Journey to the Roof of the World (Bagian 2)

Hari 4-5: Melewati Perbatasan Uzbekistan – Kirgizstan

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Lembah Ferghana, melewati lembah-lembah subur dengan pohon aprikot dan poplar yang lansing berjajar di sepanjang jalan, akhirnya tibalah kami di perbatasan yang memisahkan dua negara eks-Soviet ini.

Pos perbatasan yang sangat-sangat sederhana. Kami mengantri berjubel bersama dengan para penduduk lokal. Rupa-rupa penampilan mereka, tetapi kebanyakan adalah para pelintas batas yang menjinjing bawaan atau barang-barang keperluan sehari-hari. Proses pemeriksaan paspor dan pertanyaan-pertanyaan standar dengan sedikit basa-basi itu berjalan cukup lancar. “Indonesia…?” Tanya petugas dengan pandangan menyelidik, mungkin heran dalam hatinya  di mana gerangan itu negara Indonesia. 

Uzbekistan – Kirgisztan adalah dua negara yang terpisah di peta, namun mereka saling terhubung. Dan ternyata banyak warga etnis Uzbek yang tinggal di wilayah Kirgizstan atau sebaliknya. Konon hal ini, rentan memicu terjadi perselisihan etnis karena banyak kelompok etnis minoritas yang tinggal tidak di negara asalnya, khususnya di lembah Ferghana dan Osh.

Menggeret koper, kepanasan, tetapi tetap cantik dan tersenyum cerah…

Lembah Ferghana yang subur itu konon masih menyimpan konflik terpendam soal pembagian lahan antara tiga negara: Uzbekistan, Kirgzstan dan Tajikistan. Tapi Ok, biarlah itu menjadi isu politik di sono ya…, dan isu macam ini juga banyak terjadi di belahan dunia lain, termasuk di negara kita sendiri. 

Akhirnya kamipun berada di Kirgizstan. Bahasa Uzbek berganti dengan bahasa Kirgiz, meskipun bahasa Rusia nampaknya masih tetap mendominasi. Mata uang berganti dari Som Uzbekistan (UZS) menjadi Som Kirgiz (KGS). Kami menukar uang di kios-kios kecil di luar pos perbatasan. Jangan berharap menemukan ATM di sepanjang jalur ini. 

Di kota Osh kami menginap di Sunrise Hotel. Kota Osh adalah salah satu kota tertua di Asia Tengah, seakan menjadi pos persimpangan zaman yang memadukan warisan Jalur Sutra, kenangan era Soviet, dan kehidupan modern Asia Tengah.  Konon usia kota ini sudah mencapai 3.000 tahun. Di kota ini kami menyebar mencicipi bau dan aroma pasar tua Osh, tentunya ditemani pemandu lokal dan Agustinus. Modelnya ya..mirip Tanah Abang sebelum di renovasi kali ya….Bedanya, di pasar ini banyak pedagang menjajakan pakaian tradisional Kirgizs, rempah-rempah, buah kering, kacang-kacangan, cherry segar, dan aprikot yang muraaah banget. 

Suasana makan malam di Osh makin meriah dengan menari bersama.

Di kota ini kami juga mendaki ke Sulaiman-Too yang letaknya menjulang di tengah kota seakan menjadi simbol spiritual dan geografis negara Kirgizs. Sulaiman-Too adalah sebuah bukit batu kapur besar dengan ketinggian sekitar 200 meter. Di puncak gunung terdapat masjid kecil Babur yang dibangun oleh Zahiruddin Muhammad Babur, pendiri kekaisaran Mughal di India, yang konon katanya juga pernah singgah di sini. Dari puncak Sulaiman-Too, kita juga bisa melihat pemandangan kota Osh dan lembah di sekitarnya. 

Gunung ini juga dianggap sebagai tempat suci oleh masyarakat Asia Tengah, bahkan jauh sebelum datangnya Islam.Gunung ini masuk dalam daftar  Situs Warisan Dunia UNESCO di Kirgizstan karena nilai sejarah, arkeologi, dan spiritualnya. Dalam sejarah Islam lokal, gunung ini diyakini sebagai tempat Nabi Sulaiman (Solomon) pernah singgah. Di sepanjang lerengnya terdapat gua-gua dan petroglyph (gambar batu) kuno yang mengisahkan perjalanan spiritual manusia dari zaman ke zaman.

Kami juga sempat melihat-lihat ke jantung kota Osh di mana ada Lenin Square yang merupakan sisa nyata dari masa Soviet. Ketika tiba di sana, kami berharap bisa melihat patung Lenin dengan kedua tangannya yang terentang ke depan. Namun ternyata patung itu sudah tidak ada lagi, konon katanya hal itu sebagai upaya untuk menghilangkan simbol-simbol era Soviet. Mungkin negara ini bimbang kali ya, sudah menjadi negara sendiri tapi tetap ingin menghargai masa lalu mereka bersama negara komunis itu. 

Salah satu taman di Kota Osh yang cantik

Lenin Square ini juga dikelilingi oleh gedung-gedung pemerintahan, taman-taman bunga, dan jalur pedestrian yang nyaman, sepertinya tempat yang asyik untuk berjalan santai, terlebih di musim panas yang menyengat.  Kami beruntung ketika berada di sana sedang ada pernikahan gitu. Jadilah itu tontonan budaya yang menyenangkan.

Foto rombongan pengantin. Yang atas itu salah satu peserta rombongan yang “nyangkut” di antara tamu pengantin. ha..ha!

Begitulah hari-hari yang menyenangkan, pemandangan yang memanjakan mata dan merasakan makan makanan khas lokal. Makanan di Osh tidak beda jauh dengan apa yang kita santap di Uzbekistan, yaitu hidangan plov dan sup ayam atau sayur untuk yang vegetarian. Penyelenggara trip ini sangat memperhatikan kebutuhan peserta, jadi untuk yang tidak makan daging ada pilihan ayam atau sayur. Porsinya? Jangan tanya. Porsi tukang. Ha..ha! Tetapi yang namanya buah selalu tersaji. Segar pastinya!

“Osh is not just a place you visit, it’s a feeling that lingers between ancient stones, spice, and the sacred silence of Sulaiman-Too.”

Sampai jumpa di bagian berikutnya, bagian yang lebih seru loh!