Ini adalah kedua kalinya aku pergi ke Jepang.
Seperti kata banyak orang, siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di negeri Sakura ini hampir selalu ingin kembali lagi. Dan itu benar koq!
Siapa sih yang tidak terpikat oleh negara matahari terbit ini?
Kebersihannya yang nyaris tanpa cela, budayanya yang tertib dan penuh hormat, sistem transportasinya yang sangat teratur, hingga berbagai fasilitas yang tetap memudahkan wisatawan—bahkan ketika kita berada jauh dari hiruk-pikuk kota besar.
Namun, berbeda dengan perjalanan pertamaku yang berfokus pada kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, atau destinasi populer seperti Kyoto dan Shirakawa-go, perjalanan kali ini aku niatkan hanya untuk satu tujuan: Okinawa.
“Why Okinawa?”
Begitu seorang teman bertanya.
Begini ceritanya.
Sekitar tiga tahun yang lalu, seorang teman menyarankan aku untuk membaca sebuah buku international best seller. Judulnya IKIGAI: The Japanese Secret to a Long and Happy Life—sebuah buku yang mengulas rahasia hidup panjang umur dan bahagia ala orang Jepang.
Sepertinya temanku itu tahu betul bahwa aku sedang butuh pengingat tentang hidup yang bahagia. Yaaa, siapa sih yang tidak ingin panjang umur dan bahagia? Setiap kali ulang tahun, hal itulah yang selalu kita ucapkan dan juga nyanyikan.
Buku itu ternyata sangat membekas bagiku. Dari situ aku pertama kali mengenal istilah Blue Zones, yaitu lima wilayah di dunia yang dianggap “sehat” karena masyarakatnya—terutama para lansia—hidup aktif, sehat, dan bahagia hingga usia 80-an, 90-an, bahkan ada yang mencapai lebih dari seratus tahun.
Sejak saat itulah mimpi untuk bisa pergi ke Okinawa tertanam kuat di jiwa. Ha! Menabung deh!

Buku IKIGAI with the background of the monument of Longevity.
Singkat cerita, setelah mendarat di Haneda, Tokyo, aku langsung melanjutkan perjalanan dengan penerbangan domestik menuju Naha, ibu kota Okinawa. Waktu tempuhnya lumayan panjang—hampir tiga jam.
Padahal sebenarnya, Okinawa jauh lebih dekat jika ditempuh melalui Taipei, hanya sekitar satu setengah jam. Namun karena keterbatasan waktu untuk mengurus visa Taipei, ya sud lah. Sementara untuk ke Jepang dengan paspor elektronik, kan kita cukup mengajukan visa online. Kebetulan juga sih, ada seorang teman yang juga pergi ke Jepang dengan tujuan Sapporo. Jadi dari Jakarta kami berangkat bersama, lalu berpisah di Haneda.
He… he… begitu ceritanya.
Now let me tell you a bit about Okinawa.
Begitu mendarat di Okinawa, aku pikir aku tidak butuh jaket tebal karena Okinawa adalah daerah tropis seperti Indonesia. Ternyata memang tidak ada salju seperti di daratan lain di Tokyo sih, hanya anginnya itu loh, kencang sekali. Jadi suhu 15 derajat bagiku seperti lima derajat saja. Jadilah aku pakai jaket tebal, penutup kepala, dan syal.
Okinawa adalah prefektur di Jepang yang terletak jauh di selatanmainland Jepang, terpisahkan oleh Laut China Timur. Secara geografis, seperti yang di atas sudah aku sebutkan, Okinawa lebih dekat ke Taiwan. Namun, meskipun berjarak ratusan kilometer dari daratan utama Jepang, Okinawa tidak kehilangan ciri khas Jepang yang bersih, tertib, dan terorganisasi. Transportasi umum tetap berjalan rapi, fasilitas publik seperti toilet begitu terawat, dan kehidupan masyarakatnya terlihat nyata sangat disiplin. Bedanya dengan kota-kota besar di Jepang memang terasa banget sih, suasana di sana berasa ada ritme yang jauh lebih pelan, semacam slow living gitu.





Menurut sejarahnya, Okinawa dulu adalah bagian dari Kerajaan Ryukyu, sebuah kerajaan maritim yang makmur dan berperan penting dalam perdagangan antara Jepang, Tiongkok, dan Asia Tenggara. Budaya Ryukyu berkembang dengan ciri khasnya sendiri, bahasa, musik, tarian, hingga kuliner, yang berbeda dari Jepang daratan. Baru pada akhir abad ke-19, wilayah ini secara resmi dianeksasi dan menjadi bagian dari Jepang modern.
Sejarah Okinawa juga tak lepas dari luka Perang Dunia II. Pertempuran Okinawa menjadi salah satu pertempuran paling berdarah di Pasifik. Ingat gak dulu jaman SMP (jamanku sih) kita belajar tentang sejarah Perang Dunia II? Karena itu, sebagai masyarakat yang sangat menghargai para pendahulunya, di Okinawa ada Peace Memorial Park di Itoman, lokasi paling penting dan sakral terkait PD II di okinawa.
Setelah perang berakhir, Okinawa berada di bawah administrasi AS hingga tahun 1972. Sampai sekarang, jejak sejarah itu masih terasa melalui keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di Kadena. Area ini berdekatan dengan American Village yang ada di Chatan. Kehadiran pangkalan ini sebenarnya terasa kontras dengan suasana yang damai tetapi sekaligus hampir setiap saat deru pesawat tempur terdengar di udara.

Salah satu sudut di American Village
Di Naha aku menginap di sebuah hotel di jantung kota Naha. Namun di Naha itu, sebagai kota terbesar di Okinawa, yang membuat aku sangat tertawan adalah tata kotanya dan ketertiban lalu lintasnya. Selain itu, kecintaan masyarakat Okinawa terhadap identitas lokal mereka. Simbol “O”—huruf yang merujuk pada Eat Okinawa—muncul di berbagai tempat di sisi kiri kanan jalan. Tadinya aku pikir bendera partai, (kalau di Indonesia kan jalanan penuh bendera partai he..he!

Kecintaan pada lokal ini tampak sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di tempat-tempat makan menu utama adalah menu olahan khas Okinawa, seperti goya champuru (tumis pare), tahu Okinawa yang lebih padat, ubi ungu (beni imo), rumput laut, ikan segar, serta Okinawan Soba. Di Nago ada Nago Pineaple Park, di mana berbagai olahan produk dari nanas bisa kita temukan. Ada juga Okashi Goten, sebuah toko oleh-oleh dan produsen makanan khas Okinawa yang sangat terkenal. Ikonnya adalah Beni Imo Tart, kue tart dari ubi ungu Okinawa (beni imo).



Meskipun ada juga sih AW, McD dan makanan modern lain di sekitar American Village.
Di ruang-ruang publik, di taman kecil, di lapangan terbuka, hingga tepi pantai, terlihat para lansia yang berolahraga. Di tempat umum itu disediakan peralatan kebugaran yang dipandu mulai dari step 1 hingga 10. Di lapangan terbuka terlihat para lansia bermain groundgolf, olahraga ringan yang sangat populer di sana, mirip bermain golf gitu sih.



Mengenai kepercayaan, masyarakat Okinawa tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan tradisional Ryukyu. Berbeda dengan Jepang daratan yang banyak dipengaruhi Shinto dan Buddha dalam bentuk institusional, kepercayaan di Okinawa lebih bersifat spiritual dan alami.
Di Okinawa, hampir setiap rumah memiliki patung Shisa. Shisa adalah sepasang makhluk mirip singa yang biasanya diletakkan di atap rumah, gerbang, atau halaman depan. Shisa adalah simbol pelindung khas Okinawa. Asal-usul Shisa sendiri diyakini berasal dari pengaruh budaya Tiongkok dan Asia Tenggara yang kemudian berkembang dalam tradisi Kerajaan Ryukyu.

Shisa, pelindung khas Okinawa
Di bagian utara Okinawa, terbentang Yanbaru Forest, hutan subtropis yang menjadi salah satu jantung alam Okinawa. Hutan ini juga memiliki makna penting bagi masyarakat lokal, terutama dalam kepercayaan tradisional Ryukyu. Dalam cerita rakyat Okinawa, hutan Yanbaru itu dihuni oleh makhluk bernama Bunagaya, sosok mitologis yang dipercaya sebagai penjaga alam. Bunagaya adalah simbol bagaimana masyarakat Okinawa memandang hutan sebagai ruang hidup yang harus dihormati, bukan ditebang dan dihabisi…eits! Emang di Konoha?!

Di bawah pohon itu ada monumen yang menceritakan tentang Bunagaya, spirit yang dipercaya hidup di hutan Yanbaru. Konon si Bunagaya ini akan marah bila ada tindakan perusakan alam di Okinawa, karena itu masyarakat Okinawa sangat menjaga dan menghormati alam supaya Bunagaya tidak memuntahkan amarahnya dalam bentuk bencana alam.
Menariknya, kedekatan dengan alam seperti Yanbaru Forest dan kepercayaan pada mitos Bunagaya ini tampaknya ikut membentuk cara hidup masyarakat Okinawa, terutama di wilayah utara seperti Ogimi.
Nah ikuti lanjutan tulisan berikutnya ya! (Bag 2: Ogimi; Desa Umur Panjang)
“In places where life moves slowly, we remember how to breathe”.
