Toilet Tenda di Padang Belantara (Bagian 5)

Setelah melewati jalanan berliku meliuk-liuk meninggalkan Karakul, desa sunyi di tepi danau yang dingin itu, konvoi mulai mendaki secara bertahap menuju Ak-Baital Pass, celah tertinggi di Pamir Highway dengan ketinggian 4.655 meter di atas permukaan laut. Perlintasan yang berdebu, tandus namun sangat memukau mata. Sebuah papan tua berkarat bertuliskan angka “4.655 m” menjadi penanda sederhana bahwa kami telah tiba di atap Asia Tengah. Tak ada bangunan, tak ada warung, tak ada kehidupan, hanya jejak ban kendaraan dan deru angin. Sebuah kehampaan yang memberi ruang untuk mengagumi betapa kecilnya manusia di hadapan alam semesta.

Di tengah padang tak bertepi ini, banyak di antara kami yang mendapat “panggilan alam”. Kebelet pipis! Tidak ada pilihan, kecuali ngumpet di balik batu besar atau….taraaah, membuka tenda ajaib! Untuk para putri tentu saja tenda ajaib adalah pilihan paling nyaman. Jadilah tenda hijau kecil itu dibuka dengan beberapa pasukan memeganginya agar tidak terbang terbawa angin. Setiap berganti orang tenda pun berjalan, pindah lahan. Ha, ha! Sebuah keseruan tersendiri yang mengundang banyak gelak tawa kami. 

Serious business is happening inside!

Setelah melewati pemandangan yang spektakuler, kami pun di kota kecil Murghob. Kota di wilayah timur Tajikistan ini adalah kota tertinggi di Tajikistan, bahkan salah satu yang tertinggi di Asia Tengah. Kota ini kerap disebut sebagai “Atap Dunia” karena letaknya yang begitu dekat dengan langit.

Di danau ini langit seakan menyapa bumi.

Di musim panas, udaranya tetap sejuk dengan angin yang berhembus kencang dari lereng-lereng batuan. Kami singgah di sebuah rumah makan kecil untuk bersantap makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke desa Alichur yang berjarak kurang lebih 100 km lagi. 

Suasana geografis Murghob didominasi oleh padang rumput alpine yang kering, hamparan bebatuan, dan tanah berwarna pucat  seolah tak tersentuh manusia. Vegetasi pun sangat minim, hanya rumput kerdil dan lumut-lumut yang mampu bertahan di sana. Suasana yang benar-benar terpencil dan terasing namun menawarkan keindahan yang sulit dilukiskan, awan menggantung di langit dekat, dan pegunungan berselimut salju.

Murghob adalah titik persimpangan bagi para pelancong yang menempuh Jalur Pamir. Letaknya yang strategis menjadikan kota ini semacam oase kecil di tengah gurun batu dan gunung, tempat para pengelana berhenti sejenak sebelum melanjutkan petualangan menuju Dushanbe melalui lembah Wakhan.

Kota kecil Murghob

Dalam bukunya “Garis Batas” Agustinus menyinggung kota kecil ini sebagai kota yang terpuruk, miskin, dan terpencil. Berabad silam, kota kecil legendaris ini adalah padang penggembalaan para pengembara Kirgiz. Dari pengembara yang hidup berkemah, mereka kemudian di “rumah”kan. Banyak di antara mereka yang melawan dengan melarikan diri ke Cina atau menetap di Afghanistan. Sementara mereka yang tetap tinggal, mereka berbagi tanah dengan orang Tajik dan Rusia. Meskipun Murghob adalah kota terbesar kedua setelah Khorog, namun keadaannya masih sangat menyedihkan. Itu cerita Agustinus ketika dia menginjakkan kaki di tanah itu 20 tahun yang lalu. 

Di tahun 2025 ini, kami melihat sendiri kondisi Murghob memang sangat tandus, miskin, terpencil dengan kehidupan ekonomi yang minim. Jantung kehidupan ekonomi Murghob adalah pasar kontainer yang, kios-kios yang terbuat dari kontainer kargo bekas. Pasar ini adalah tempat warga lokal bertemu, berjualan, dan berbagi cerita hidup. Anak-anak bersliweran ikut ke pasar atau sekedar bermain di jalanan sekitar pasar. Tidak ada kemewahan di Murghob. Tapi menurutku, justru kesederhanaannya itu yang membuatnya menarik dan fotogenik. Di bawah ini adalah salah satu kios kontainer di pasar Murghob dan anak-anak yang sedang bermain di sekitar pasar. (Foto oleh Agustinus Wibowo)

Kemudian konvoi melanjutkan perjalanan ke Alichur. Agustinus seakan membawa kami pada sebuah lorong waktu yang menyatukan masa silam dengan masa kini untuk mendatangi lagi tempat dan menemui kembali orang-orang yang dulu dijumpainya, 20 tahun yang lalu. 

Sebelah kiri adalah kedai milik keluarga Nazar di Alichur. Foto di bawah adalah Nazar dan anaknya yang lucu.

Sebuah kedai yang sekaligus berfungsi sebagai guesthouse itu berdiri di tengah padang tandus yang sunyi. Pemiliknya adalah keluarga Nazar, yang kini sudah dewasa bahkan sudah berumah tangga. Mungkin salah satu teori dalam “The Secret” telah mempertemukan kembali Agustinus dan Nazar. Kini mereka berdua adalah rekan bisnis travel Pamir Experience yang sukses berkolaborasi. Jadilah pertemuan ini ajang reuni dan saling berbagi cerita dengan peserta tur.

Di bawah langit bertabur bintang dan angin dingin yang menggigit tulang, tawa dan kisah masa lalu bergulir hangat di antara cangkir teh di kedai yang hangat. Di tempat yang jauh dari hiruk pikuk dunia ini, kami menyaksikan bagaimana perjalanan dan waktu bisa menjalin takdir, menjadi mitra yang membangun mimpi bersama di jantung Asia Tengah. Alichur pun mengubah tamu menjadi sahabat. Goodbye, Alichur! We miss you!

“The winds may be cold in Alichur, but the warmth of the people lingers long after you leave.”

Tulisan berikutnya adalah tentang Koridor Wakhan dan Pasar Afghanistan. Stay tune!

Tinggalkan komentar