Pernak-Pernik Join-Trip “Atap Dunia”: Antara Drama, Tawa, dan Pelajaran Hidup
Ada momen-momen sederhana yang meninggalkan jejak di hati paling dalam. Ketulusan yang terpancar dari anak-anak, uluran tangan tanpa pamrih, dan sapaan polos yang tak mengenal batas bahasa dan bangsa. Semua itu menghadirkan rasa haru yang sulit dijelaskan. Dalam diri anak-anak, kita sering menemukan cermin yang paling murni, yang mampu mengetuk hati. Children always remind us how we used to be when we were kids.
Begitu juga dalam perjalanan melintasi pegunungan Pamir ini. Ada beberapa kejadian berinteraksi dengan anak-anak selama di perjalanan, namun aku hanya akan menuliskan dua hal saja sebagai highlight yang menggetarkan hati.
Pertama.
Siang itu terik sekali. Rombongan akan menuju destinasi berikutnya seusai meninggalkan Koridor Wakhan. Rombongan mobil no.1 yang penumpangnya adalah TL (Team Leader kami, Agustinus dan Nazar, Pemandu lokal) berhenti sebentar di sebuah toko kecil untuk membeli kebutuhan makan siang rombongan. Eh..aku yang memang sudah kebelet pipis sejak tadi, merasa tak mungkin lagi untuk diam. Keluarlah aku dari mobil. Celingak-celinguk, tidak menemukan tanda-tanda tempat yang bisa menolong aku. Di seberangku, hanya ada sebuah rumah besar di samping toko kecil itu. Wah, bagaimana caranya ya, masa iya aku gedor-gedor pintu gerbangnya!
Eh, ndilalah, dari arah yang berbeda, muncul tiga bocah berjalan dan melintas tepat di depan gerbang rumah di mana aku berdiri. Mereka memandangku sambil memperlambat langkah kaki. Segera saja aku menyapa mereka dan bertanya dengan satu kata, “Toilet?” Ekspresi muka mereka mengisyaratkan agar aku mengulagi perkataanku. Aku ulangi lagi, kali ini dengan bantuan gestur tangan dan ekspresi wajah kebelet. Untungnya, kata “toilet” rupanya kata yang universal. Dalam bahasa mereka, Tajikistan, kata itu juga mirip bunyinya, yaitu Туалет (Tualet). Mereka langsung paham.
Dengan sigap, ketiganya menunjuk ke pintu gerbang yang ternyata tidak terkunci. Salah satu dari mereka membukanya dan mereka bertiga berlari-lari kecil sambil melambai-lambai, memberi isyarat agar aku mengikuti kemana mereka pergi. Toilet! Duh, para penyelamatku!
Tak lama, tiga teman yang melihat “kesuksesanku” ini, langsung menyusul dari belakang, hmmm! Rupanya bukan hanya aku yang kebelet.
Tiga bocah tadi, entah apa hubungan mereka dengan pemilik rumah besar nan megah di balik gerbang ini, ternyata tidak langsung pergi. Mereka menunggu kami semua hingga selesai dengan urusan pertoiletan. Tak lama kemudian, beberapa perempuan keluar dari dalam rumah dan mencoba menyapa kami dengan ramah. Tiga bocah itu pun ikut nimbrung, seolah ingin menjadi penerjemah, meski bahasa Inggris mereka pun masih belepotan. Tapi siapa yang peduli? Kebaikan dan keramahtamahan itu tidak mengenal perbedaan bahasa, bukan?.
Saat kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih, bocah-bocah itu mengatakan sesuatu sambil tangan mereka bergerak membuat lingkaran besar. Awalnya kami tidak paham apa maksudnya sampai akhirnya seorang wanita keluar rumah dengan membawa dua roti bundar besar. Kami sangat terharu. Mereka memberi kami roti! What? Diizinkan menumpang ke toilet saja, rasanya sudah sangat membuat kami berutang budi. Terus diberi bekal pula!
Untuk beberapa saat, karena terharu dan hanya bisa diam. Kemudian kami berkata dengan segala daya upaya, bahasa tubuh dan ekspresi wajah, “We will pay….” Namun anak-anak itu mengangkat tangan sambil serentak bilang, “No..No….No! For you…for you..!

You’ll be in my heart, kids:)
Sebuah ketulusan yang hadir begitu saja, tanpa pamrih. Kebaikan yang mengingatkan kita bahwa di dunia ini masih begitu banyak kebaikan yang murni. Perjumpaan singkat, yang awalnya niat numpang pipis itu, berubah menjadi momen kecil yang menyentuh sisi terdalam dari rasa kemanusiaan. Di dunia yang sering kali keras dan curiga terhadap yang berbeda, momen ini mengajarkan bahwa kadang, manusia hanya perlu sedikit keberanian untuk membuka hati, selebihnya akan dituntun oleh rasa kasih kepada sesama.
Mungkin bagi bocah-bocah tadi, kejadian ini hanya sepenggal hari biasa yang akan segera terlupa. Tapi bagi kami, momen itu akan selalu tinggal sebagai kenangan yang menyejukkan hati. Spasibo!
Kedua.
Di antara peserta rombongan, ada peserta termuda, yang menjadi kesayangan semua orang. Namanya Adrian yang ikut tur bersama keluarganya dari Bali. Usianya 11 tahun. Adrian adalah anak selalu ceria dan kocak, polos khas anak-anak.
Siang itu rombongan sedang piknik dan makan siang di sebuah taman, yang bersebelahan dengan padang rumput luas berbatas kaki gunung. Adrian yang pecinta bola ini selalu membawa bola dan memainkannya di manapun kesempatan dia bisa bersama dua anak lain yang juga peserta rombongan. Salah satunya adalah kakaknya sendiri.
Ketika tiga anak itu sedang asyik bermain bola di padang rumput tadi, tiba-tiba serombongan anak-anak lokal datang dan bergabung bermain. Tak ada kata pembuka, tak ada basa-basi. Bola pun menjadi bahasa universal yang menyatukan mereka. Jadilah permainan bola antar anak bangsa itu tontonan yang menarik bagi kami yang sedang menikmati makan siang di semilir angin pegunungan.

Piknik dan makan siang di taman
Lapangan rumput itu pun berubah menjadi arena pertandingan persahabatan lintas bangsa. Tawa dan teriakan mereka berpadu dengan desir angin pegunungan. Kami sangat antusias menonton dan memotret untuk mengabadikan momen langka itu. Namun sayang, permainan harus segera diakhiri seiring jam piknik usai dan rombongan harus kembali berkonvoi.



Dengan berat hati Adrian berpisah dengan teman-teman barunya itu. Nampaknya, sesama penggemar bola selalu ada chemistry untuk langsung terkoneksi. Sebelum kembali ke mobil, Adrian memberikan bolanya kepada anak-anak lokal itu, sebagai hadiah, katanya. Dengan raut muka yang seakan tak percaya menerima kebaikan yang tiba-tiba itu, anak-anak lokal itu pun dengan bahasa mereka bertanya kepada Agustinus Wibowo yang mengerti bahasa mereka untuk memastikan bahwa bola itu benar-benar diberikan ke mereka.
Mendengar penjelasan Agustinus bahwa Adrian benar-benar memberikan bola itu untuk mereka, anak-anak itu langsung berseri-seri dan melonjak-lonjak kegirangan. Bola sepertinya adalah benda mewah dalam kehidupan mereka yang penuh keterbatasan itu.


Anak-anak itu berdiri berjajar di pinggir jalan sambil melambaikan tangan mereka. “Bye..bye, bye..bye, thank youuuu….”. Kami menyaksikan dari dalam mobil dengan penuh keharuan. Hatiku tergetar melihat kebaikan hati Adrian dan kebahagiaan yang terpancar di wajah anak-anak itu.
Adrian! Dalam usianya yang masih belia, dia menunjukkan bahwa kepedulian dan keikhlasan tak perlu menunggu sampai dewasa. Sebuah pelajaran kehidupan yang datang dari hati anak-anak yang tulus. Terima kasih, Adrian!
“In a world full of barriers, children’s kindness to strangers is a quiet miracle. Children’s heart see no strangers, but another soul to smile at and play with”.
