Ketika film ini pertama kali tayang, pada tanggal 10 Juli 2025, disambut dengan antusiasme oleh masyarakat untuk menontonnya. Terlebih, film ini sebelumnya ternyata sudah pernah diputar sebagai film pendek di seputaran tahun 2017. Film yang dibintangi Sheila Dara Aisha (isteri almarhum Vidi Aldiano) yang memerankan Sore, dan Dion Wiyoko yang berperan sebagai Jonathan ini juga akhirnya dirilis di Netflix sejak 8 Januari 2026. Dan yeeahh… akhirnya di libur Lebaran beberapa waktu yang lalu aku baru menontonnya.
Film ini mengambil Kroasia sebagai latar utamanya, which is bagian yang aku paling suka:)
Di bagian-bagian awal, aku sempat sedikit bingung dengan plot ceritanya. Ketika tiba-tiba saja Sore muncul di saat-saat Jonathan sedang melakukan kegiatan-kegiatan kesehariannya bahkan ketika dia sedang berduaan dengan kekasihnya. Sore hadir di sana tanpa merasa risih atau bersalah.
Film Sore: Istri dari Masa Depan ini menggunakan konsep time tunnel—terowongan waktu, sebuah ide fiksi di mana seseorang bisa melintasi waktu untuk kembali ke masa lalu atau datang dari masa depan.
Sore menggunakan konsep time travel ini secara emosional dan personal yang menyentuh kehidupan pribadi sang tokoh utama (Jonathan). Akhirnya, pelan-pelan aku mulai bisa memahami jalannya cerita terlebih ketika aku bisa menghubungkan film ini dengan sebuah novel Jepang yang pernah aku baca: Before the Coffee Gets Cold—atau yang dikenal juga dengan versi terjemahan Indonesianya sebagai Funiculi Funicula. Di dalam novel ini digambarkan di sebuah kafe kecil, orang-orang bisa kembali ke masa lalu mereka. Namun dengan satu syarat yang sederhana tetapi menyakitkan: mereka tetap tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
Menonton film Sore ini mengajak kita membayangkan:
Bagaimana jika kita diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu?
Lucu sih menurutku. Karena apa yang sudah terjadi, kalau dalam keyakinan agamaku, namanya takdir. Takdir yang sudah terjadi itu tak mungkin bisa berubah atau berganti. Kita kembali ke masa lalu untuk merenung dan belajar dari kesalahan-kesalahan yang terjadi agar tidak terulang lagi. Bukan untuk mengubah segalanya, hanya untuk memahami atau sekadar merasakan sekali lagi dengan lebih sadar.
Tetapi ada sedikit perbedaan sih antara cerita dalam Funiculi Funicula dan film Sore ini.
Di Funiculi Funicula, orang kembali ke masa lalu bukan untuk mengubah takdir, tetapi untuk mengatakan hal-hal yang belum sempat diucapkan. Lebih ke usaha untuk menutup luka yang masih terasa. Untuk berdamai, kira-kira begitulah.
Sementara dalam Film Sore, ada sosok Sore yang datang dari masa depan. Perasaan itu atau mungkin imajinasi tokoh utama dihadirkan dalam bentuk yang visual dan ada pilihan-pilihan sikap dan perbuatan yang ternyata akan membawa dampak besar di masa yang akan datang. Dan ternyata di balik pilihan hidup sang tokoh, ada luka lama (hubungan yang tidak baik) dengan Bapak kandungnya yang membuat sang tokoh utama menyimpan luka itu bertahun-tahun, sendiri. Di sinilah sisi yang menyentuh emosi terdalam para penonton. Bahwa ternyata menyimpan luka lama itu bisa berdampak besar pada pilihan-pilihan hidup kita.
Baik film atau novel Funiculi Funicula dan Sore, keduanya meninggalkan satu pesan yang sama sih:
Bahwa waktu itu tidak pernah memberi kita kesempatan berulang. Dari sisi ini, kita diingatkan untuk lebih sadar akan setiap pilihan yang kita ambil.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering merenung dan berandai-andai akan suatu hal yang sudah terjadi dan kita sesali di masa lalu. Hal yang sama, kita juga sering berangan-angan, seandainya aku begini-begitu, apa yang akan aku dapat di lima tahun mendatang…, misalnya.
Film ini bagus sih untuk mengingatkan kita, untuk jeda-berhenti sejenak, dan bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang belum sempat kita katakan? Apa yang semestinya kita lakukan kala itu? Apa yang selama ini selalu kita tunda?
Waktu akan terus berjalan, kejadian boleh berulang, tetapi tidak dengan waktu. Benarlah nasehat para orang bijaksana: hargailah waktu.
Sore-seperti kala sore, datang bukan untuk mengulang hari, tetapi untuk jeda, yang mengingatkan kita bahwa hari itu tersisa hanya sedikit saja.
Begitu kira-kira.


