From Milano Centrale- Bagian 5A – Milan Stories

Akhirnya, sampailah kita di kota terakhir dalam rangkaian perjalanan Eropa ini: Milan.

Awalnya aku ingin menceritakan semuanya dalam satu tulisan. Namun, ternyata terlalu banyak cerita yang ingin kubagikan. Mulai dari drama kereta, pizza Italia yang ukurannya di luar nalar, Danau Como yang memesona, hingga kejadian-kejadian lucu yang masih sering kami kenang sampai sekarang. Karena itu, bagian Milan kubagi menjadi dua tulisan. Bagian ini adalah kisah dua hari pertama.

Sebelumnya, aku pingin juga sih bilang karena belum sempat aku sampaikan di bagian-bagian terdahulu. Perjalanan ke negara-negara yang kaya sejarah di Eropa ini sesungguhnya sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya dengan berselancar di depan layar laptop sepulang kerja atau ketika jam makan siang di tempat kerja.  

Semuanya berawal dari membuat itinerary. Jadi bukan sekadar mendaftar kota-kota atau negara-negara yang ingin dikunjungi, melainkan rangkaian perjalanannya  harus masuk akal. Untuk apa? Untuk meyakinkan petugas visa Schengen bahwa kita memiliki rencana perjalanan yang jelas, membawa bekal uang, dan memastikan bahwa kita akan kembali ke Indonesia tercintahhhh! (Pakai hh…hh…biar terasa bener cinta kita pada negeri nusantara). 

Kota mana saja, berapa malam menginap, di mana, membandingkan harga hotel, sejauh apa jarak hotel dari stasiun/terminal, bagaimana perpindahan antar negara, naik kereta atau bis, seberapa jauh jarak antar negara, hingga tanggal keberangkatan dan kepulangan harus disusun dengan cermat. 

Bermalam-malam kami  begadang, membuka dan memelototi peta, menghitung jarak berjalan kaki, membaca ulasan di Google, Youtube, ChatGPT. Begitulah romantika bepergian tanpa travel agent. 

Ada yang bertanya; lebih mahal mana jatuhnya, pakai travel agent atau menyusun perjalanan sendiri? Jawabnya, ya tergantung sih, tergantung pada banyak faktor penyerta. Yang jelas kalau ikut travel agent, kita tak perlu berpusing-pusing sejak awal. 

Kami berbagi tugas sih, yaaah, yang jelas setiap orang  bertanggung jawab atas keselamatan diri masing-masing dalam perjalanan ke negeri orang ini. Itu sih prinsip utamanya; bahasa sederhananya; jangan merepotkan teman seperjalanan. 

Ternyata, merencanakan perjalanan sendiri—apalagi multi destinasi—sama melelahkannya dengan ketika menjalani perjalanan itu sendiri. Oh, ya…di bawah adalah foto kami sedang stretching setelah perjalanan yang panjang di Grindelwald!

Lanjut!

Selama proses sebelum hari keberangkatan, kadang kami adu argumen, saling keukeuh dengan hasil pencarian masing-masing, merasa rute atau hotel pilihannya yang paling masuk akal. Ada juga yang pasrah saja karena sedang sibuk banget. Apa pun, kemana pun, ia manut saja. Boso Jowonya, “suargo nunut, neroko katut.” Tapi nggak juga sih, all hands on deck, kok. Pada akhirnya, yang penting tetap saling menghargai. Sesekali ngedumel buat melampiaskan stress? Sah-sah saja, kok. Yang penting, habis itu ya ketawa lagi. Jalan bareng lagi.

Drama-drama di kereta menuju Milan

Tanggal 1 Juli, hari Rabu pagi kami meninggalkan Swiss. Dengan perasaan sedikit menyesal. Why? Pinginnya sih di Swiss lebih lama, nambah hari. Apa daya tiket kereta sudah terbeli. 

Setelah check-out hotel, kami menuju stasiun Interlaken Ost, tidak jauh dari hotel. Kami menunggu kereta RE (RegioExpress), kereta regional yang menghubungkan berbagai kota dan desa di kawasan Pegunungan Alpen. 

Tiket kereta Interlaken-Milan ini kami beli dengan penuh drama. Kami menjelajahi situs penjualan tiket online mulai dari SBB (Swiss Federal Railways), Trenitalia, Trainline, dan Deutsche Bahn (DB).  Untuk mencari rute transit dan berapa lama perjalanan. Akhirnya SBB pemenangnya!

Btw, soal tiket kereta di Eropa ini, sebelumnya ada juga yang menyarankan untuk membeli saja Eurail Pass. Tiket terusan untuk perjalanan lintas negara-negara di Eropa ini cukup populer karena kita tidak harus membeli tiket untuk setiap rute. Semacam JR Pass kalau di Jepang. Praktis sih. Namun, setelah menghitung kembali itinerary dan budget yang sudah kami susun, akhirnya kami memutuskan membeli tiket satu per satu. Jatuhnya lebih murah. Ternyata harga tiket untuk beberapa rute justru lebih hemat dibanding membeli Eurail Pass. 

Seperti yang terlihat di foto tiket di bawah, dari Interlaken ke Milan, kami transit dua kali. Ternyata sudah ramai penumpang menunggu kereta tujuan Luzern. Musim liburan mulai. Ketika kami masuk ke satu gerbong, ternyata satu gerbong itu sudah di reserve dong oleh satu rombongan. Koper sudah terlanjur kami taruh. Kami harus turun pindah gerbong. 

Semua membawa koper masing-masing, kecuali T karena ribet membawa dua kopernya. Mereka bertiga; T,L, dan K bergegas keluar gerbong. Aku berjalan paling belakang menyusul mereka. Tiba-tiba….…priiiiit!!! 

Kereta bergerak. Aku langsung saja naik di gerbong mana saja. Untungnya aku sudah membawa koperku karena disuruh bawa oleh ketua rombongan yang sudah reserve gerbong. Jadi selama perjalanan dari Ost ke Luzern ini aku terpisah dari the other three ladies. Untunglah pemandangan di jendela begitu indah! Lah! Aku tenang saja. Perlahan kereta meninggalkan Interlaken. Rasanya baru kemarin aku berdiri di Iseltwald bersama Kapten Ri…aha!  Kini, semua itu perlahan berubah menjadi kenangan. Mulai deh melamun dan tertidur memimpikan Kapten Ri.

Kira-kira dua jam dari Interlaken, kereta  tiba di Luzern. Untung aku sudah bangun. Waktu transit hanya 15 menit-an. Aku kepikiran koper si T. Maka sebelum kereta tiba di Luzern, melalui chat di grup, aku meminta si T entah bagaimana caranya agar berusaha mengambil kopernya yang tertinggal di gerbong awal, atau paling tidak dia sudah standby dekat kopernya. Kalau harus menunggu sampai di Luzern untuk mengambil koper, kuatir aja bakal nggak terkejar kereta berikutnya, dengan stasiun seramai itu. 

Singkat cerita, si T akhirnya berhasil standby di dekat kopernya. Dia pindah gerbong ketika kereta berhenti di stasiun-stasiun kecil. 

Kereta pun tiba di Luzern. Kemudian kami  bergegas menggeret koper ke platform kereta IC (Inter City) untuk rute Luzern – Lugano. Jarak tempuh kurang lebih satu jam. 

Oh ya, ketika kami membeli tiket kereta ke Milan ini, tidak ada pilihan reservasi tempat duduk. Intinya di mana ada kursi kosong di situ kita bisa duduk. Kalau tak ada kursi kosong? Berharap saja jangan sampai varises karena berdiri lama, hi..hi..! Di perjalanan Luzern ke Lugano kami duduk terpisah, meskipun masih satu gerbong. 

Ada satu lagi pengalaman paling menegangkan! Tralala!

Adalah ketika kereta tiba di Lugano! Waktu transit hanya empat menit! Ya ampuun! Harus ambil ancang-ancang! Mana suasana stasiun ramai pula!! Yang aku kuatirkan si T dengan bawaan dua kopernya! Berat-berat pula. Jarang sekali ada lift di stasiun-stasiun di Eropa. 

Saran! Kalau mau travel berpindah-pindah kota dengan kereta, bawalah barang seminimal mungkin! Percayalah, setiap kilogram akan terasa menambah beban hidupmu ketika harus berpindah peron, naik turun tangga, atau mengejar kereta dengan waktu transit yang mepet.

Sebenarnya T juga mungkin dilanda dilema. Berangkat dari Indonesia ia hanya membawa satu koper. Namun, setelah mengunjungi adiknya di Antwerpen, kopernya “beranak”. Oleh-oleh dari adiknya itu membuat dia harus menyeret dua koper. Berat-berat pula. 

Baiklah… transit kami hanya empat menit, Bo!

Begitu kereta berhenti, para penumpang langsung berhamburan turun. Kami sedikit panik, koper-koper dari rak bagasi sudah di tangan. Tinggal keluar menuruni pintu kereta. Namun, di saat-saat genting seperti itu, ada saja manusia berhati malaikat di planet bumi ini. Seorang pria tampan, berwajah George Clooney, tanpa diminta langsung membantu T menurunkan koper-kopernya melewati pintu. Grazie! Tentu saja aku tidak bisa memandang wajahnya lama-lama. Aku mengajak T berlari secepat mungkin untuk mengejar kereta berikutnya! Lariiii….!!!!

Untunglah! Begitu kami naik, kereta langsung bergerak! 

Lagi-lagi di dalam kereta kami terpisah dengan L dan K. Tetapi di grup chat mereka bilang bahwa mereka sudah aman di dalam kereta. Bereslah. Selesailah drama ini. Pukul tiga lewat lima belas menit, kereta pun tiba di stasiun Milano Centrale. Kami langsung berjalan menuju BB Milano Hotel yang tidak jauh dari stasiun. Di kota mode ini kami tinggal empat malam dari tanggal 1 Juli (Rabu) – 4 Juli (Sabtu).

Sore harinya, setelah check-in hotel, kami mencari tempat makan dekat hotel. Da GiGi. Restoran pizza itu ada di seberang hotel. Terdorong keinginan mencicip pizza asli buatan Italiano:) kami pun sepakat makan malam di sana. 

Seorang pelayan pria, sudah berumur, sama dengan kami para tamunya, tapi super ramah dan good looking juga:) menyambut kami. Dia menyodorkan menu sambil menjawab dengan sabar berbagai pertanyaan kami yang diselingi basa-basi. Eh, ternyata dia humoris banget! Jadilah sore di restoran itu penuh tawa, apalagi ketika, dengan bercanda kami menjodohkannya dengan K teman kami, yang single and happy itu. Pelayan itu membalas candaan kami dengan memanggil K “my wife”. “Bellissima”. 

Pelayan “genit” itu bilang bahwa ukuran pizzanya cukup besar. Katanya, itu adalah porsi normal bagi orang Italia. Mendengar itu, aku dan T memutuskan untuk memesan satu pizza saja untuk dimakan berdua. Sementara L dan K tetap memesan masing-masing satu. K memilih calzone, pizza khas Italia yang dilipat menjadi setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai pastel raksasa.

Tak lama kemudian, pizza-pizza berukuran hampir sebesar tampah sedang pun disajikan. Harganya bervariasi, tergantung topping yang dipilih.  Murah untuk pizza sebesar itu. Satu pizza itu cukup untuk dimakan bertiga!

Hmmm… kenyang sekali! Aku dan T berhasil menghabiskan pizza itu! Sementara L dan K menyerah. Separuh pizza mereka masih tersisa dan mereka bungkus untuk dibawa pulang ke hotel. Malam itu kami pun terlelap “kekenyangan”.

Lake Como

Keesokan harinya, kami mengunjungi Lake Como, danau yang terkenal akan keindahannya dan pernah menjadi salah satu lokasi syuting film Casino Royale dalam serial James Bond. Tiket kereta kami beli langsung (on the spot) di Milano Centrale. Ngomong-ngomong soal Milano Centrale, masuk ke stasiun ini rasanya seperti memasuki sebuah bangunan bersejarah daripada sekadar stasiun kereta. Langit-langitnya menjulang tinggi, pilar-pilar batu tegak dan kokoh, dan detail arsitekturnya begitu megah. Konon usianya sudah hampir seabad, tetapi terawat dengan sangat baik. Stasiun ini mempunyai 24 peron, menjadikannya salah satu stasiun kereta terbesar di Italia.

Perjalanan dengan kereta berlangsung lancar. Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di Stasiun Varenna-Esino, pintu masuk menuju salah satu kawasan terindah di Lake Como. Dari stasiun, kami hanya berjalan kaki beberapa menit hingga akhirnya danau itu terbentang di depan kami.

Sejenak kami menikmati suasana santai. Air danau tampak tenang berkilauan diterpa sinar matahari, sementara deretan bukit hijau berdiri mengelilinginya. Setelah  berfoto-foto dengan latar Danau Como yang begitu memesona kami melanjutkan menyusuri gang-gang kecil, kafe, dan sudut-sudut Varenna yang dipenuhi bangunan berwarna-warni. Rasanya, setiap sudut desa kecil dengan danau ini begitu fotogenik. Sementara aku “jauhjenik”. Ha! 

Ada satu pengalaman lucu yang sampai sekarang masih membuat kami terpingkal bila terkenang. Setelah berjalan menyusuri gang-gang kecil Varenna, perut mulai keroncongan. L mengusulkan, “Yuk, makan di kafe yang menghadap danau. Pasti seru!”

Mungkin saat itu L sedang merasa berada di tepi Danau Toba atau Danau Maninjau kali. Di sana, menikmati makan siang dengan pemandangan danau pastilah bisa makan sepuasnya dengan harga rupiah kita. Nah, di Lake Como… ?! Tapi ok, bolehlah. Once in a lifetime. 

Dengan penuh semangat, L pun menawarkan diri untuk survei harga dan makanan di kafe-kafe dengan pemandangan menghadap danau. Baiklah. Sementara L menjalankan misinya, kami bertiga duduk sambil cuci mata di sekitar lapak-lapak kecil milik oma-oma yang menjual suvenir khas Lake Como. 

Beberapa saat kemudian, ponselku berdering.

“Hei… ke sini, cepat! Murah, lho! Homemade pasta, lagi. Pemandangannya langsung ke danau!” seru L dengan antusias.

Kami pun langsung menyusul. Seorang pelayan menyambut kami dan mempersilahkan duduk. Kami memilih meja yang menghadap langsung ke danau. Angin sepoi-sepoi bertiup pelan, air danau tampak tenang dan perut rasanya makin lapar.  

Menu disodorkan. Kami pun memilih-milih. 

“Ehh, kita sharing saja yuuk. Pesan dua kita makan berempat. Nanti takutnya porsinya sebesar pizza kemarin.” Kata L. 

“Iya bener. Setujuuu!” Kami bertiga sepakat. 

“Iya, makanan pesan dua, minuman pesan masing-masing.” Kataku sambil melirik harga makanan yang tertera antara 19 – 25 euro lah. 

Kami pun memanggil pelayan. Setelah meneliti menu dengan seksama, kami memesan, nama panjangnya lupa, semacam fried vegetable gitu dan homemade pasta with shrimp. Di menu hanya ada nama, tak ada gambar. Intinya kami ingin makan sayur dan pasta buatan lokal. 

Minuman datang terlebih dahulu. Kami pun menenggaknya untuk menghilangkan dahaga. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, satu per satu hidangan disajikan. 

“Oh ini yang fried vegetables.” Kata K sambil memotret hidangan itu. Di sana ada brokoli, kembang kol, wortel, buncis, selada dan kacang-kacangan. Dihidangkan di piring ukuran sedang. 

“Pastanya belum ya…?” tanya L.

Tak lama kemudian sepiring kecil yang berisi lima ekor udang ukuran sedang dengan posisi nungging menyusul disajikan. L dan K bergantian memotonya. 

“Pastanya mana? Koq nggak keluar-keluar?” Kami saling berpandangan.

“Iya mana ya…?” Tanyaku juga tak sabar sambil membayangkan sepiring besar pasta. 

L pun memanggil pelayan. 

“This is our order?” 

“Yess!” Jawa pelayan itu, tampak bingung sih ekspresi mukanya. Ekspresi muka kami juga tak kalah bingung saking ndeso dan polosnya. Ha ha! K mencoba melihat lagi nama hidangan di menu yang ada tulisan pasta. 

“We order pasta. Where is the pasta?” Tanya L.

“That is the pasta.” Pelayan itu menunjuk lima ekor udang tengkurap tadi yang badannya dililit dengan bihun. Allahu Akbar!!! Aku bertasbih dalam hati:)

Sepeninggal pelayan itu kami pun tertawa terpingkal-pingkal sambil membagi udang terlilit bihun itu satu-per satu ke piring kami masing-masing. 

“Ya ampun, bihun itu pasta toh.. Baru tahu kalau bihun itu termasuk pasta.” Kataku. 

“Hampir 500 ribu dapat lima udang, nanti gue beli lima kilo di Depok….” Kata L yang kami sambut dengan terbahak-bahak. 

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel kami pun tak ada henti menertawakan kejadian itu. Alhasil, kami masih lapar dan sebelum masuk kamar hotel kami mampir ke Carrefour Express untuk membeli makan malam. Mode menghemat:)

Demikian cerita Milan bagian dua hari pertama. Nantikan dua hari terakhir yang tak kalah serunya ya. Matur suwun!