Itulah kata-kata yang keluar dari mulut teman saya ketika kami sedang menuliskan itinerary perjalanan. Eiit….! Tapi jangan terkecoh dulu dengan judul di atas yang kesannya saya menyesal karena berkunjung ke Koreanya setelah dari Jepang. Nggak juga, karena sudah mahal-mahal berkunjung ke negara orang yo dinikmati saja. Dan saya enjoy koq! So, berikut adalah catatan short trip ke Korea sepulang dari Jepang di bulan Juli yang lalu.



Singkat cerita, dari Osaka Jepang kami langsung ke Korea. Teman saya sih punya agenda salah satunya akan bertemu dengan mantan muridnya di sana. Saya juga punya agenda. Yaitu bertemu dengan Hyun Bin dan Bae Yong-joon. Tahu kan siapa mereka? Buat yang dulu suka Winter Sonata dan Hotelier pasti tak asing lagi dengan si ganteng berkacamata. Dan buat yang pernah dibuat menangis oleh drama Crash Landing on You (CLOY) pasti jatuh cinta dengan si oppa Hyun Bin yang kemudian resmi digaet pasangan mainnya di drama itu. Hi..hi…Mimpi ketemu mereka ga kesampaian, ha, ha..ya iyalah! Tapi setidaknya sudah menginjakkan kaki di negara aktor idola kamu itu sesuatu banget. Lagi pula murid saya tuh banyak banget orang Korea-nya, jadi ya nilai plus juga kan kalau gurunya juga tahu seperti apa sih negara murid-murid ABG (usia SMP) saya yang rata-rata semangat banget dalam belajar Bahasa Indonesia (saya guru Bahasa Indonesia). Bukan hanya tahu lewat drakor-drakor (drama Korea)nya (bukan fans berat juga sih).
Di Korea hanya tiga hari dan karena tiga hari ya kita buatlah itinerary mengunjungi tempat-tempat yang jaraknya terjangkau dari Seoul. Maka terengkulah Myeongdong dan sekitarnya, Insadong Street, Gyeongbokgung Palace, Bukchon Hanok Village, Itaewon,…well itu sih yang saya ingat, tetapi teman saya berkunjung ke tempat lain juga – yang saya tidak ikut karena lebih memilih belanja oleh-oleh he..he.
Lain Jepang lain Korea, lain orang lain cerita. Setelah melihat dan merasakan suasana di Jepang, memang ada benarnya sih ucapan teman saya di atas (tapi biar menjadi rahasia saya saja). Ada rasa kurang antusias gitu untuk menjelajah Korea. Apalagi ketika mencari makan di sekitar Myeongdong Street…ya ampun ramenya, pedagang kaki lima menjajahkan makanan, pakaian dengan toko-toko yang mayoritas menjual produk skincare. Waktu di area itu otomatis sih terbayang suasana di Jepang yang tertib, bersih, dan nyaman. Tapi dari awal kan saya sudah bilang saya tidak menyesal, tetap bisa menikmati.
Satu hal saja sih yang ingin saya tulis tentang perjalanan ke negeri ginseng ini, yaitu tentang semakin populernya Korea Selatan sebagai tujuan wisata. Saya pikir-pikir kenapa sih koq orang Indonesia berbondong-bondong ingin ke Korea? Menurut saya penyebab utamanya adalah karena adanya Korean Wave atau Hallyu (istilah untuk penyebaran budaya populer Korea) yang sejak tahun 2000-an Indonesia mulai dilanda demam K-Drama, K-Pop, K-Style, K-food, K-Skincare, dan segala yang berbau Korea lainnya. Konon karena pandemi Covid 19, penggemar drama Korea di Indonesia semakin meningkat pesat (menurut hasil survey LIPI) sebanyak 91,1% dari 924 orang menonton drama Korea selama Pandemi.
Drama Korea menjadi budaya populer yang kemudian menjalar ke bintang-bintangnya, musiknya, fashionnya, makanannya, produk-produk kecantikannya semakin digemari khususnya oleh kaum muda milenial. Tentu saja pengaruh sosial media sangat besar apalagi di Netflix banyak sekali ditemukan film-film dan drama-drama Korea yang bisa menjadi perbincangan asyik bukan hanya di kalangan remaja, kaum muda, tetapi juga kalangan emak-emak. Memang sih, drama Korea itu selain ceritanya menarik, mendayu-dayu menguras emosi dalam puluhan episode yang membuat fansnya rela begadang hingga tengah malam, dan pemainnya itu lho – ganteng-ganteng dan membuat banyak kaum hawa klepek-klepek. Sebut saja Lee Min Ho, Hyun Bin, Song Joong-ki,dan entah siapa lagi. Belum lagi bintang-bintang K-Popnya, seperti Jung Kook dari BTS. Alamak! Tapi memang begitulah, Korean Wave sedang terjadi di banyak negara.
Satu hal lain yang menarik bagi saya adalah menjamurnya produk skincarenya. Kawasan Myeong-dong adalah salah satu tempat di mana orang bisa puas berbelanja produk-produk kecantikan kulit, tentunya khususnya untuk para wanita. Soal skincare ini saya jadi ingat murid-murid perempuan Korea di kelas saya. Mereka itu masih usia ABG (Anak Baru Gede) tapi peralatan skincarenya lengkap, bo! Gadis-gadis Korea ini sangat-sangat-sangat memperhatikan penampilan mereka mulai dari kepala hingga ujung kaki. Ada cerita lucu pernah terjadi di kelas. Ketika itu saya akan mengambil foto semua murid untuk sebuah keperluan sekolah. Saya heran karena ada dua orang yang ijin ke toilet, lamaaa sekali tidak kembali-kembali. Kemudian sambil kesal saya bertanya kepada yang lainnya, “Where are they going? To the toilet this long time?” Seorang murid perempuan menjawab, “They said they will put on make up first.” ”What?” respon saya. Tidak lama kemudian seorang murid laki-laki asal Jepang menyahut sambil tertawa ngikik, “You know…Korean girls…” selorohnya, panjang lebar sih tapi saya tidak mau tulis semuanya di sini, he..he.. soalnya sensitif, berabeh nanti bisa menimbulkan ribut antar negara.
Cerita lucu lainnya, ketika field trip. Di sekolah saya ada kegiatan field trip selama satu minggu menginap di suatu tempat, setahun sekali. Karena akan menginap selama satu minggu pantaslah bawaan setiap murid seabrek. Tetapi ada bawaan ekstra dalam gembolan kebanyakan murid-murid perempuan asal Korea. Tebak apa? Jawaban anda benar: satu tas produk skincare! Well, well…
Wanita-wanita Korea memang menawan dengan kulit halusnya bak batu pualam. Konon negara mereka memang menjadi pusat produk perawatan kecantikan bahkan operasi plastik pun begitu menjamur di sana. Makanya tidak jarang kita mendengar berita para selebriti Indonesia melakukan operasi bedah plastik di negeri asal grup BTS ini.
Dalam banyak hal Korea memang membuat banyak orang tertarik untuk berkunjung. Pengaruh globalisasi juga telah membuat batas dunia hanya paspor dan selembar tiket. Ketertarikan pada budaya Korea telah menyebabkan banyaknya resto-resto Korea bahkan warung-warung yang menjajahkan makanan Korea di temukan khususnya di Jakarta. Mulai dari Corndog, Tteokbokki, Gimbab, Kimchi, you name it. Makanan-makanan itu menyaingi larisnya gorengan dan martabak kita:)
Dampak globalisasi siapa yang bisa menghindari. Tetapi yang harus menjadi perhatian adalah dampak negatifnya. Koq saya kuatir anak-anak muda Indonesia akan semakin kehilangan identitas Indonesianya bila terlalu cinta dan memburu-buru segala hal yang berhubungan dengan kesukaannya. Kalau sekedar mencari-cari info tentang bintang idolanya, mengambil yang positif dari cerita drama yang ditontonnya, tetap ingat kewajiban-kewajiban lainnya (tidak terbengkalai karena terlalu larut dalam cerita drama Koreanya) wajar saja kan. Untuk informasi saja, sudah banyak lho penelian yang menunjukkan dampak negatif akibat ketergantungan menonton drama Korea, klik Dampak Ketergantungan Menonton Drama Korea salah satu contoh saja.
Anyway, kan tulisan ini juga bukan ulasan tentang drama Korea ya, jadi mari saya tutup tulisan ini dengan kata-kata…”Boleh-boleh saja gandrung dengan budaya Korea, tetapi jangan lupa dengan budaya negara Indonesia ya, karena itulah yang mestinya menjadi kebanggaan dan identitas kita…kalau bukan kita lantas siapa…” Kamsahamnida…eh, terima kasih.
