Menelusuri Koridor Wakhan:  Secuil Kisah di Perbatasan Afghanistan (Bagian 6)

Kami meninggalkan Alichur dengan berat hati, meninggalkan kenangan hangat di kedai terpencil milik keluarga Nazar. Rombongan pun bergerak menuju lembah Wakhan atau yang lebih dikenal dengan Koridor Wakhan. 

Perjalanan melintasi Koridor Wakhan ibarat menyusuri celah bumi yang tak terjamah di Asia Tengah. Dari Alichur, jalanan terus menurun, menembus pegunungan sunyi. Sesekali melintas pemandangan asap tipis mengepul dari tungku rumah-rumah datar, dan anak-anak berjaket tebal melambai dari kejauhan. Kami melintasi lembah sempit, dan menyusuri tepi sungai Panj yang memisahkan dua dunia: Tajikistan dan Afghanistan. Sungai Panj yang merupakan bagian hulu dari Sungai Amu Darya mengalir deras, bergemuruh membelah dua dunia yang dekat secara jarak tetapi jauh karena takdir memisahkan atas nama “batas negara”. 

Amu Darya adalah sungai utama di Asia Tengah yang terbentuk dari pertemuan Sungai Panj dan Sungai Vakhsh.

Nama Koridor Wakhan berasal dari Wakhan, sebuah wilayah terpencil di timur laut Afghanistan yang dihuni oleh etnis Wakhi dan sebagian etnis Kirgiz. Disebut “Koridor” karena bentuk wilayahnya yang sempit dan memanjang, memisahkan Tajikistan di utara dan Pakistan di selatan, serta memanjang ke timur hingga berbatasan dengan Cina (Xinjiang). “Wakhan” sendiri adalah nama kuno yang sudah ada sejak era Jalur Sutra, karena konon daerah ini dulu merupakan bagian dari rute dagang yang menghubungkan Asia Tengah dengan Asia Selatan dan Timur.

Sekilas menyinggung sejarah, penetapan sungai Amu Darya sebagai batas negara pada abad 19 oleh Britania Raya (Inggris) terjadi dalam konteks “The Great Game”, yaitu perebutan kekuasaan antara Kekaisaran Inggris dan Kekaisaran Rusia di Asia Tengah. 

Menurut Agustinus Wibowo dalam bukunya “Kita dan Mereka”, Inggris, dalam strategi geopolitiknya di abad ke-19, menetapkan Sungai Amu Darya sebagai batas alam yang memisahkan kekuasaan Rusia di sisi utara dan wilayah pengaruh Inggris di sisi selatan, termasuk Afghanistan. Sungai besar ini menjadi pembatas yang memisahkan dua imperium besar: di satu sisi, kekuasaan Rusia membentang ke wilayah yang kini menjadi Uzbekistan, Turkmenistan, dan Tajikistan; di sisi lain, Afghanistan yang dijadikan benteng pertahanan untuk mencegah Rusia menembus jalur menuju India, permata takhta Imperium Britania.

Penetapan batas ini sarat dengan kepentingan politik, kerakusan akan kekuasaan. Ironisnya, rakyat Afghanistan yang tinggal di sepanjang aliran sungai ini tidak pernah diajak bicara dalam pengambilan keputusan besar tersebut. Mereka hanya bisa menerima garis batas buatan, warisan dari permainan kekuasaan antar imperium. Konon sejak penetapan garis batas ini Afghanistan bukannya semakin makmur tetapi semakin terpuruk oleh pertikaian antar etnis. 

Rumah kotak persegi di Afghanistan yang terlihat dari seberang.

Langit di atas Tajikistan selalu berwarna biru jernih menawan hati. Konvoi terus melaju menembus jalan yang terbentang dan tak berujung, di atas dataran monokrom yang sempit, dengan ngarai dan kawah berselingan di kiri kanan jalan. Petualangan yang sudah kami alami selama berhari-hari, berkendara di salah satu jalan paling berbahaya di dunia, Jalan Raya Pamir!


Pemandangan spektakuler lagi-lagi mengundang decak kagum. Tampak Puncak Khargush (4.344m) yang menakjubkan di perbatasan Afganistan. Kita juga melewati jajaran gunung Hindu Kush yang megah dan Danau Bulunkul yang memiliki air jernih, dangkal dan berwarna kebiruan, dikelilingi padang rumput dan pegunungan kering yang dramatis. 

Akhirnya sampailah kami di Langar. Langar dikenal sebagai salah satu titik paling indah dan bersejarah di Koridor Wakhan, menawarkan pemandangan dramatis pegunungan berbatu, lembah hijau subur, serta jalur perdagangan kuno yang pernah dilalui oleh para pedagang dan penjelajah Jalur Sutra. Desa ini dihuni oleh komunitas Pamiri Ismaili. Pamiri Ismaili adalah komunitas etnis Pamir yang memeluk ajaran Islam Syiah Ismailiyah, dengan identitas budaya dan spiritual yang sangat kuat, unik, toleran, dan terbuka di tengah wilayah pegunungan ekstrem Asia Tengah.

Kami bermalam di Langar, di sebuah guesthouse sederhana, milik keluarga Yodgor. Dalam kisah petualangannya, Agustinus menulis bahwa pertama kali menginjakkan kaki di Langar dulu, dalam keadaan uang dan perbekalan menipis, dia ditolong oleh Yodgor yang baik hati ini. Yodgor adalah pemuka agama Islam Ismaili (Khalifah) di Langar. Sosoknya sudah tua, namun keramah-tamahannya ketika menyambut kami sungguh menyentuh hati. Kembali kamipun diajak menembus lorong waktu yang menghubungkan kembali kenangan indah dalam kehidupan manusia dari negara dan budaya yang berbeda. 

Khalifah Yodgor dan istrinya Gulchera

Keesokan paginya, selepas sarapan, kami dihibur dengan pertunjukan seni tradisional. Keluarga Yodgor mempersembahkan lantunan lagu-lagu rakyat, petikan alat musik khas Pamir yang syahdu, serta tarian ceria yang seakan menggambarkan sukacita hidup di tengah alam liar. Sebuah momen yang tak terlupakan! Suasana nostalgia pun mengalir ketika beberapa peserta rombongan mengeluarkan buku Garis Batas karya Agustinus Wibowo. Di halaman-halaman yang berkisah tentang pertemuan Agustinus dan Yodgor, mereka meminta tanda tangan sang tokoh asli, mengabadikan jejak kenangan dan pertemuan kembali yang menggetarkan hati.

Konvoi melanjutkan perjalanan menuju Ishkashim yang berjarak sekitar 120 km dari Langar dan jarak tempuh memakan waktu kira-kira 5 – 6 jam. Di tengah perjalanan rombongan berhenti sejenak di Yamchun, di mana reruntuhan Benteng Yamchun, masih berdiri menjadi saksi sejarah kekaisaran Khusan di era Jalur Sutra. Rombongan juga berhenti sejenak di Bibi Fatima Hot Springs, pemandian air panas alami yang menjadi tempat istirahat favorit para pelintas.

Benteng Yamchun, saksi bisu sejarah di era Jalur Sutra

Tiba di Ishkashim menjelang sore. Setelah menaruh bawaan di guesthouse, kami pun langsung keluar untuk makan malam kemudian beristirahat untuk menyiapkan diri menjelajahi pasar tradisional Afghanistan esok harinya. 

Pasar Afghanistan ini letaknya di tepi Sungai Panj berlatar pegunungan Pamir dan Hindu Kush yang dramatis. Pasar yang ramai ini hanya buka di hari Sabtu saja. Tentu saja kami sangat antusias untuk mengunjungi pasar ini. Di pasar inilah kita bisa memotret warga Afghanistan yang berbondong-bondong datang dari perbatasan untuk menjajakan dagangan mereka. 

Karpet, permata dari pegunungan Hindu Kush, pakaian tradisional, rempah-rempah harum, dan buah-buahan dari lembah subur Afghanistan memenuhi tenda-tenda di pasar. Di sisi lain, warga Tajik menjual produk hasil bumi, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga. Pasar ini lebih ditujukan untuk penduduk lokal daripada turis. Namun kami sangat antusias berbaur dengan penduduk lokal, menawar perhiasan-perhiasan antik, dan berpose bersama untuk foto. Sungguh suatu pengalaman budaya otentik yang langka. Banyak yang datang bukan hanya untuk belanja, tapi untuk bertemu kerabat yang dipisahkan oleh garis batas. Sebuah ruang pertemuan rakyat dari dua negara yang dipisahkan sejarah, politik, dan garis perbatasan.

Agustinus bilang beruntung sekali rombongan kami bisa mengunjungi pasar ini karena konon pasar ini terkadang ditutup secara tiba-tiba terutama karena masalah keamanan di perbatasan. Ya, kami memang merasa beruntung bisa melihat sisi lain dari Afghanistan, negara produsen opium terbesar di dunia yang identik dengan perang dan teror ini. Kamipun menikmati makan siang di pasar. Hidangan shashlik (semacam sate) terenak yang pernah kami santap adalah di pasar ini. Tidak percaya? Datanglah ke sana:)

Makan sate kambing yang sedaaap! Konon setiap orang mengaku melahap rata-rata di atas 10 tusuk. Padahal potongan dagingnya, huuu.. besar-besar sekali. Daging ayamnya juga weeenaaak! Sayang foto ini diambil ketika semua hidangan sudah ludes, pada asyik menikmatinya jadi banyak terlewat sesi berfoto ria.

Sementara itu dalam perjalanan setelahnya, tiada henti aku melihat di seberang sana, wajah sunyi Afghanistan dengan deretan rumah-rumah kotak persegi yang seperti menempel di dinding gunung seakan berdiri melawan kerasnya kehidupan. Rombongan etnis Wakhi yang mengendari onta dan kuda nampak berderap lelah, berjalan lambat melintasi jalur berbatu. Bergerak dalam sunyi yang khidmat, dalam irama hidup yang berbeda dari dunia modern di sisi lainnya. 

Etnis Wakhi

“The border may divide the land, but not the sky, not the river. Standing at Ishkashim, we realize how thin the line between worlds can be, and how deep the stories that connect  the people on both sides.”

Terima kasih sudah mampir membaca catatan perjalanan ini. Tulisan berikutnya adalah cerita-cerita kecil yang lucu, yang menyentuh, dan menginspirasi, yang terselip selama perjalanan.

#education #renungan agustinusjourneys agustinus wibowo atapdunia bikram bookreview budaya budayajepang cancersurvivor catatanpenyintas ceritakehidupan ceritapendek cerpen happynewyear healingjourney identitas ikigai jalan-jalan Japan jepang kirgizstan Learning lifeaftercancer maknahidup okinawa pamir pamirexperience pamirhighway penyintaskanker petualang puisi puisikehidupan reading review roofoftheworld safarnamjourneys sehat semangatsembuh Stories from the Road tajikistan theroadlesstravelled travel uzbekistan Wellbeing

2 respons untuk ‘Menelusuri Koridor Wakhan:  Secuil Kisah di Perbatasan Afghanistan (Bagian 6)

Tinggalkan komentar