The Okinawa Trip (Bag.2)

Ogimi: Desa Umur Panjang

Pergi ke Okinawa belum  lengkap rasanya kalau tidak lanjut ke Ogimi. Ogimi adalah nama sebuah desa kecil di bagian utara Okinawa. Desa ini aku kenal lewat buku: IKIGAI: The Japanese Secret to a Long and Happy Life.

Ogimi disebut sebagai salah satu tempat di dunia yang katanya cocok dengan konsep Blue Zones. Konsep “Area Biru” ini adalah wilayah di mana manusia hidup lebih panjang, lebih sehat, dan lebih bahagia bukan karena teknologi canggih atau fasilitas medis mewah, melainkan karena cara hidup mereka yang sederhana dan being mindfull. 

Dari Naha Bus Terminal, aku lanjut ke Nago Bus Terminal, kemudian baru ke Ogimi. Total perjalanan menuju Ogimi memakan waktu hampir dua jam dengan bis, tanpa macet!. Sepanjang perjalanan pemandangan lautan luas diselingi dengan hamparan hijau, yang akhirnya aku tahu bahwa itu adalah Yanbaru Forest. Hutan sub-tropis yang merupakan jantung alam bagi pulau Okinawa. 

Sesampainya di Ogimi, sebuah monumen deklarasi umur panjang terpampang. Monument of Longevity ini adalah pernyataan tekat warga senior Ogimi untuk berusia panjang dan sehat. Sampai mereka nyatakan di sebuah monumen, ya…luar biasa!

Monument of Longevity – Ogimi

Begitu memasuki area desa, aku langsung bisa merasakan apa yang digambarkan dalam buku IKIGAI.  Suasana tenang. Hidup terasa begitu pelan. Tidak ada yang buru-buru. Tidak ada hiruk-pikuk. Tidak ada kucing atau anjing berkeliaran. Rumah-rumah sederhana, jalan desa yang begitu bersih, dan udara yang segar. 

Dalam IKIGAI, salah satu kunci hidup panjang adalah tetap aktif secara fisik. Di Ogimi, hal ini seolah sudah mendarah daging. Setiap pagi, para lansia masih aktif membaca berita dengan berlangganan koran, kemudian mereka berjalan santai, berkebun, bermain groundgolf  di ruang publik yang disediakan. Hubungan sosial  mereka terus terjaga dengan Moai, yaitu sebuah perkumpulan dan pertemuan rutin untuk saling membantu anggota yang sedang membutuhkan. Semacam arisan, tetapi tidak dikocok dan dapat bergiliran, melainkan siapa yang membutuhkan, dia yang akan mendapatkan sejumlah uang yang dikumpulkan bersama.

Meskipun Ogimi sangat jauh dan  terpencil, tetapi para lansia di sana tidak hidup terisolir. Konon para lansia di desa ini dulunya ketika masih muda adalah para profesional atau pegawai yang bekerja di kota-kota besar. Ketika masa pensiun tiba mereka memilih tinggal di lingkungan yang tenang. 

Di Ogimi, para warganya saling berbagi, dan saling memberikan support tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tanpa pamrih. Misalnya, ada warga yang mempunyai lahan di pekarangannya. Dia akan menanam sayur mayur dan mempersilakan siapapun untuk memetiknya. Begitu juga bila ada warga yang mencari ikan ke laut, konon dia pun membagi hasil tangkapan ikannya dengan para tetangganya. Hal lain yang juga tak kalah menarik adalah jeruk shikuwasa. Jeruk ini adalah jeruk khas Okinawa dan hanya tumbuh di Okinawa khususnya di Ogimi. Meskipun sama ukurannya dengan jeruk santang yang banyak kita dapati di Indonesia, jeruk ini berbeda. Jeruk shikuwasa lebih berkhasiat dan dipakai sebagai healing karena kandungan vitamin C-nya yang sangat tinggi, lebih tinggi dari jenis jeruk lainnya.

Jeruk Shikuwasa dan sirup murni shikuwasa

Jeruk shikuwasa ini bisa kita temukan di mana-mana karena hampir di setiap rumah atau lahan di Ogimi ada tanaman ini. Kata, Nami, pemilik guesthouse di mana aku tinggal selama di Ogimi, kita bisa memetik jeruk ini kapanpun dan sebanyak apapun kita mau! Waaah… !

Jadi misalnya kita sedang jalan kaki, kemudian capek dan berhenti, berhenti saja di bawah pohon jeruk ini dan nikmati jeruknya sepuasnya, GRATIS! Begitu juga kalau mau masak, tinggal modal soba atau mie instan, sementara sayuran kita boleh petik di mana saja. Tapi…meskipun begitu, nampaknya karena budaya tahu diri dalam masyarakat itu sudah begitu kuat melekat, sepertinya setiap orang sadar diri saja. Kalau mereka sering mengambil sayur, berarti mereka harus juga membantu menanam, kalau mereka sering mengambil jeruk di satu tempat, mereka juga akan membantu membersihkan halaman atau membantu memetik atau membuatkan jus. Semua serba sukarela. Begitu cerita Nami yang membuat aku terkagum-kagum. 

Pola makan warga Ogimi sangat alami, organik, dan sederhana. Di sepanjang jalan ketika aku menyusuri desa, tidak banyak warung, bahkan hanya menemukan satu warung lokal, Emi No Mise, kafe, dan toko kelontong. Warung makanan lokal yang juga disebutkan dalam buku IKIGAI. Makanan sehari-hari warga Ogimi adalah bahan lokal: sayuran, rumput laut, ikan segar,  imo (ubi), dan buah-buahan tropis. Dan mungkin karena jauh dari kota, para warga banyak yang berkebun sendiri, menanam sayuran di lahan-lahan di sekitar rumah mereka. 

Kebun sayur

Hal yang paling berkesan bagiku di Ogimi adalah keramahan penduduknya. Desa ini tidak besar, dan seperti layaknya desa pada umumnya, hampir semua warganya saling mengenal. Karena itu, kehadiran pendatang langsung terasa. Saat berpapasan, mereka spontan menyapa, tersenyum, atau sedikit membungkuk. Jika kebetulan bisa berbahasa Inggris, mereka tak ragu mengajak berbincang,  seolah ingin membuat kita merasa diterima.

Tulisan papan itu adalah peringatan untuk tersenyum..he..he, jadi hukum tersenyum dan menyapa seperti menjadi syarat wajib bagi warga.

Ogimi kerap didatangi oleh para health enthusiast yang tertarik dengan pola hidup masyarakat di desa tepi pantai ini. Menariknya, banyak dari mereka tidak hanya  singgah sebentar. Para wisatawan, lokal maupun mancanegara, biasanya tinggal cukup lama, mulai dari dua minggu hingga berbulan-bulan. Mereka menyatu dengan warga: ikut bermain game, bergabung dalam perkumpulan, karaoke bersama, atau sekadar duduk mengobrol. Intinya, ikut merasakan irama kehidupan yang sesungguhnya, bukan sekadar mengamatinya dari luar atau membacanya dari buku.

Haruka yang baik hati, seorang Health Coach yang bersuamikan Canadian yang tertarik dengan sejarah Okinawa dan akhirnya menetap di Ogimi. Mereka hidup damai bersama anjing dan dua kucingnya:) By the way, itu ya, di luar rumah nampak sangat sederhana, tapi di dalamnya, peralatan rumah dan dapur yang hi-tech, lho!

Aku sendiri ingin suatu hari bisa kembali ke Ogimi dan tinggal lebih lama di sana. Segarnya menghirup udara segar setiap pagi, makan makanan organik langsung dari bumi, dan tentu saja, menikmati jeruk shikuwasa sepuasnya. Siapa tahu sepulang dari sana aku jadi lebih sehat, lebih jrenggg… ha ha… dan yang paling penting, lebih bahagia, bahagia dengan POV yang berbeda pastinya.

Thank you for the peace and hospitality, Ogimi!

“In Ogimi, even the sea listens, and the trees tell a story that longevity begins not in medicine, but in community, movement, and meaning”.

Tinggalkan komentar