Menapak di Kaki Langit

Cerpen oleh : Rahayu`

Sore itu matahari belum lagi terbenam. Semburat merahnya masih memancar di ufuk barat, menerobos celah-celah rimbun dedaunan pohon mangga di kebun belakang rumahku. Ayam peliharaan Emak pun masih berkeliaran mencari makan, mematuk-matuk biji-biji gabah yang berserakan dan bercampur dengan tanah. Sembilan anaknya  riuh berkerumun dan ikut mematuk-matuk pula seperti induknya. Sementara di sekeliling, anak-anak kampung bersuka cita menerbangkan layang-layang di tanah lapang yang bersebelahan dengan kebun belakang rumahku.

     Aku duduk di sebuah dengklek* kayu tak jauh dari ayam-ayam itu. Kuselonjorkan kaki dan kutegakkan tubuhku. Aaaahh! Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya  seketika, membuang lelah. Setiap sore rasa penat ini selalu menjalari raga kurus ini. Punggung, pinggang dan kedua betisku berasa pegal-pegal hingga menjalar ke sekujur badan. Terbayang segarnya mandi air hangat bercampur garam setelah dipijat dengan minyak urut khas kampungku yang manjur menghilangkan rasa pegal. Tetapi Mbok Paini, tukang pijat langgananku itu sudah seminggu ini pergi bertandang ke rumah anaknya di kampung sebelah. Saat-saat seperti ini betapa Mbok Paini sangat berarti.

     Setiap hari aku pergi mengajar dengan mengendarai sepeda motor dari kampung tempat aku dan anak-anakku tinggal ini menuju Surabaya tempatku mengajar di sebuah sekolah swasta. Total kurang lebih 80 km kutempuh untuk perjalanan pulang dan pergi. Hampir tiga jam aku habiskan waktu di atas sepeda motor di jalan. Aku harus berangkat subuh untuk bisa mencapai sekolah sebelum pukul tujuh pagi. Sedikit saja kesiangan, sudah bisa dipastikan terlambat dan semakin sering terlambat berarti semakin sedikitlah jumlah rupiah yang kuterima. Setiap menit keterlambatan diakumulasi dalam satu bulan. Begitu peraturan di sekolah tempatku mengajar ini. Pernah ketika anakku sakit, hampir setiap hari aku terlambat. Alhasil, aku hanya menerima tak lebih dari separuh  total honorku dalam satu  bulan plus teguran dari Bapak Kepala Sekolah.

      Aku beranjak berdiri dan kembali meregangkan otot-otot tubuhku. Angin sore berhembus lembut menggoyang pucuk-pucuk daun. Kebun belakang rumahku ini memang tempat favoritku yang paling pas untuk bersantai menghilangkan rasa penatku. Apalagi bila musim mangga dan sirikaya tiba. Aku bisa berjam-jam duduk di atas batu di bawah pohon mangga sambil mengupas mangga atau memamah biji-biji buah sirikaya hingga berkumandang suara azan maghrib dari masjid di ujung desa.

     Aku harus pindah tempat kerja. Kata hatiku setiap kali aku merasakan letihnya tubuh ini. Pindah kerja mengajar di sekolah lain atau pindah tempat tinggal ke Surabaya. Pindah kerja bisa ada dua kemungkinan; berhenti menjadi guru dan mencoba peruntungan lain atau tetap mengajar tetapi di sekolah lain. Bila berhenti menjadi guru, akan kerja apakah aku sementara ijazah dan latar belakang pendidikanku adalah guru. Hmm…aku menimbang-nimbang. Menjadi buruh di pabrik sambil berharap segera diangkat menjadi manajer? Menjadi pelayan di toko atau supermarket sambil bermimpi segera memiliki toko atau supermarket sendiri? Menjadi sales? Memulai berdagang dengan modal hutang? Ah! Semua pilihan itu terasa suram bagiku.

     Pilihan lain mengajar di sekolah lain yang menggajiku dengan lebih baik? Hatiku berkeripak penuh harap akan kemungkinan ini. Bila kubaca di koran-koran, banyak sekali sekolah-sekolah internasional bertebaran di kota-kota besar khususnya Jakarta yang menawarkan penghasilan lebih baik bagi guru-guru swasta seperti aku. Tetapi aku ragu dengan kemampuan berbicara bahasa Inggrisku yang memang selama ini jarang sekali aku ada kesempatan untuk mempraktikkannya. Mengajar di kelas pun aku memakai Bahasa Indonesia untuk menjelaskan tata bahasa Inggris. Ironi kan? Mengajar bahasa Inggris tetapi menggunakan bahasa Indonesia. Habis kalau mengajarnya menggunakan bahasa Inggris, selain siswa akan bertambah bingung, akunya juga bisa mati gaya, kehabisan kosa kata..ha..ha!

    Lalu bagaimana jika aku pindah ke Surabaya saja? Mengontrak rumah dan memboyong kedua anakku tinggal bersamaku? Siapa yang akan menjaga mereka saat aku bekerja? Boro-boro mengontrak rumah atau menggaji seorang pembantu, untuk menyediakan makanan yang bergizi bagi anak-anakku saja seringkali tak menentu. Sebagai guru honorer, pendapatanku ditentukan oleh berapa jam aku mengajar dalam satu minggu. Dan peran sebagai orang tua tunggal serasa lengkap menggenapi beban di kedua pundakku.

     Untuk mencukup-cukupkan pengeluaran, jadwal minum susu mereka harus kuatur sedemikian rupa agar susu tetap tersedia hingga akhir bulan. Namun, seringkali belum lagi habis bulan, acapkali kulihat Emak membuatkan teh manis setiap kali anak-anakku merengek meminta susu. Diam-diam tanpa kusadari mataku menjadi buram berkaca-kaca. Miris hatiku saat melihat botol susu mereka semakin sering berisi cairan coklat kemerahan, bukan putih kental susu. Tak sampai hati aku melihat saat mereka tertidur lelap sambil menghisap botol yang berisi teh. Hatiku menjerit mencuat menembus langit ke tujuh. Namun apalah dayaku.  Sejak bercerai tak sekalipun ayah mereka mengirimkan uang untuk memberikan nafkah buat kedua anaknya.

      Baiklah. Tak guna berlama-lama merenungi penderitaan.

      Alternatif lain? Mencari tambahan dengan mengajar privat? Hancurlah tubuhku ini karena itu berarti aku harus tiba di rumah lebih malam. Mengajar di bimbingan belajar setiap akhir pekan? Lalu kapan waktu bersenda gurau dengan anak-anakku. Lagi pula dulu aku sudah pernah mengajar di bimbel dan honor per jam yang kudapat hanya cukup untuk membeli nasi bungkus dengan sepotong ayam kecil. Untuk mendapatkan sejumlah uang tertentu aku harus berjibaku mengajar hingga 14 jam sehari. Dan setelah itu aku tersiksa karena suaraku habis dan lemah lunglai seluruh persendianku. Kadang aku sering ragu terhadap profesi pilihanku ini. Guru. Benarkah jangan pernah bermimpi berlimpah uang jika pekerjaan hanya sebagai guru?

     Tetapi aku harus keluar dari kehidupan yang membelit dan serba membatasi ini. Itu tekadku. Entah bagaimana caranya.

     Tiba-tiba aku teringat perkataan salah seorang teman kuliahku. “Kalau mau jadi kaya jangan jadi guru. Tapi, begitu kamu sudah memutuskan menjadi guru jangan pernah mengeluh. Jalani pekerjaan dengan sepenuh hati karena pekerjaan adalah hidupmu.” Ririn namanya. Dia teman baikku saat kuliah dulu.

     Tidak seperti aku dan teman-teman lainnya yang memang sebagian besar menjadi guru, Ririn memulai karirnya dengan bekerja di sebuah hotel di Surabaya sebagai resepsionis. Jurusan Bahasa Inggris membantunya mampu menjadi  guide bagi turis-turis asing di akhir pekan dan saat-saat libur tiba. Ririn berkelimpahan uang. Di saat kami berkumpul untuk sekedar reuni kecil sambil mengundang beberapa teman lain, Ririn selalu mentraktir sambil menceritakan pengalamannya mengantar turis-turis hingga ke Bali, Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Senangnya.

     Apa aku beralih profesi menjadi guide saja? Hmm…! Menemani turis berkeliling ke tempat-tempat wisata dengan gratis, makan gratis, mendapat tips pula. Ah, rasanya aku belum terlambat untuk memulai karir sebagai guide. Seperti Ririn temanku. Baiklah. Aku harus segera memulainya. Sepertinya aku harus kontak Ririn, siapa tahu dia bisa memberikan jalan.

     “Ibuuuu…” Lamunanku buyar. Anak bungsuku, Boy, begitu nama panggilannya berlari kearahku sambil menggigit botol susunya. Empat hari lagi usianya akan genap dua tahun. Semakin lucu saja dia. Meskipun tidak ada keturunan Cina apalagi Jepang, sipit sekali matanya. Jika tertawa hilanglah kedua mata itu, yang ada hanya dua garis melengkung di bawah dua alis mata yang bagai bulan sabit. Plus rambut tipis di bagian depan, menampakkan dahinya yang lebar.  

     “Eehh..anak Ibu……!!! Emmmhhhh…” Kuciumi pipi tembamnya dan kurengkuh tubuh sintalnya untuk kududukkan di pangkuanku. Tambah gemuk saja tubuhnya. Vitamin penambah nafsu makan itu ternyata cocok untuknya. Kata Emak makannya jadi banyak. Pantas saja berat sekali tubuhnya.

     “Hhmmm, harum sekali…pintar…. anak Ibu sudah mandi.” Boy mulai memberot dari pangkuanku. Aku tak kuasa menahannya. Dia menarik-narik tanganku sementara botol susunya berayun-ayun menjuntai dari mulutnya persis seperti tikus yang menggelantung  dalam gigitan kucing yang menerkamnya.

     “Jelly…Jelly.” Katanya setelah melepas botol susu dari mulutnya. Kulirik jam di tangan kiriku. Astaga! Cepat sekali waktu berlalu. Matahari pun telah tenggelam. Dan benar tak lama azan magrib berkumandang.

     “Apa, Nak? Tom & Jerry?” Tegasku sambil berlutut di hadapannya. Boy mengangguk penuh semangat. Hafal sekali dia dengan jadwal film favoritnya itu.

     “Yuuk…..!!! Miaow,,,miaooow…..miaw….” Aku menirukan suara kucing. Serta merta Boy terkekeh-kekeh dan berlari agar kukejar. Tubuh yang sintal itu seperti bola yang mental. Akupun mengejarnya, seperti Tom mengejar Jerry. Ah, Boy!  Tawanya selalu bebas dan lepas. Seperti hembusan angin. Seperti butiran hujan. Sejuk menyirami hatiku yang gersang. 

***

     Singkat cerita. Aku mengundurkan diri dari sekolah tempatku mengajar di Surabaya untuk mencoba peruntungan di Jakarta. Pilihan menjadi guide sepertinya bukan ide yang bagus mengingat aku tidak mau meninggalkan anak-anakku dalam waktu yang serba tak menentu.

     Sambil membantu kakakku yang tinggal di Jakarta untuk memulai bisnis retailnya membuka minimarket, aku mengirimkan lamaran kerja sebanyak mungkin ke beberapa sekolah internasional di Jakarta. Modalku hanya keyakinan dan kebulatan tekat untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anakku. Aku akan mempersiapkan diri bila dipanggil wawancara, aku akan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kemampuan apa yang dipersyaratkan bagi pengajar di sekolah internasional.

     Man Jaddah wa jaddah. Kalimat motivasi  ini semakin populer saja dan sering berkumandang di kepalaku.

     Lamaran demi lamaran sudah aku kirimkan. Setelah sebulan menunggu, gembira sekali aku begitu menerima tiga panggilan wawancara dari lima lamaran yang aku kirimkan. Aku berjingkrak, bersorak riang dan langsung membayangkan diriku diterima mengajar di salah satu sekolah tersebut, yang salah satunya adalah sekolah internasional. Dari tiga sekolah yang memanggilku ini kebetulan sekolah internasional itu yang membuat jadwal lebih awal daru dua sekolah lainnya. Jadilah aku menyiapkan diri baik-baik untuk datang wawancara.

     Wawancara pertama dengan pimpinan sebuah sekolah internasional di kawasan Kemang Jakarta pun tiba. Kukenakan pakaian dan sepatu terbaik yang aku punya. Aku berangkat pagi-pagi karena konon arus lalu lintas ke arah Kemang seringkali macet. Super macet.

     Setiba di sekolah, aku baca pajangan-pajangan di dinding ruang tunggu dan beberapa pengumuman yang sepertinya ditujukan untuk tamu. Semua dalam bahasa Inggeris. Aku duduk dengan hati berdebar sambil membaca-baca majalah-majalah yang juga berbahasa Inggeris yang ada di meja ruang tunggu.

     Tiba-tiba dua orang wanita warga asing menyambutku dengan ramah.

     “Hello, good morning! You must be Rahayu?” Sapa perempuan yang lebih mudah dengan ceria.

     “I am.” Jawabku sedikit kaku.

     “Nice to meet you. Please come in.” Lanjutnya.

Belakangan aku tahu kalau dia adalah Principal dan perempuan satunya yang lebih tua adalah pemilik dari sekolah itu.

     Wawancara berjalan lancar. Tigapuluh menit yang cukup menegangkan bagiku. Bagaimana tidak menegangkan, ini adalah kali pertama aku berbicara panjang lebar dengan warga asing dalam bahasa Inggris. Kalau bertemu turis dan saling sapa sih sering, tetapi berbicara berhadapan dan menjelaskan siapa diriku, mengapa aku tertarik bekerja di situ, dan lain-lain adalah hal baru bagiku. Tetapi Alhamdulillah. Doa yang tiada henti aku panjatkan sepertinya didengar Allah dan itu sangat menguatkanku.

     Tak berapa lama kira-kira dua minggu aku pun dihubungi oleh sekolah tersebut. Aku diterima sebagai pengajar anak-anak usia pra-sekolah atau usia toddlers istilahnya. Aku tak mempermasalahkan meski sebelumnya pengalamanku adalah mengajar anak-anak SMP dan SMA. Ini adalah pengalaman pertamaku mengajar di sekolah internasional. Ini kesempatan pertamaku menuju masa depan yang lebih baik, pikirku dan juga tekadku. Tiada henti aku bersujud syukur.

     Akhirnya saat-saat yang kuimpikan itu menjelma juga menjadi nyata. Impian menapak di kaki langit untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik buat kedua anakku. Kaki langit adalah tempat dimana orang bisa memulai memanjat tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi. Aku letih menjadi guru honorer , entah harus menunggu berapa lama untuk bisa menjadi guru tetap di sekolah swasta tempat aku mengajar di Surabaya. Sekeras apapun aku bekerja, sekeras apapun aku berusaha, guru honorer tak akan mendapat lebih banyak dari sekedar jumlah jam mengajarnya. Tidak! Aku tak bisa diam begitu saja.

     Aku sangat menikmati bekerja di sekolah internasional pertama itu. Aku belajar banyak hal mulai dari metode-metode mengajar modern, psikologi anak, cara mendisiplinkan anak, dan banyak lagi ilmu yang kudapat. Aku bekerja dengan keras, tetapi di sekolah ini kerja kerasku dihargai dengan layak. Gajiku pun mulai bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhan mendasar untuk aku dan anak-anakku. Terima kasih, Tuhan!

     Aku seringkali bermimpi terbang tinggi menuju awan. Inikah arti dari mimpi-mimpiku itu?

     Aku menapak  dengan penuh keyakinan di lingkungan baruku, memanjat setiap tangga dengan penuh kesabaran. Aku mungkin tak akan pernah sampai ke puncak tangga atau ke langit ke tujuh, tetapi setidaknya kau memanjat, aku bergerak keatas dengan usaha, kegigihan, dan kesabaran. Karena hidupku adalah milikku, maka hidupku akan ditentukan oleh pilihan-pilihanku. Bila aku telah menapak di kaki langit, hanya langitlah  yang akan membatasi setiap langkah dan cita-citaku. Maka aku harus berani untuk mermimpi lagi.   Tamat.

Ayu – Jakarta, 17 Juni 2012.

Tinggalkan komentar