Where three voices meet: Parent-Teacher-Student Conference (PTSC)

Aku mengajar Bahasa Indonesia untuk anak-anak dengan paspor Indonesia yang tidak begitu lancar berbahasa Indonesia. Bingung, kan? Tak perlu.

Baru saja berlalu salah satu kegiatan rutin dalam profesi seorang guru: Parent–Teacher–Student Conference—pertemuan antara orang tua, murid, dan guru. Sebuah momen yang selalu mengingatkan bahwa kegiatan mengajar bukan hanya tentang materi pelajaran di dalam kelas.

Sebagian besar orang mungkin menganggap peristiwa ini hanyalah sebuah pertemuan biasa. Dahulu, aku pun pernah berpikir demikian. Namun setelah aku renungkan, pertemuan singkat di dalam ruang kelas itu sebenarnya adalah pertemuan tiga pilar yang bermakna: sebuah segitiga sinergi antara usaha siswa dalam perjalanan belajarnya, bimbingan guru, dan harapan orang tua. Pantas saja ada sekolah yang menyebut momen ini sebagai pertemuan tentang “Hope and Fears.”

Selama dua hari itu, jadwalku penuh. Maklum saja, jumlah murid dalam kelas cukup banyak.

Satu per satu murid datang bersama orang tua mereka. Ada yang memasuki ruangan dengan wajah ceria dan santai, ada pula yang tampak muram; mungkin karena cemas atau takut. Wajah-wajah itu seakan menunjukkan jati diri mereka masing-masing.

Beberapa orang tua datang dengan buku catatan di tangan, mencatat setiap masukan dari guru dan hal-hal penting lainnya. Ada yang terlihat bangga terhadap pencapaian anaknya, ada pula yang datang dengan kekhawatiran akan masa depan buah hati mereka.

Pemandangan itu membuatku teringat pada masa ketika anak-anakku masih duduk di bangku SMP dan SMA. Aku juga pernah merasakan kebanggaan, ketakutan, dan harapan yang sama.

Satu hal yang selalu menyentuh adalah ketika para murid ABG—anak baru gede—itu mulai berbagi cerita tentang perjalanan belajar mereka. Tentang sikap mereka, tentang tanggung jawab mereka sebagai murid, dan juga sebagai anak dari orang tua yang berjuang membiayai pendidikan mereka.

Reaksi para orang tua pun beragam ketika mendengar anaknya berbicara.

Ada yang spontan menepuk bahu anaknya dengan bangga.
Ada yang terpingkal menanggapi kelucuan anaknya, yang di rumah mungkin jarang berbicara dalam Bahasa Indonesia, tetapi di ruang konferensi itu tiba-tiba bercerita dengan begitu lancarnya.

Di sisi lain, ada pula orang tua yang meluapkan kekecewaannya.

“Ayah atau Mama bayar mahal untuk sekolahmu di sini…tetapi kamu…bla..bla..bla…”
Kalimat seperti itu kadang muncul di tengah percakapan.

Ha! Dunia orang tua dan anak memang tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sering kali, di tengah-tengah percakapan itu, sesuatu yang mengharukan muncul.

Sebuah kejujuran.
Sebuah penghargaan karena didengar.
Sebuah pemahaman tentang dinamika hubungan antara orang tua dan anak.

Begitulah.

Pertemuan itu selalu menjadi pengingat penting bagiku. Meskipun aku telah menjalani profesi sebagai guru selama puluhan tahun, selalu ada momen yang mengingatkan bahwa mendidik anak bukanlah perjalanan yang lurus, mulus, dan tanpa hambatan.

Setiap anak memiliki jalannya masing-masing.

Seperti mobil di jalan tol:
ada yang melaju cepat, wesss… menyalip kendaraan lain,
ada yang berjalan tenang dengan kecepatan konstan,
ada pula yang tiba-tiba berhenti karena “mesinnya” mogok.

Setiap anak belajar dengan cara dan ritme yang berbeda.

Semua ini mengingatkanku pada sebuah buku berjudul The Future of Smart karya Dr. Ulca Joshin Hansen. Dalam buku itu dijelaskan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada nilai, tugas-tugas, atau rapor semata. Karena di balik setiap usaha belajar seorang anak, apapun mata pelajarannya—ada seorang manusia kecil yang sedang dalam perjalanan menemukan dirinya.

Pada akhirnya, mendidik anak memang takes a village.

Ia membutuhkan kerja sama, bahu-membahu antara sekolah, guru, dan orang tua. Sebab profesi mengajar bukanlah profesi yang berjalan sendiri.

Mengajar adalah profesi yang dijalankan bersama.

Tinggalkan komentar