengan demensia).

Aku sering pulang ke kampung dengan satu tujuan utama: menengok Emak.

Emak tinggal di rumahku di kampung. Letak rumahku berada di antara rumah adik bontot dan rumah tua—rumah pertama keluarga kami. Di sana, ada seorang tetangga yang setia menemani Emak, membantu banyak urusan kesehariannya.

Maklum, meskipun Emak memiliki sembilan anak—dan alhamdulillah semuanya dalam keadaan sehat—hanya adik bontot yang tinggal di kampung. Selebihnya, kami tinggal jauh dari kampung.

Setidaknya setiap tiga bulan sekali, aku pulang.

Setiap kali pulang, selalu ada perubahan dalam diri Emak.
Perubahan yang nyaris tak terasa, namun pada satu titik membuatku tersadar:
bahwa perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya itu—perempuan dengan sejuta bahasa cinta yang tak pernah terucap—perlahan menjadi sosok yang tak lagi sama.

Emak… bukan lagi Emak yang pernah kukenal.

Tubuhnya masih nyata di depan mata. Suaranya masih terdengar lantang setiap kali berbicara.
Namun, ada bagian dari dirinya yang perlahan terkikis—ingatan, kesadaran, kehangatan, dan kelemahlembutan—semuanya seperti direnggut oleh sesuatu yang tak kasatmata.

Iya. Dalam beberapa bulan terakhir, Emak mengalami demensia.

Emak semakin banyak lupa.

Lupa nama. Lupa kejadian. Bahkan sering kali lupa bahwa kami adalah anak-anaknya.

Itu menyedihkan.

Terlebih ketika melihat Emak menjadi mudah sekali marah bahkan mengucapkan kata-kata yang dulu tak pernah ia ucapkan. Kata-kata kasar sungguh bukan kata-kata yang pernah terdengar di lingkungan keluargaku. Tetapi itu terdengar, jelas di telinga anak-anaknya.

Emak yang dulu selalu mandi sebelum subuh hari, dan menasihati anak-anaknya untuk melakukan hal yang sama… tiba-tiba sering menolak mandi, menolak diganti pakaiannya sambil dengan yakin mengatakan bahwa dia baru saja mandi.


Emak yang sebelumnya selalu menyambut setiap anaknya yang pulang dengan senyumnya yang renyah dan hangat….tiba-tiba mengusir, meminta anak-anaknya pergi, seolah keberadaan anak-anaknya hanya mengganggu.

Menyaksikan semua itu, membuat kami harus menahan air mata karena tidak tahu harus merasakan apa dan karena kasihan melihat Emak yang terkadang kebingungan, menanyakan hal yang sama berulang-ulang dan menyangkal sesuatu yang terluput dari ingatannya.

Lelah?
Tentu.

Rindu pada Emak yang dulu?
Sangat.

Demensia bukan sekadar lupa pada umumnya.

Secara medis, demensia adalah kondisi ketika fungsi otak menurun secara perlahan—terutama pada bagian yang mengatur ingatan, emosi, bahasa, dan perilaku. Karena itu, seseorang dengan demensia tidak hanya mengalami gangguan dalam mengingat, tetapi juga perubahan dalam sikap dan cara berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Konon katanya, ingatan jangka pendek lebih dulu terganggu. Hal-hal yang baru saja terjadi (working memory) begitu saja terlupakan. Namun, ingatan lama (long-term memory) —tentang masa kecil, tentang orang-orang di masa lalu, bahkan yang telah tiada—sering kali justru bertahan lebih lama.

Pahamlah kami mengapa Emak sering menyebut nama-nama semua yang dikenalnya yang telah pergi dan tidak bisa mengingat siapa orang yang menemaninya hari ini, dan apa saja kegiatan yang baru saja terjadi; mandi, makan, tidur, dan lain-lain.

Demensia memengaruhi emosi. Bagian otak yang mengatur kontrol diri dan kestabilan perasaan ikut melemah. Akibatnya, Emak menjadi lebih mudah marah, berkata kasar, atau menolak bantuan. Itu semua karena Emak tidak mempunyai kemampuan lagi untuk mengendalikan dirinya.

Dalam proses ini, aku belajar banyak.
Belajar bersabar, dan belajar memahami bahwa Emak pun tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Emak hanya membutuhkan ketenangan—untuk meredakan kegelisahan yang mungkin tak mampu dia jelaskan.
Emak membutuhkan seseorang yang bisa menularkan rasa damai di tengah kekacauan yang dia rasakan.

Merawat seseorang dengan demensia memang bukan hanya soal fisik.
Bukan hanya soal membantu mandi, memberi makan, atau mengganti pakaian. Di dalam proses ini ada ketersediaan hati untuk belajar menerima bahwa cinta tidak selalu dibalas dengan cara yang sama.

Ada hari-hari ketika aku merasa tidak dikenali, namun kadang tiba-tiba saja namaku dipanggilnya. Ada hari-hari seolah semua yang kulakukan tidak berarti sama sekali.

Namun di tengah semua proses itu, aku belajar sesuatu yang justru menguatkan:

Bahwa merawat orang tua bukan berharap untuk diingat, dihargai, apalagi dibalas. Mereka pun dengan susah payah telah merawat kita sejak kecil tanpa berharap untuk dibalas.


Dalam proses ini aku melihat Emak bukan sepenuhnya Emak.

Emak adalah tubuh yang mulai lelah.
Emak adalah pikiran yang mulai kehilangan arah.
Emak adalah perjalanan yang tidak lagi bisa dia kendalikan.

Dan aku bersyukur, di hari raya ini Emak masih ada bersama anak-anaknya. Emak masih bisa menikmati makanan yang dibawa anak-anaknya. Kami masih bisa mencium kedua tangannya dan membisikkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Emak tidak mau memakai alat bantu dengar.

Kami tidak tahu sampai kapan proses ini akan berlangsung.

Yang kami tahu…
kami ingin selalu bisa menemani Emak dengan sebaik yang kami bisa.

Pada akhirnya, merawat Emak, bagaimanapun kondisinya adalah cara kami, anak-anaknya tetap hadir untuk mencintai—dalam bentuk yang paling sunyi.

Emak bisa saja lupa nama anak-anaknya, bahkan tak lagi mengenali mereka. Namun, doa-doa yang pernah dipanjatkannya tak akan pernah hilang, tetap hidup di dalam diri anak-anak yang pernah dia cintai sepenuh hati.