Membaca itu (mengapa) susah: (Sebuah Catatan dari SENIA Conference)

Ceritanya, hari Sabtu kemarin (7 Februari 2026), aku berkesempatan mengikuti SENIA CONFERENCE di Sekolah Pelita Harapan (SPH) Lippo Village Karawaci. Hitung-hitung lumayan untuk refresh memory, update pengetahuan dan memang kebetulan di kelasku ada seorang anak berkebutuhan khusus yang mengikuti kelas mainstream. 

Oh ya, untuk yang belum tahu atau lupa, apa sih SENIA itu? 

SENIA adalah organisasi pendidikan internasional yang berfokus pada pendidikan inklusif dan memberikan dukungan bagi siswa dengan kebutuhan belajar yang beragam (learning differences / learning needs), terutama di kawasan Asia, meski anggotanya datang dari berbagai negara.

SENIA: Special Education Network in Asia

Membaca itu ternyata bukan kegiatan yang sederhana dan bukanlah aktivitas tunggal. Membaca adalah kerja kolaboratif yang rumit dan kompleks di dalam otak manusia.

Jadi saat kita membaca, otak kita tidak hanya “melihat huruf”, tetapi secara bersamaan harus:

-Mengenal simbol visual, kemudian menghubungkannya dengan bunyi, kemudian memproses makna setiap kata, lalu memahami susunan kalimat, dan langkah terakhir….ini yang penting, mengaitkannya dengan background knowledge. 

Nah, untuk langkah terakhir itu, pahamlah kita yang berprofesi sebagai guru bahwa betapa besar perjuangan murid memahami teks bacaan yang dia tak punya background knowledge. Dengan kata lain, penting buat guru untuk memberikan teks bacaan dengan topik yang familiar. 

Betapa membaca adalah kegiatan yang menguras energi kognitif. Benar! Apalagi jika teksnya panjang, kosakata banyak yang asing, atau topiknya tidak dekat dengan pengalaman kita. Otak harus bekerja keras, sementara dunia di luar menawarkan distraksi yang jauh lebih “menarik”, seperti: video pendek, gambar, suara, atau iklan-iklan.

Sampai di sini bisalah kita pahami bahwa membaca adalah proses kognitif yang melelahkan, kecuali untuk mereka yang sudah menjadikannya sebagai kebiasaan. Untuk mereka ini membaca sudah sampai ke level reading for pleasure. 

Kebiasaan membaca ini yang mestinya harus digalakkan tanpa henti di sekolah-sekolah. Menanamkan kebiasaan terkadang harus dikondisikan. Harus dibuat jadwal khusus yang memaksa murid-suka atau tidak-untuk duduk diam membaca. Salah satu program yang bisa diterapkan adalah Silent Sustained Reading (SSR), di mana sekolah membuat program ini wajib yang harus dilakukan oleh guru dan murid.  

Berbicara tentang kebiasaan membaca, beberapa survei menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masihlah sangat rendah secara global. Menurut hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor rata-rata membaca siswa Indonesia (15 tahun) berada di sekitar 359, jauh di bawah rata-rata skor global yang mencapai sekitar 476. Skor ini menempatkan Indonesia di peringkat bawah di antara puluhan negara peserta tes internasional tersebut. Memprihatinkan ya?

Sangat sedikit orang Indonesia yang sudah mempunyai kebiasaan membaca buku secara serius jika dibandingkan populasi di negara-negara maju yang sudah membudayakan membaca sebagai aktivitas rutin harian mereka. 

Seorang siswa SMA asyik membaca buku sambil menunggu bisa sepulang sekolah. (Foto di ambil di piggiran kota kecil Naha, Okinawa).

Membaca itu (mengapa) susah.  Karena membaca bukan kegiatan yang otomatis bisa dilakukan oleh semua orang, seperti mendengar dan berbicara. 

Dalam ilmu literasi dan neurosains pendidikan, bahasa lisan (oral language)  diakui sebagai fondasi utama kemampuan membaca dan menulis. Sebelum seorang anak bisa membaca dan menulis, ia sudah lebih dulu bisa berbicara. Otak kita belajar bahasa melalui: mendengar, meniru, memahami makna, dan menyusun kalimat secara verbal.

Kesimpulannya, membaca dan menulis bukan keterampilan yang “alami”, tapi keterampilan yang dibangun di atas kemampuan bahasa lisan yang sudah ada. Dengan kata lain kita bisa membaca dengan baik kalau bahasanya sudah kita kuasai secara lisan.

Sebagai guru bahasa, bagiku ini menjelaskan banyak hal di kelas: 

-Ada siswa bisa membaca lancar, tapi tidak paham isi teks.

-Ada siswa kesulitan menulis, karena tidak biasa mengungkapkan ide secara lisan.

Ternyata semua itu karena  fondasi bahasa lisan yang belum kuat. Karena itu berbarengan dengan menanamkan kebiasaan membaca harus juga ditanamkan budaya berdiskusi, bertanya, dan mengekspresikan pikiran secara lisan dalam kegiatan berdebat, misalnya. Karena anak yang terbiasa berbicara, bercerita, berdiskusi, dan mendengar cerita, akan lebih siap untuk membaca dan menulis.

Jadi, mari tanpa lelah kita budayakan membaca.

Before children learn to read words, they need to feel safe to use their voice.

Tinggalkan komentar