Menghadapi Hasil PET Scan: Kisahku, Seorang Penyintas Kanker

Setelah menunda-nunda-jujur alasan utamanya adalah karena menyiapkan mental untuk menghadapi hasil PETSCAN-Desember lalu, aku akhirnya melakukan PET scan. Kenapa akhirnya aku berani? 

Tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 sedang merajalela, aku didiagnosis menderita breast cancer yang bersifat malignant—ganas. Di tengah ketakutan kolektif akan COVID dan situasi ketidakpastian, aku  harus menjalani operasi dengan mengikuti seluruh protokol kesehatan yang berlaku saat itu. Di penghujung tahun, aku sebuah operasi besar: mastektomi dilakukan. 

Setelah operasi itu, perjalanan panjang pengobatan pun dimulai. Satu per satu harus kulalui—kemoterapi, radiasi, hingga konsumsi obat tablet setiap hari selama lima tahun penuh, tanpa jeda. Nah karena sudah lima tahun sejak semua treatment selesai— aku merasa siap sekarang. Sebenarnya sih dokter sudah menyarankan sejak di tahun ke-3 dan ke-4. Suka atau tidak, aku harus punya keberanian untuk melihat tubuh sendiri dengan jujur.

Akhirnya aku memilih RS Tzu Chi di Pantai Indah Kapuk. Setelah proses pendaftaran selesai, tibalah hari yang sejak lama hanya ada di kepalaku itu. Bismillah.

Sebelum pemeriksaan dimulai, petugas mengatakan bahwa ada  cairan bening yang akan disuntikkan ke dalam tubuhku. Kata petugas, cairan itu membawa sinar radiasi—zat penanda yang akan membantu mesin membaca apa yang tak kasatmata di dalam tubuh. 

Saat menerima pengarahan, bayanganku langsung melayang ke hal-hal yang terasa menyeramkan: aku harus terbaring telentang, tak bergerak sama sekali, selama kurang lebih tiga puluh menit. Tiga puluh menit itu panjang, lho,  apalagi ketika tubuh diminta mematung, batuk pun dilarang! 

Foto dari Google Image.

Mesin PETscan itu berdiri di tengah ruangan—besar, putih, dengan lubang bundar seperti terowongan. Kaku dan dingin. Ruangannya sendiri terasa dingin semriwing, sunyi, hanya ada suara mesin dan langkah kaki petugas yang sesekali terdengar. Aku disuruh berbaring di atas meja yang kemudian  perlahan bergerak masuk ke dalam lingkaran semacam terowongan tadi. Seolah tubuhku ditelan oleh sebuah ruang hampa. Ketika itulah sinar yang tadi diinjeksikan itu bekerja dalam tubuhku, membaca sel demi sel. Whatever will be, will be! Kataku dalam hati. 

Setelah proses pemeriksaan selesai, aku diminta menunggu di sebuah ruangan khusus untuk memastikan tidak ada reaksi lanjutan, seperti mual atau muntah. Alhamdulillah, tubuhku merespons dengan baik—tak ada keluhan berarti.

Sebelum pulang, petugas menyampaikan beberapa pesan penting: aku diminta minum air putih sebanyak mungkin agar sisa zat radiasi dalam tubuh segera terbuang, dan untuk sementara waktu aku tidak diperkenankan berada dekat dengan anak kecil maupun ibu hamil, setidaknya selama lima jam setelah PET scan.

Beberapa hari kemudian, hasilnya keluar. Taraaaa!!! Hasilnya? Alhamdulilah, baik.

Aku bawa hasil itu ke dokter yang sejak lima tahun lalu menangani penyakitku ini. Dokter ikut senang dan terus memberiku semangat, seperti yang selalu dilakukannya sejak awal. Aku merasa lega dan tenang, setelah menahan ketakutan terlalu lama.

Hidup sebagai seorang penyintas kanker mengajarkanku satu hal penting. Penyakit ini memang menjadi momok bagi banyak orang, namun kenyataannya ia bisa menghinggapi siapa saja, tanpa mengenal batas usia.

Aku belajar menerima bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa kita kontrol. Yang bisa kita kendalikan adalah sikap dan reaksi kita, saat pertama kali menerima diagnosis, selama menjalani pengobatan, hingga setelah dinyatakan bersih. Aku belajar berdamai dan melanjutkan hidup dengan lebih sadar.

PET scan ini bukan garis akhir. Ia hanya penanda bahwa sejauh ini, aku masih di jalur yang benar. Bahwa tubuhku  ini, adalah anugerah yang harus dijaga. Hanya itu yang kita bisa, selebihnya, Allah yang punya kuasa.