Journey to the Roof of the World (Bagian 3)
Seusai makan pagi, kami meninggalkan kota tua Osh untuk memulai perjalanan ke arah pegunungan Pamir untuk bermalam di perkemahan tradisional Yurt – Kirgisztan. Mulailah delapan mobil berkonvoi melewati jalan-jalan di lereng-lereng yang terjal dengan kelokan-kelokan yang tajam. Lagi-lagi, sepanjang rute perjalanan rasanya mata tak bisa terpejam karena sayang melewatkan suguhan alam yang menakjubkan. Setiap kali melewati spot yang “wao”, Agustinus mengajak konvoi berhenti untuk mengabadikan moment-moment mempesona itu. Ada saja pemandangan yang unik, seperti bentuk lembah yang melekuk, bentuk gunung yang sambung menyambung, atau desa-desa kecil dengan kehidupan yang sederhana di mana anak-anak kecil nampak berlarian di sekitar rumah mereka.

Kami berhenti untuk makan siang di Sary-Tash. Sary-Tash adalah sebuah desa kecil di persimpangan jalur tiga negara, yaitu arah Selatan menuju Pegunungan Pamir di wilayah Tajikistan, arah Timur menuju Cina, dan sebelah utara adalah Osh, kota yang telah kami tinggalkan. Lokasinya berada di ketinggian 3100 m. Udara dingin dan hembusan angin menyambut kedatangan kami di sebuah kedai kecil yang seperti “out of nowhere” setelah perjalanan panjang tanpa menemui satu bangunanpun. Kedai terpencil ini ternyata menjadi tempat persinggahan utama bagi para pelancong dan petualang yang ternyata banyak yang mengendarai motor bahkan bersepeda.
Hidangan Lagman (mi kuah khas Asia Tengah dengan potongan daging, dan tomat Kuahnya dengan kuah panas cukup membuat badan menjadi hangat. Ada juga menu ayam goreng khas mereka, untuk kami yang tidak makan daging. Roti Patir (roti berbentuk bundar khas Asia Tengah) selalu terhidang di manapun kami singgah makan. Bekal sambal dari tanah air yang dibawah oleh beberapa rekan dalam rombongan menjadikan makanan semakin sedap untuk dinikmati. Jadi meskipun mungkin aneh, aku tak peduli ketika makan roti patyr aku cocolkan dengan sambal trasi kemudian menyeruput teh panas. Hmm!

Roti Patir, makanan khas Asia tengah
Setelah makan siang, kembali konvoi berangkat lagi. Kembali pemandangan alam menakjubkan terbentang di kiri, kanan, dan depan. Decak kagumku tak ada henti ketika melihat kubah-kubah bundar putih dengan asap mengepul membubung ke udara, yang adalah Yurt, mulai bermunculan di tengah hamparan stepa Kirgizstan yang luas membentang.
Sore hari ketika langit berubah jingga, pas banget, kamipun tiba di Yurt Camp, tempat rombongan akan menginap malam itu. Tak habis kekagumanku memandangi padang luas bagaikan lanskap tak berujung, sesekali marmot (makhluk lucu berbulu tebal, keluarga tupai tanah) bermunculan dari lubang-lubang berumput seakan ikut menyambut dengan penasaran, dan kuda-kuda merumput di tepi danau yang dikelilingi oleh pegunungan bersalju. Oh, Tuhan! Betapa indah alam ciptaanMu! Gumamku.

Hello Marmot, is it me you’re looking for?
Tiba-tiba alunan alat musik petik tradisional Kirgizstan (alunan Komuz) mengalun dimainkan oleh seorang pria muda ditemani seorang gadis berpakaian tradisional yang anggun menyanyikan lagu-lagu lama Kirgiz. Melodinya menggugah dan menggoda kami untuk menari-nari dalam alunannya. Momen yang sungguh tak terlupakan. Sambil menyanyi dan menari kami disuguhi roti tradisional yang mirip kue odading asal Bandung, kata salah satu rekanku, namun mirip roti goreng di kampungku, itu kataku. Ha! Apalah ya, yang penting enak dan hangat.




Kemudian, kami dibagi ke dalam beberapa yurt. Setiap yurt rata-rata dihuni oleh tiga hingga lima orang, meskipun ada juga yang hanya berdua, untuk pasangan suami istri. yurt ini berbentuk bundar, dibangun dari rangka kayu yang disusun presisi, lalu dilapisi felt, wol tebal yang berfungsi sebagai insulasi alami. Beberapa yurt juga dilapisi terpal tahan air dan angin kencang untuk menambah perlindungan terhadap cuaca ekstrem. Di dalam setiap yurt ada tungku pemanas untuk menghangatkan badan.




Meskipun kami datang di musim panas, suhu di kawasan ini yang berada di ketinggian lebih dari 3.000 meter tetap berkisar antara 5 hingga 15 derajat Celsius. Udara tipis dan hawa dingin mulai terasa begitu malam tiba. Tak heran jika beberapa peserta mulai mengalami gejala AMS (Acute Mountain Sickness), atau penyakit ketinggian. Pusing, mual, dan kelelahan menjadi keluhan umum.
Untungnya, sejak awal Agustinus sudah mengingatkan kami untuk menjaga kondisi tubuh, mengatur napas, dan banyak minum air agar tidak terpapar AMS secara serius. Ia merancang perjalanan ini dengan matang, menaikkan elevasi secara bertahap, agar tubuh kami sempat beradaptasi. Meski belum berada di ketinggian ekstrem, pengalaman bermalam di yurt di tengah dataran tinggi ini memberikan sensasi yang luar biasa, seakan benar-benar sedang berada di atap dunia.

Menyapa kuda yang berkeliaran bebas 
AB Three & Agustinus 
Mendengarkan arahan Pak RT biar aman di malam hari:) 
Teh panas 
Hiburan musik Kirgiz
Yurt adalah rumah tenda tradisional suku nomaden Kirgiz. Setiap musim panas, saat salju di pegunungan mulai mencair, padang rumput terbentang luas bagai karpet hijau tak berujung, suku-suku nomaden di Asia Tengah pun kembali ke kehidupan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Mereka menggiring ternak mereka seperti domba, kambing, yak, dan kuda, menuju dataran tinggi untuk mencari padang penggembalaan yang subur. Di situlah, di tengah hamparan langit biru dan angin gunung yang sejuk, berdiri yurt-yurt putih, seperti bola-bola putih yang bertebaran di hamparan kehijauan.
Puncak Lenin (Lenin Peak), salah satu puncak tertinggi di Asia Tengah nampak menjulang di ketinggian 7.134 dpl terlihat angkuh berbalut salju. Di samping yurt tempat kami bermalam juga terbentang danau Tulpar-Kul yang bening bak cermin langit. (Kul artinya adalah danau). Belakangan aku paham mengapa setiap danau di sana selalu berakhiran dengan Kul.


Dikelilingi oleh padang rumput alpine yang luas dan liar, Danau Tulpar-Kul menyajikan lanskap yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menenangkan jiwa. Airnya yang bening, nyaris tak beriak seolah menjadi permukaan lain dari langit. Sebuah tempat di mana segala keruwetan dunia seakan menguap tanpa jejak. Hanya dengan duduk di tepinya, kita seakan diberi jeda dari hiruk-pikuk kehidupan. Ketika malam turun, suara angin kencang berhembus menyapu lembah, menyatu dengan lolongan anjing malam. Suasana magis, sepi tapi hidup.

“Yurt. It is not just a shelter, it’s a circle of stories, of warmth, and of the wind’s lullaby in the silent night.”
Bagian berikutnya tentang perjalanan ke “pemukiman” berikutnya, menuju GBAO Tajikistan. Stay tune:)
Beberapa foto diambil dari jepretan Agustinus Wibowo. Thank you!





