Journey to the Roof of the World (Bagian 1)

Awalnya aku sempat ragu untuk ikut trip ini. “Atap Dunia?” pikirku. Tempat apa pula itu? Namanya terdengar asing di telingaku—bukan destinasi wisata populer yang sering wara-wiri di media sosial atau brosur perjalanan. Tapi justru karena itulah, rasa ingin tahuku mulai tumbuh. Ditambah lagi, trip ini bukan digagas oleh sembarang orang, melainkan oleh Agustinus Wibowo.

Ya, Agustinus Wibowo—si travel writer yang tulisannya sudah lama kuikuti, yang kisah-kisahnya membuatku kagum, merenung, bahkan tersentuh oleh kisah-kisah yang diceritakannya. Aku sempat bertemu dengannya dalam sebuah sesi di Ubud Writers & Readers Festival 2024. Sosoknya tenang, orangnya sederhana, dan tutur katanya ketika presentasi buku terbarunya di event itu mencerminkan pengetahuannya yang luas. 

Buku terbarunya, Kita dan Mereka, menurutku adalah karya yang fenomenal. Ia menulis tentang batas negara, budaya dan identitas, perspekstif yang mendalam tentang kehidupan di daerah-daerah yang jarang terjamah. Maka, ketika aku tahu bahwa dia sendiri yang akan memimpin trip yang akan membawa ke tempat-tempat yang pernah kubaca lewat tulisannya, akupun tak berpikir lama. Dan akhirnya, aku pun mantap: “Berangkaaat!”

Akhirnya, bersama 21 orang (termasuk Agustinus) berangkatlah kami. Perjalanan panjang selama 15 hari 13 malam dari tanggal 12-26 Juni 2025. Perjalanan menembus dan menelusuri garis batas 4 negara (Uzbekistan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Afghanistan). Judul di brosur IG-nya adalah Tajikistan (via Uzbekistan dan Kirgizstan). 

Hari 1 – 3: Tashkent – Kokand – Ferghana

Tak kusangka, begitu naik pesawat dan mencari tempat dudukku, sosok yang sudah lama kukagumi itu ternyata duduk tepat di sebelahku. Agustinus Wibowo. Kesempatan  yang tentu tak kusia-siakan. Di balik nama besar dan karya-karya luar biasanya itu, Agustinus adalah pribadi “humble”. Dari obrolan di ketinggian itu, aku belajar banyak hal, tentang cara memandang dunia, tentang empati, tentang batas, dan identitas manusia di antara manusia lainnya. 

Tiba di bandara Tashkent Islam Karimov petang hari dan kami disambut oleh pemandu lokal. Delapan mobil bersiap membawa 21 orang. Dan sebagai informasi penting:) mobilnya bukan mobil kaleng-kaleng ya, melainkan jenis Lexus dan Land Cruiser. Mantab!

Di Tashkent kita menginap di Art Royal Hotel. Tashkent, ibu kota Uzbekistan ini ibarat gerbang ke Asia Tengah. Tashkent adalah titik awal perjalanan kami ke pegunungan Pamir dengan menelusuri Jalur Sutra yang legendaris. 

Tashkent kota yang rapi, bersih dan tidak terlalu ramai. Konon pemerintah mewajibkan mobil berwarna putih. Jadilah di jalan-jalan dipenuhi mobil yang seragam. Salah satu alasan mengapa mobil harus berwarna putih di sana, katanya (sumber dari supirku: Baby Rausyan, begitu panggilannya) bahwa dalam banyak budaya Asia Tengah, termasuk Uzbekistan, warna putih sering dikaitkan dengan kemurnian, kesucian, dan kesederhanaan. Selain itu mayoritas mobil di Uzbekistan diproduksi oleh UzAuto Motors,  perusahaan ini banyak memproduksi mobil  warna putih sebagai warna standar.

Cuaca kering dan panas membara, mungkin mencapai 40 derajat, fiuuh! Jalan-jalan lebar dipagari pohon-pohon tua, bangunan bergaya Soviet berdiri sejajar dengan arsitektur Islam klasik, dan ada juga bangunan modern seperti mal, gedung kaca, atau restoran. Kota ini pernah hancur di tahun 1966 karena gempa yang besar. Kemudian Uni Soviet melakukan rekonstruksi besar-besaran, jadilah kemudian Tashkent kota yang indah. 

Salah satu sudut di kota Tashkent

Pagi usai sarapan, kami berangkat menuju Kokand di Lembah Ferghana. Lama tempuh perjalanan adalah lima jam dengan rute darat yang sangat menarik karena menghubungkan ibu kota yang modern dengan kawasan lembah subur yang kaya sejarah dan budaya. Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan tebing-tebing curam, bukit-bukit dan desa-desa kecil.  Kami juga melewati Kamchik Pass, jalur pegunungan yang spektakuler di ketinggian ±2.200 m.

Akhirnya tibalah kami di Kokand, salah satu kota penting di Lembah Ferghana, yang menurut sejarah dulunya merupakan pusat Khanat Kokand. Kami mengunjungi istana Istana Khudayar Khan. Klik link ini untuk mengetahui lebih jauh tentang istana ini. 

Kami menginap di Hotel Mehmon Saroy, Ferghana. Ferghana adalah titik sejarah dan budaya yang menghubungkan banyak peradaban dunia. Konon kota ini, bersama seluruh Lembah Ferghana, telah menjadi saksi bisu pertemuan budaya Persia, Turki, Arab, Cina, dan Rusia selama ribuan tahun, sejak masa jalur sutra. Kami pun mampir di pusat pembuatan sutra Margilan. Margilan adalah bagian penting dari Jalur Sutra yang legendaris itu. 

Margilan adalah kota tradisi tenun ikat yang disebut atlas dan adras. Di tempat ini, pengunjung bisa melihat bagaimana dari ulat sutra kecil, lahirlah kain-kain bermotif menawan yang menjadi simbol keanggunan Uzbek. Pola warna-warni cerah itu yang mengandung filosofi tentang alam, harapan, dan kehidupan. Setiap helai benang sutra seakan adalah bagian dari cerita panjang masyarakat Margilan.

Tulisan ini akan bersambung ke Bagian 2: Menuju Perbatasan Uzbekistan dan Kirgizstan

“This is not just a country; it’s a mosaic of civilizations, where East met West and stayed for Patyr and tea.”

Tinggalkan komentar