Sweat ’till you drop!

Karena baru saja selesai yoga, sekarang aku ingin bercerita tentang yoga yang aku lalukan sejak tahun, lupa tepatnya, tetapi kira-kira tahun 2014-an. Jadi sudah sejak delapan tahun lalu aku mengenal yoga ini. Jenis yoga yang aku lakukan adalah Bikram Yoga, yoga yang diciptakan oleh Bikram Choudhury yang mulai populer di tahun 1970-an. https://www.shape.com/fitness/workouts/things-you-need-know-about-bikram-yoga. Silakan di klik link tersebut kalau kawan ingin tahu lebih jauh tentang apa itu Bikram Yoga.

Aku menuliskan tentang olahraga rutinku ini (rutin sejak aku terdiagnosa, sebelumnya sih suka-suka kalau sedang mau saja…) karena yoga ini telah sangat bermanfaat mempercepat pemulihanku pasca-operasi mastektomi dan juga yoga ini dulu ketika aku terkena “sciatica”alias “backpain” atau bahasa umumnya “syaraf kejepit“, yoga ini sangat ampuh membantu menyembuhkanku.

Ketika itu tahun 2015, aku pergi ke Kalimantan Timur, untuk memenuhi hasrat berpetualangku juga ketika masih muda. Salah satu tempat yang aku kunjungi disana adalah Bukit Bangkirai di kawasan Panajam Pasir Utara yang lokasinya dekat dengan calon ibukota negara kita yang baru, Nusantara.

Ceritanya aku ke sana dengan mengendarai motor bersama seorang sepupu dan seorang teman yang tinggal di sana. Ketika naik bukit aman. Ketika turun, karena turunan yang terjal dan jalan berpasir, dan sedang gerimis juga, aku lepas kendali dan motor menurun tajam. Aku terlempar dalam posisi telentang melorot kebawah. Aku masih bisa bangun meski kesakitan. Dan alhamdulillah bisa kembali ke Jakarta untuk bekerja lagi.

Setelah peristiwa jatuh itu rasa sakit perlahan hilang. Aku kembali beraktifitas normal. Tetapi enam bulan kemudian, sesuatu terjadi.

Ketika sholat ashar di tempat kerja, saat posisi ruku’ (membungkuk), aku tak bisa bangkit lagi. Luar biasa sakit di bagian pinggang ke bawah. Luar biasa. Sulit aku gambarkan dengan kata-kata saking begitu sakit rasanya. Aku langsung berjalan membungkuk menuju tempat taksi di tempat kerja yang langsung mengantarku ke rumah sakit terdekat.

Singkat cerita, setelah menanyakan riwayat apa aku pernah jatuh. “Iya. Enam bulan yang lalu, dokter.” Jawabku. Ada bantalan yang tergeser di lumbar ke-4 dan ke-5 ku. Dokter bilang “sciatica”. Akupun dirawat sekitar semingguan di rumah sakit. Setelah mengosumsi obat pereda nyeri, obat untuk relaksasi otot, dan juga serangkaian fisioterapi, kondisiku pulih. Dokter bilang, “Tidak perlu minum obat-obatan lagi. Kalau tidak mau kambuh lagi, hanya dua obatnya: berenang dan yoga.”

Sejak itu aku belajar berenang. Dan…semangat lagi mengikuti kelas bikram, yang saat itu studionya ada di Citos Cilandak. Bikram ini sebenarnya adalah tipe “hot yoga“. Disebut hot bukan berarti seksi atau “panas” dengan konotasi mesum:) he..he..tetapi memang panas karena yoga ini dilakukan di ruangan dengan suhu panas 40 derajat celsius, kawan. Jadi kenapa para pesertanya rata-rata hanya memakai kancut (yang laki-laki-maaf) dan perempuan mungkin serupa bikini, karena memang suhunya sangat panas dan membuat keringat mengalir seperti tetesan air hujan. Deras. Oh ya, saya klarifikasi dulu soal kostum, tidak semua peserta memakai kostum buka-bukaan seperti yang aku tuliskan tadi lho ya, karena ada juga yang memakai setelan olahraga biasa, seperti aku sendiri, berlengan panjang dengan celana senam.

Yoga ini mempunyai 26 pose, sebagian dilakukan dengan berdiri dan sebagian lagi dilakukan dengan di lantai (floor poses). Setiap pose dilakukan dua kali. Maka total yoga dua set berlangsung selama kurang lebih 1,5 jam. Anyway, aku tidak sedang mempromosikan yoga ini sih. Maka aku tidak akan menulis secara detil tentang pose-pose-nya. Tetapi lebih ke manfaat yang aku rasakan bagi pemulihan kondisiku ketika sedang sakit.

Pasca-operasi mastektomi, lengan kiriku kaku tidak bisa digerakkan ke atas, ke samping, ke depan, apalagi ke belakang. Kaku dan rasanya mati otot-ototku di area lengan kiriku. Terinspirasi dengan seorang pengajar bikram yang pernah kecelakaan parah dan sembuh setelah melakukan bikram dengan rutin, maka aku bertekat rutin melakukan bikram. Pelan, perlahan aku lakukan. Tidak semua pose. Aku pilih pose-pose yang kira-kira bisa membantu lenganku pulih kembali. Karena dokter wanti-wanti, “kamu harus latihan gerak. Tangan kirimu harus bisa melakukan apa yang tangan kananmu bisa lakukan.” Pesan dokterku yang baik hati.

Seminggu, sebulan, perlahan tanganku mulai biasa lagi. Rasa kaku, rasa sakit dan otot-otot tegang di area bekas operasi, cling, menghilang. Alhamdulillah. terima kasih, Ya Allah. Tiada henti aku bersyukur. Betapa aku semakin menyadari bahwa selalu ada kesembuhan untuk yang berusaha. Dan bahwa Allah itu selalu mendengar doa-doa kita. Mungkin dulu ketika temanku mengenalkan aku dengan bikram yoga, itu adalah rencana Tuhan untuk masa depanku. Ketika aku mengalami musibah, bikram yoga terbukti telah ampuh menolongku.

Ada cerita lain lagi yang lebih membuat aku takjub atas kuasa Allah. Selama menjalani kemo, bikram ini menguatkan aku. Dan setelah kemo selesai, ada dampak lain yang terjadi pada anggota tubuhku. Tetapi akan aku ceritakan di tulisan berikutnya. Stay tune, ya! Semoga bermanfaat. Chao!

Home by The Garden, November 8, 2022