Fiuuuhhh! Lega rasanya!
Setelah tertunda beberapa bulan, akhirnya aku berhasil juga menuntaskan buku setebal 621 halaman ini. Di awal-awal, jujur saja, aku sempat merasa bosan—penulis begitu detail mengulas sejarah awal peradaban manusia. Aku sempat bertanya-tanya, apa hubungannya semua ini dengan identitas dan pencarian jati diri?
Namun semakin jauh aku membaca, semakin aku terseret dalam alur berpikir penulis. Dengan telaten dan cermat, Agustinus Wibowo memaparkan bagaimana peradaban manusia berkembang, dari masa paling primitif hingga masuk ke era kapitalisme dan konsumerisme digital saat ini. Ternyata, sejarah itu bukan hanya soal masa lalu—ia adalah cermin besar untuk memahami siapa kita di masa kini.
Membaca Kita dan Mereka terasa seperti menyaksikan evolusi besar umat manusia. Dari manusia nomaden yang mengembara, lalu menetap demi kebutuhan akan kemapanan, membentuk komunitas demi keamanan, hingga akhirnya menciptakan batas-batas wilayah dan identitas kelompok. Di balik semua itu, ada satu benang merah: kebutuhan manusia untuk bertahan dan beradaptasi. Dalam dunia yang terus berubah, menolak perubahan berarti menolak kehidupan itu sendiri.
Penulis juga menyentuh tema yang lebih dalam: perkembangan agama-agama besar. Dari animisme, politeisme, hingga monoteisme—semua berakar pada satu pencarian universal: siapa Sang Pencipta alam semesta ini? Sejarah mencatat bahwa pencarian ini tak selalu berjalan damai. Konflik, kekerasan, bahkan peperangan kerap terjadi, bukan semata karena perbedaan iman, tetapi karena perebutan kekuasaan yang dibungkus dengan bendera agama.
Lewat paparan yang lugas dan penuh renungan, buku ini mengajarkan satu hal penting: toleransi adalah kunci. Dalam dunia yang beragam, hanya dengan memahami perbedaan, kita bisa hidup harmonis. Dan di tengah keragaman itu, kita bisa menemukan siapa diri kita yang sesungguhnya.
Buku ini layak dibaca, terutama oleh anak-anak muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Percayalah, Agustinus Wibowo menulis buku ini setelah melalui riset yang mendalam dan membaca ratusan referensi. Hasilnya? Sebuah karya yang bukan hanya informatif, tapi juga menyentuh, menggugah, dan membuka cakrawala.
Sungguh mencerahkan. Terima kasih @Agustinus Wibowo untuk buku yang sarat makna ini.
Catatan Senja, 6 April 2025

