Ini film lama tetapi ceritanya masih sangat relevan dan menginspirasi terutama untuk para orang tua dan guru-guru yang mengajar anak-anak usia sekolah dasar.
Film ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki berumur 9 tahun yang bernama Ishaan. Ishaan adalah seorang anak yang ceria, aktif dan cerdas. Di kelas 3 ketika pelajaran menuntut lebih banyak kemampuan murid dalam membaca dan menulis, Ishaan mulai menemui banyak kesulitan. Kondisi Ishaan diperburuk dengan lingkungan sekitar termasuk sekolah dan orang tuanya yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam diri Ishaan. Mereka menganggap Ishaan anak nakal, malas, dan pembangkang. Sekolah selalu melaporkan hasil belajar yang buruk dan kemungkinan Ishaan akan tinggal kelas lagi. Dengan putus asa akhirnya orang tua Ishan mengirim Ishaan ke sekolah asrama meskipun Ishaan memohon dan berjanji untuk belajar dengan lebih keras.
Dikirimnya Ishaan ke asrama ternyata membawa berkah terselubung bagi Ishaan. Kehadiran seorang guru seni baru di asrama tempat Ishaan sekolah memberikan harapan perubahan yang baik buat Ishaan. Meskipun pada awalnya semua guru dan kepala sekolah menentang cara “nyleneh” guru tersebut dalam mengajar, tetapi di akhir cerita semua bisa menerima bahkan sangat bangga dengan guru Nikumbh yang ternyata juga mengidap dyslexia ketika kecil.
Guru Nikumbh dengan cepat mengenali gejala-gejala dyslexia dalam diri Ishaan dan dia seakan melihat dirinya ketika masih kecil. Hatinya tersentuh dan berjuang untuk menolong Ishaan. Harga diri yang sudah hancur karena sering dipermalukan di depan teman-teman sebayanya, membuat Ishaan tidak mudah menerima perhatian guru Nikumbh yang tulus itu. Namun guru Nikumbh begitu sabar bahkan berani menghadapi orang tua Ishaan terutama ayahnya yang mempunyai ambisi besar agar Ishaan bisa sepintar kakaknya, Yohan.
Guru Nikumbh melihat pola-pola kesalahan dalam pekerjaan-pekerjaan sekolah Ishaan. Dan dengan cepat dia menyimpulkan bahwa Ishaan mengidap dyslexia dan harus segera mendapat pertolongan. Dyslexia adalah kesulitan belajar yang mempengaruhi kemampuan membaca, menulis dan aritmatika. Menurut Somantri (2007), anak-anak dengan dyslexia mengalami gangguan bahasa secara akademik dan juga kognitif. Gangguan bahasa ini bisa berupa lisan dan tulisan. Anak mengalami kesulitan dalam mengingat kata dan menuliskan kalimat. Dengan kata lain, anak-anak dengan kesulitan ini mengalami masalah dalam menginterpretasikan bahasa dalam pikirannya (mendengar dan membaca) atau mempunyai masalah dalam bahasa (menulis atau berbicara).
Dalam film diperlihatkan bagaimana guru Nikumbh menjelaskan kesalahan-kesalahan dalam tulisan Ishaan. Dia kemudian mengajari Ishaan alfabet, terutama vokal dan bunyinya. Dengan media pasir dia mengajarkan perbedaan huruf “a” dan “e” dan kata-kata yang ada dua huruf tersebut, misalnya “apple” dan “elephant”. Kemudian guru Nikumbh juga melatih sensori Ishaan (kinestetik) dengan menuliskan huruf dengan jari di lengan Ishaan dan Ishaan menebak huruf apa itu. Untuk membuat Ishaan tertarik dengan huruf-huruf yang tidak disukainya, guru Nikumbh mengajar menulis dengan menggunakan cat minyak dan juga lilin. Ishaan belajar menulis huruf-huruf seperti p, g, d, b. Dengan media ini guru Nikumbh melatih persepsi visual Ishaan dalam membedakan dan mengenali huruf-huruf yang dia sering salah ejaan dalam menulis.
Setelah Ishaan mengenal alfabet-alfabet tadi dengan baik, langkah selanjutnya adalah mengajarkan kata, kemudian kalimat dan guru Nikumbh mulai menggunakan media yang sesungguhnya yaitu pensil, buku dan papan. Pelan-pelan Ishaan mulai bisa menulis dengan baik dengan ukuran dan bentuk huruf yang wajar. Dalam film juga ditunjukkan bagaiamana guru Nikumbh menggunakan metode auditory untuk melatih kesadaran fonetik Ishaan. Untuk melatih kemampuan visualnya dalam mengenali huruf dalam tulisan, guru Nikumbh mengajari Ishaan untuk membaca kata-kata yang mempunyai bunyi akhir yang sama, misalnya mat dan mate atau hate dan tape.
Sementara untuk aritmatika, guru Nikumbh mengajari Ishaan dengan menuliskan angka di papan dulu. Ishaan berlatih menulis angka 8 dalam berbagai ukuran untuk melatih kesadaran kinestetiknya. Guru Nikumbh juga menuliskan angka-angka ganjil di tangga-tangga dan meminta Ishaan untuk menginjak setiap tangga dengan mengatakan angka misalnya +1, +3, +5, dan seterusnya untuk mengajarkan konsep penjumlahan dan pengurangan.
Film ini bagus sekali. Saya menangis sepanjang menonton film ini menyadari betapa orang tua bisa saja menjerumuskan anaknya sendiri ke dalam kegagalan hidup bila saja dia tetap berkeras tidak mau menerima keadaan anaknya apa adanya dan mencintai anaknya dengan tanpa syarat. Setiap anak berhak mendapatkan keberhasilan sesuai dengan cara dan keunikan mereka sendiri dalam belajar. Setiap anak bisa jadi memiliki kecerdasan yang berbeda, tetapi mereka mempunyai perasaan yang sama, ingin disayang dan diperhatikan oleh orang tuanya. Bagi seorang anak, orang tua adalah dunianya.

