
Perginya sih sudah bulan Juni-Juli yang lalu, saat liburan panjang. Enam bulan sudah terlewat tetapi begitu banyak kesan dan kekaguman yang selalu terbayang. 10 hari rasanya masih kurang untuk mengeksplor banyak tempat di negeri sakura yang juga dikenal dengan the land of the rising sun itu. Banyak sekali tempat-tempat yang masuk dalam wish list, tapi apa daya karena singkatnya waktu (sebenarnya mau bilang kalau lama-lama juga artinya makin bengkak deh budgetnya) maka akhirnya diputuskanlah itinerary ke prefektur-prefektur (di Indonesia mungkin semacam provinsi) yang sudah banyak diulas di artikel-artikel wisata Jepang. Tempat-tempat tersebut adalah Tokyo-Shinjiku-Takayama-Ainokura-Shirakawa-Nara-Hiroshima-Kyoto-Arashimaya-dan berakhir di Osaka.
Tiga hal saja dari liburan di Jepang yang ingin saya tuliskan di blog ini. Tiga hal yang membuat saya terkesan sangat dengan negara yang pernah menjajah Indonesia ini. Tiga hal tersebut adalah: transportasi, ketertiban, dan kebersihan. Tiga hal ini saya pikir sudah menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Jepang sehingga di mana-mana, di kota besar hingga daerah wisata yang bisa dibilang jauh dari kota besar, tiga hal tersebut nyata adanya.
Pertama, transportasi. Transportasi umum di Jepang benar-benar tiada tandingannya (menurut saya pribadi sih, boleh koq tidak setuju). Dari bis, kereta lokal hingga shinkansen begitu tertib melayani dengan sungguh-sungguh dan memberikan kualitas terpercaya dengan keamanan, kebersihan dan kenyamanan. Tiket pun ada banyak opsi yang ramah dompet namun menjanjikan kepuasan yang sama sehingga perjalanan ke tempat-tempat jauh tak terasa lelah di jiwa (a.k.a stress). Sistem transportasi begitu rapi, konon dikenal sebagai sistem transportasi tercanggih di dunia. Salah satu kecanggihan sistemnya misalnya. Jepang juga mempunyai jalan tol nasional yang menghubungkan antar wilayah. Jalan tol, jalan bebas hambatan sepertinya tepat sekali maknanya di Jepang. Jadi kalau bis yang kita tumpangi lewat pintu tol, supir tak perlu tuh mengeluarkan kartu tol untuk pembayaran. Gerbang tol akan membuka secara otomatis begitu bis lewat karena di dalam kendaraan sudah tertanam sebuah alat yang melakukan tugas pembukaan pintu gerbang tol. Aww, ck-ck-ck…
Masih tentang transportasi. Keterhubungan antar kendaraan diatur sedemikian rupa sehingga mudah memobilisasi masyarakat pindah dari satu transportasi umum ke trasportasi umum lainnya. Karena kemudahan ini, penumpang tidak perlu kuatir meskipun harus berjalan berganti transportasi dengan membawa koper besar misalnya. Semua dibuat mudah! Jadi pemerintah di negara ini tidak hanya gembar-gembor saja meminta rakyatnya menggunakan transportasi umum tanpa terlebih dahulu memastikan kesiapan dan kenyamanannya. Jadwal keberangkatan setiap transportasi umum, apapun jenisnya, sangat tepat waktu sehingga kita bisa memperhitungkan lama waktu perjalanan dengan mudah. Tidak ada itu dengan alasan apapun (kecuali karena cuaca atau kecelakaan) ada bis datang atau berangkat terlambat! Aww, ck-ck-ck.
Konon kereta adalah transportasi utama bagi masyarakat Jepang. Jadi jangan heran melihat jalur kereta yang demikian banyak. Jalur kereta dibangun merata hingga menjangkau ke pelosok-pelosok negeri. Penduduk dan juga turis bisa mengakses jadwal-jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta melalui banyak aplikasi. Selain itu keamanan selama di stasiun, terminal, dan juga subway sangat terjamin. Bahkan ketika kita ketinggalan sesuatu di toilet misalnya. Kita tidak perlun kuatir karena di tempat-tempat umum tersebut ada “Lost and Found Center“, kita tinggal mendatangi tempat tersebut dan tidak lama barang kita pasti kembali. Ini beneran terjadi pada teman seperjalanan saya. Setelah beberapa saat sekembali dari toilet yang ada di lantai dasar (kami sudah siap akan naik kereta di lantai bagian atas) tiba-tiba dia berteriak panik, “Eh..tasku mana…ranselku manaa? Aduh! Ketinggalan di toilet!” Dia pun bergegas lari kembali turun. Bukan hanya dia yang panik, aku juga deg-degan dibuatnya. Bagaimana tidak? Di dalam tas itu ada dompet lengkap dengan uang yen-nya, dokumen-dokumen perjalanan dan paspor! Kebayang kan, apa jadinya kalau ransel itu raib!!!
Ehhh…tidak berapa lama temanku itu kembali dengan senyum mengembang sambil meminta-minta maaf karena terpaksa perjalanan menjadi tertunda. Dia pun bercerita bahwa seorang pekerja kebersihan di toilet sedang menunggu kalau-kalau ada orang yang datang untuk mengambil tas yang tertinggal itu, sebelum nantinya dia akan menyerahkan ke lost and found center. Yang lebih mengagumkan lagi si petugas kebersihan yang jujur itu dengan susah payah dalam bahasa Jepang mengatakan yang kira-kira artinya adalah bahwa dia tidak membuka tas itu dan hanya menjaganya saja. Aww..ck-ck-ck..kan???
Perlu aku singgung di sini bahwa kami pergi ke Jepang dengan mandiri, maksudnya tidak menggunakan jasa travel gitu. Jadi kami benar-benar merasakan petualangan yang kadang-kadang tegang, sedih, kesal, marah, lega dan bahkan lucu. Bayangkan semua petunjuk jalan di Jepang menggunakan huruf kanji (tulisannya cacing semua-istilah temanku..ha..ha), jadi kami hanya bermodal bahasa Inggris, itu pun banyak penduduk Jepang atau petugas yang tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi triknya kami memakai bahasa tulis, kadang dibantu google translate, bahasa isyarat, dan kalau sudah putus asa ya sudah…senyum saja:)

Hanya salah satu pemandangan di Osaka di mana di sela-sela gedung-gedung menjulang tinggi itu selalu ada jalur-jalur kereta yang dengan sibuknya mengantar penduduk dan turis Jepang dari satu prefektur ke prefektur lain, dengan nyamannya.
Di stasiun, di subway atau di fasilitas-fasilitas umum lain jangan harap dengan mudah bisa menemukan petugas untuk bertanya ini, itu. Jarang sekali nampak petugas berseragam bersilewaran macam di negara kita Indonesia tercinta. Jadi kalau bingung, ada mesin yang bisa kita operasikan untuk berbicara dengan petugas melalui kamera dengan pilihan bahasa. Misalnya aku ketika itu salah membeli tiket kereta di subway, lamaaaa menunggu petugas, ada ibu-ibu tua yang ramah yang berusaha membantu (tetapi dalam bahasa Jepang) yang akhirnya mengarahkan kami ke sebuah mesin dan mengajarkan bagaimana mengoperasikannya.
Begitulah cerita tentang transportasi di Jepang yang demikian mengesankan karena kecanggihannya. Transportasi yang telah mengantarkan kami ke beberapa prefektur dengan nyaman meski kadang kebingungan, tranportasi yang membuat aku mengagumi negara Jepang. Setiap keluar hotel, peta selalu di tangan, mencari subway terdekat, jadwal bis atau kereta, harus berganti di mana, sampai pukul berapa, habis berapa, dan segala tetek bengek yang menyertainya. Menyenangkan. Pengalaman yang sangat berharga adalah ketika kami tersesat dan salah jalan, saling sebal dan berbantah-bantahan, tapi di balik itu saya jadi semakin mengenal teman saya yang baik itu, yang sudah sabar dalam pencarian bersama-sama. “Getting lost is another fun part of a journey“. Thank you, Tersi!
To be continued in Part 2.
