The Show Must Go On (Bagian 4)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari bagian tiga, what doesn’t kill you will make you stronger.

Kemo keempatku tanggal 15 Februari 2021. Pengobatan selama pandemi menimbulkan kecemasan tersendiri. Tidak terhitung sudah berapa kali hidungku ini dicolok untuk tes PCR (Polymerase Chain Reaction). Alhamdulillah aku terlindungi dari COVID yang di tahun itu sedang menjadi momok di dunia. Dokter selalu berpesan, bahwa selama menjalani kemoterapi, kekebalan tubuhku turun drastis, di antaranya karena jumlah limfosit dan leukosit berkurang dan hemoglobinku juga menurun. Sekedar sedikit menjelaskan, limfosit adalah kelompok leukosit yang fungsinya adalah mengenali agen berbahaya dan mendetoksifikasinya. Dengan masuknya cairan obat kemo ke dalam darah, jumlah limfosit menurun drastis. Dan ini menyebabkan kekebalan tubuh memburuk dan rawan tertular penyakit.

Sementara leukosit adalah sel darah putih yang fungsinya melindungi tubuh kita dari serangan virus. Selama kemoterapi tingkat leukosit berkurang tajam yang menyebabkan pasien kemo rentan terkena infeksi. Karena alasan itulah, seminggu setelah kemo aku harus kembali ke dokter untuk disuntikkan leukosit.

Selain dua hal di atas adalah tingkat hemoglobin (protein dalam sel darah merah -hb) yang juga rendah. Dokter selalu wanti-wanti bahwa aku harus makan protein untuk menjaga agar tingkat hemoglobinku bagus, setidaknya 12 g/dl, minimal jumlah normal pada orang dewasa. Sementara ketika itu, hasil tes lab-ku selalu menunjukkan angka merah alias rendah. Tidak ada cara lain untuk memperbaikinya kecuali ya…makan. Sementara betapa berat perjuangan makan, kawan tahu di ceritaku sejak awal.

Efek samping kemoterapi bisa berbeda pada tiap orang, termasuk tingkat keparahannya. Obat kemoterapi bisa diibaratkan seperti bom nuklir. Efeknya begitu kuat karena dia tidak hanya menghancurkan sel jahat tetapi juga sel-sel sehat ditabraknya. Hal ini karena cara kerja obat kemoterapi adalah membasmi semua sel yang cepat pertumbuhannya. Pernah aku sebutkan di bagian sebelumnya, sel-sel tersebut di antaranya adalah sel-sel folikel yang menumbuhkan rambut dan juga sel kuku.

Di kemo keempat itu, kuku-kuku di tangan dan kakiku perlahan berubah menjadi hitam. Kalian tahu kan kuku yang sehat warnanya pink dan bening. Ketika kuku-kukuku berubah menjadi hitam, jadi semakin bagaimana gitu memandangnya. Mana rambut sudah botak, kuku berwarna hitam…he..he…. beneran ini momok banget. Seandainya pengobatan ini bisa aku hindari. Tetapi itulah kenyataan yang harus aku terima, suka atau tidak.

Di sisi lain, selalu ada sisi baik dari setiap kemalangan. Kalian tahu apa itu? Para atasan dan kolega di tempat aku mengajar begitu baik dan suportif. Dengan penuh simpati, aku diberikan keleluasaan waktu untuk menjalani pengobatan. Dan aku lebih bersyukur lagi karena semua pengobatan ditanggung oleh asuransi. Setidaknya dua hal baik ini memberikan dukungan moral untuk aku agar terus semangat untuk sembuh. Aku terbebas dari beban pikiran pekerjaan dan juga beban biaya pengobatan.

Di masa-masa berat saat itu, penggalan lirik dari lagu Freddie Mercury “The Show Must Go On” selalu terngiang.

The show must go on….inside my heart is breaking, my makeup may be flaking, but my smile, still, stays on….

Ada saja sih hal-hal yang menghibur. Hal-hal yang membuat aku semangat untuk bertahan. Dengan kepala botak, alis gundul, kuku menghitam…mau pakai makeup apa pun susah untuk menutupi pucatnya wajah. Buat apa juga…. Maka setiap ada teman atau keluarga yang berkunjung, senyumlah yang aku suguhkan. I am ok, yes this is hard, but I am OK. Begitu selalu yang aku katakan. Terlalu dikasihani membuat risih, terlalu dianggap kesakitan juga tak nyaman. Jadi mungkin pelajarannya ketika menengok orang yang sedang sakit, biasa sajalah. Dengan bersikap biasa, tell you the truth, itu akan membuat suasana batin si pasien nyaman. Setidaknya itu yang aku rasakan.

Selesai kemo keempat berlanjut kemo kelima dan keenam. Semua dengan prosedur yang sama dan penderitaan yang sama. Perjuangan makan terus aku lakukan dengan segala cara. Apa pun caranya, protein harus masuk ke dalam tubuhku meskipun aku terjungkal saat mengusahakannya:)

Dan tahu nggak, ada lagi ketakutan lain yang mendatangiku setelah semua putaran kemo dari satu sampai enam selesai. Ketika kemo selesai, aku pikir keadaan tubuhku akan membaik, dong. Aku lega, aku bebas dari selang-selang infus itu, pikirku. Tetapi….hmm.…tunggu di bagian selanjutnya ya.

Home by The Garden, Nov 24th, 2022

Tinggalkan komentar