Emakku yang super sehat

Seperti biasa setiap liburan aku selalu menyempatkan diri pulang. Pulang kampung, ketemu Emak tersayang.

Emak tinggal di kampung kelahiran nenek moyang keluarganya dan juga keluarga Bapak. Sebuah desa kecil terpencil, terkepung oleh ladang tebu dan tepat di tepi Kali Porong  yang mengalir ke arah timur dari balik tanggul atau yang kami biasa sebut dengan istilah “tangkis”. Emak menempati rumah di sebelah rumah adik bungsuku. Emak tinggal sendiri, tidak pernah mau tinggal di rumah anak-anaknya. Untuk memastikan keadannya baik-baik saja, maka kami sembilan orang anaknya bergiliran datang menengok.

Desaku yang tercinta:)

Emak sekarang usianya kira-kira 88 tahun. Mengapa kira-kira? Karena konon dulu belum ada orang di kampung tinggal kami yang melakukan pencatatan resmi soal tanggal kelahiran. Segala hal penanggalan dilakukan berdasarkan adat saja sehingga di kemudian hari ketika identitas resmi dibutuhkan alhasil banyak yang mengira-ngira saja kapan seseorang itu lahir. Bapakku juga demikian. Jadi tahun kelahiran yang tetera di KTP adalah perkiraan belaka. Oh ya, Bapakku sendiri sudah pergi mandahului Emak, di tahun 2012. 

Emakku sangat enerjik dan gesit. Melihat perjalanan hidupnya ke belakang, aku tak bisa membayangkan bagaimana Emak survive melahirkan, merawat, dan membesarkan sembilan orang anaknya dengan kondisi di jaman itu yang serba terbatas. Keuangan terbatas, fasilitas terbatas, tinggal di sebuah dusun kecil, dan tanpa asisten rumah tangga. Mungkin karena Emak sudah terbiasa mengerjakan semua serba sendiri, Emakku menjadi sangat mandiri hingga di hari tuanya ini.

Emakku sangat sehat. Sembilan orang anak dilahirkannya dengan normal dengan bantuan dukun bayi di kampung. Sejauh ini Emakku belum pernah berurusan dengan yang namanya rumah sakit. Satu-satunya penyakit yang dideritanya adalah pilek dan batuk, itu pun jarang sekali. Sakit kepala atau sakit perut juga bisa dihitung dengan jari. Hingga sekarang di usinya yang rentah, Emak hampir tidak pernah menyampaikan keluhan apapun. Lutut, pinggang, punggung, gigi, dan kondisi fisik secara keseluruhan baik-baik saja. Emak tetap gesit dalam gerakan-gerakan sholatnya dan juga gesit berjalan bila kami ajak berbelanja di mal atau jalan-jalan ke tempat-tempat lain bila ada di antara anak-anaknya yang mengajak. Kami sering merasa kasihan dan menawarkan memakai kursi roda, tetapi Emak marah karena memang dia baik-baik saja. Ha..ha…Emakku memang luar biasa. 

Kami anak-anak dan cucu-cucunya sering tercengang dengan kondisi prima fisiknya ini. Kami sering menjadikan bahan pembicaraan ketika berkumpul atau menyindir bila ada di antara kami bersembilan yang sakit lutut atau punggung. “Lihat tuh Emak…” begitu kata kami sambil bercanda. 

Tiga bulan terakhir ini kondisi Emakku mulai terlihat menurun, terutama kondisi psikisnya. Secara fisik, Emakku tetap gesit hanya memang sudah lebih banyak tidur di siang hari. Tetapi makan menjadi lebih doyan-sebelumnya sangat susah dan sedikit makannya. Emak membuat kopi sendiri, menyapu rumah tuanya, mencuci bajunya sendiri dan membenahi tetek bengek yang menyita begitu banyak waktunya sendiri. Sudah ada seseorang yang kami pekerjakan untuk urusan bersih-bersih rumah, tetapi Emak tetap menyapu dan membersihkan pekarangan rumah sendiri. Bahkan ketika aku pulang ini, Emak menyapu halaman belakang rumah. Emak memang tidak pernah bisa diam, selalu ada saja hal yang dikerjakannya. Mungkin ini yang membuatnya tetap sehat dan prima di hari tuanya. 

Adapun kondisi psikisnya terlihat jelas perubahannya. Emak mulai menunjukkan disorientasi tempat, waktu dan daya ingat yang melemah sangat. Emak sering nampak bingung dia berada di mana dan sering minta pulang padahal sudah berada di rumahnya sendiri. Emak sering salah memanggil anak-anaknya, khususnya yang perempuan, mungkin karena jumlah anak perempuannya lebih banyak, enam orang sementara anak laki-laki Emak hanya tiga orang. Misalnya, aku sering dipanggil dan diperlakukan sebagai sosok kakak perempuan yang lain. Sementara kakakku yang lain bila sedang ada yang pulamg sering diperlakukan sebagai aku. 

Emakku pun sudah tidak mengetahui perbedaan waktu. Misalnya ketika sedang tidur siang, tahu-tahu terbangun dan bergegas mengambil wudhu, mau sholat subuh katanya. Atau bangun pukul 2 dini hari, kemudian merejang air di tungku (kompor selalu kami amankan tabungnya di malam hari karena Emak sebelumnya sering menyalahkan kompor dan lupa mematikan). Adapun tungku (pawon kayu bakar) masih ada di area belakang rumah karena Emak tidak pernah mengijinkan kami menghilangkannya karena sejak dulu kala dia terbiasa memakainya. Kondisi inilah yang membuat kami anak-anaknya kuatir membiarkan dia sendirian terutama di malam hari. 

Emakku juga semakin sering marah-marah, kepada siapa saja, seringkali tanpa alasan atau sebab-akibat yang jelas. Salah satu contoh. Makanan misalnya. Seenak apapun makanan yang kami berikan selalu dibilang tidak enak, masih mentah, keras, sangat asin, pedas, tawar, dan lain-lain (tetapi lucunya tetap dimakan meskipun sambil mengomel). Baju pun begitu. Baju yang dipakainya selalu yang itu-itu saja, meskipun kami selalu membelikan baju-baju baru yang bagus dan nyaman untuk orang seusianya. Emak masih suka mengenakan kebaya-kebaya lamanya sambil dengan bangga bercerita bahwa kebaya-kebaya itu dulu dibelikan Bapak. Emak memang selalu mengenang Bapak.

Sebelum kembali ke Jakarta, aku mengajak Emak berbelanja ke Superindo bersama dua orang kakak perempuanku. Emakku rupanya sudah tidak bisa lagi menikmati kesenangan berbelanja atau jalan-jalan seperti dulu. Sepanjang berbelanja, Emakku selalu marah-marah dan mengatakan tidak membutuhkan apa-apa kecuali minta segera pulang. 

Sesampai di rumahn, Emakku seketika terlihat ceria dan kembali bersemangat. Seperti biasa bila ada anak-anaknya di rumah, Emak selalu menawarkan apakah kami mau kopi, mau makan atau mau istirahat. Emakku selalu ingin melayani, tidak mau dilayani. 

Tiga hari ketika aku bersamanya, aku perhatikan Emakku sangat kurang tidur. Siang tidak mau tidur sesering dan selama waktu-waktu sebelumnya. Malam hari pun demikian. Emak sering nampak kebingungan. Suatu malam misalnya ketika dia terbangun pukul 2 dini hari, tiba-tiba saja masuk ke kamar tempat aku tidur dan dengan keras bertanya, “Sopo iki? Sopo iki turu kene? Ojo turu kene, engkok nek Ayuk moleh turu endi?” (Artinya: siapa ini? Siapa tidur di sini? Jangan tidur di sini nanti kalau Ayuk pulang tidur di mana?). Padahal akulah si Ayuk itu. Aku dianggapnya sebagai sosok kakak perempuanku lainnya. 

Tiba saatnya hari di mana dengan berat hati aku harus meninggalkan Emak untuk kembali ke Jakarta. Sedih rasanya ketika Emak mengatakan, “Ojo balik. Lapo seh kesusu, ndek kene sepi.” (Jangan pulang. Kenapa buru-buru, di sini sepi). Duh, trenyuh hatiku. Tetapi apa dayaku karena waktu libur segera usai. 

Pagi sebelum aku berangkat, aku buatkan Emak sarapan bubur dengan ditaburi abon dan juga semangkuk bubur kacang ijo. Emak makan dengan lahap. Aku senang melihatnya, mengingat sebelum-sebelumnya sangat susah dan sangat sedikit sekali makannya. 

Masih banyak cerita yang ingin aku tuliskan tentang Emak, sosok yang sangat menginspirasi anak-anaknya dalam hal kesederhanaan hidup. Emak yang sehat, Emak yang selalu ada untuk kami anak-anaknya. Aku ingin menceritakan setiap sudut kehidupannya agar menjadi kisah yang akan selalu dibaca oleh cucu-cucunya, cicit-cicitnya dan semua keturunannya di masa-masa mendatang. 

Sampai jumpa lagi di liburan mendatang ya, Mak. Telepon dan Video call sudah jarang kami lakukan karena pendengaran Emak yang jauh menurun. Paling bila aku sangat kangen, aku video call untuk sekedar memandang wajahnya yang ayu dengan kerutan-kerutan yang menceritakan banyak kisah perjalanan hidupnya. Kisah hidup yang sangat memberikan pelajaran untukku sebagai seorang ibu.

Ya Allah terima kasih sudah memberikan pada kami seorang Emak yang baik, sudah menganugerahkan kesehatan dan kehidupan di masa tua yang sehat. Lindungilah Emak kami agar selalu baik-baik saja selama kami anak-anaknya sedang tidak bersamanya. Kami titipkan pada-Mu karena Engkau Maha Pelindung. Amin. 

Dusun Sebani, 5 Januari 2023

Tinggalkan komentar