Memaknai Kematian

Dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 6 Nopember, aku mengikuti sebuah kursus singkat dengan tema “Manajemen Kematian.” Membaca judulnya saja kawan-kawan pasti “ogah” meneruskan membaca tulisan ini..he..he…. Siapa sih yang senang dengan “kematian?” Tak ada. Karena kata “kematian” sendiri membawa kesan sedih, pilu, serem, menakutkan. Intinya mendingan mendengar hal lain saja deh.

Aku pun demikian. Tetapi ketika membaca judul kursus itu koq ada rasa ingin tahu gitu. Apa sih yang akan diajarkan di kursus ini? Sebagai seorang muslim aku penasaran, apa sih yang orang akan lakukan terhadap jasadku kelak ketika aku meninggal? Apa yang bisa aku lakukan kalau ada di antara orang-orang terdekatku yang mungkin akan mendahului aku? Kan sudah ada pengurus jenazah, buat apa kita repot-repot… (kata hati kecilku).

Tetapi dorongan untuk ikut sudah bulat. Maka hari itu bergabunglah aku dengan sejumlah orang di sebuah musholla kecil di area tidak jauh dari tempat tinggalku. Gratis, malah dapat snack dan buku panduan. Lumayan.

Sebut saja Ustadz Ahmad (bukan nama sebenarnya). Beliau adalah pemimpin dari sebuah komunitas yang rutin roadshow untuk mengajarkan bagaimana menyikapi kematian dan bagaimana mengurus jenazah menurut panduan Islam. Beliau piawai sekali dalam menyampaikan materi yang berhasil merubah mindsetku (sepertinya mindset para jamaah yang hadir juga) tentang kematian.

Kematian. Suka atau tidak, dia PASTI akan datang. Tak seorang pun bisa menghindar dari takdir ini, apa pun agamanya, semua akan kembali berpulang kepada Sang Pencipta.  Kapan? Di mana? Hanya Allah yang tahu. Kedatangannya tidak bisa dipercepat atau diperlambat.

Kematian atau wafat atau maut adalah kejadian berpisahnya ruh dan jasad. Dalam Islam, kematian adalah gerbang menuju kehidupan baru di alam barzah sebelum pada akhirnya kelak kekal di alam akhirat. Karena itu setiap muslim harus mempersiapkan bekal selagi hidup di dunia. Jadi kematian semestinya adalah sebuah kedamaian. Damai karena selesai sudah segala urusan di dunia dan damai karena kembali kepada pencipta-Nya. Karena itu mengapa bila mendengar kabar duka kita mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi ro’jiun” yang artinya “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah SWT.” Atau untuk yang non-muslim biasanya mengucapkan “Rest in Peace” yang artinya “Istirahat dengan damai.”

“Jadi apa yang membuat orang takut mati?” Tanya Ustadz kepada para jamaah yang termangu mendengarkan ceramahnya. “Dosa”. Para Jamaah manggut-manggut. Masuk akal, kataku dalam hati.

Dosa adalah beban. Jadi jangan dibawa mati. Dengan kata lain dosa-dosa adalah segala urusan dunia yang belum terselesaikan, maka ketika maut yang datangnya tanpa pemberitahuan orang yang berdosa terpaksa pergi tanpa persiapan. Inilah yang menyebabkan kematian adalah misteri yang menakutkan yang berkaitan dengan hantu dan roh-roh yang bergentayangan.

Dalam Islam kita dianjurkan untuk mengingat maut. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan agar kita selalu berjalan di koridor yang benar. Ketika kita selalu berjalan mengikuti kebenaran dan hati Nurani kita, insya Allah kapan pun mau datang kita akan siap menyambutnya, dalam damai atau khusnul khotimah, meninggal dengan akhir yang baik.

Dalam sekali makna dibalik rahasia kapan dan di mana ajal akan menjemput kita. Bayangkan saja seandainya kita tahu kapan kita akan meninggal…atau di mana kita akan meninggal…

Rahasia ini adalah juga hikmah agar kita selalu waspada bahwa akan tiba saatnya kita kembali kepada-Nya. Kapan dan di mana? Kita serahkan kepada Allah saja karena tanggung jawab utama kita adalah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya hingga kelak bila kita bertemu dengan-Nya, kita akan mendapatkan kenikmatan sebagaimana yang dijanjikan-Nya.

Ayu, Nov 19, 2022

Tinggalkan komentar