Di tulisan sebelumnya aku sempat mengatakan bahwa penyakit ini berat, melelahkan dan mahal. Benar! It’s true! Berat, karena sulit sekali untuk membuat diriku percaya dan menerima kenyataan bahwa kepahitan ini adalah kenyataan. Pertama, karena tak ada satupun anggota keluargaku, yang dekat maupun yang jauh, sepengetahuanku yang pernah terkena sakit ini. Kedua, karena aku tidak pernah merasakan sakit di bagian payudaraku ini. Jadi bagaimana mungkin? Iya nggak sih. Melelahkan, karena ternyata proses pengobatannya memang berat dan panjang bahkan bisa berlangsung seumur hidup. membayangkan semua itu, berat dan lelah. Ya nggak? Tetapi, alhamdulillah-nya, aku seorang yang beriman. Sebagai seorang muslim yang taat, semua terasa mudah ternyata setiap aku mengingat Allah. Dan ini membuat aku teringat akan sebuah ceramah yang ustadznya mengatakan, “Apapun yang menimpa orang yang beriman semuanya baik. Kebaikan akan menambah kebaikan dan bila itu keburukan atau bencana akan menjadi hikmah baginya.” Begitulah, satu hal yang paling menguatkan aku adalah kepercayaanku kepada kekuasaan dan takdir Allah SWT.
Sebelum proses kemoterapi dimulai, kawan, aku menghadapi konflik dengan diriku sendiri. Konflik itu berupa keraguan untuk menjalani kemo atau tidak. Dan tahukah apa yang memicu konflik batin ini? Salah seorang kakakku yang selalu setia menemani sejak aku didiagnosa penyakit ini. Kakakku sempat berkeras menyarankan agar aku tidak usah menjalani kemoterapi. Katanya, konon, salah seorang kenalannya sembuh dari penyakit ini karena selalu mengosumsi kayu bajakah atau kayu apa gitu namanya. Dia bahkan membelikan aku beberapa bungkus. Dimana? Katanya langsung dia pesan lewat temannya di Kalimantan. Hmmm!!! Akupun ingin tahu lebih jauh tentang kayu bajakah yang dia sebutkan itu. Di Mbokdhe Google aku menemukan banyak sekali informasi tentang kayu ini. Di Tokopedia apalagi. Banyak sekali dijual dengan harga yang beragam. Dan aku meragukannya. Meragukan apakah kayu ini akan efektif untuk kasusku, dalam jangka panjang. Selain sikap menentang kemo dari kakakku ini, ada juga seorang tetangga yang mendengar apa yang menimpa diriku. Tetanggaku ini menyarankan aku untuk pergi ke seorang “pintar”. Katanya di sana nanti aku akan diterawang untuk agar iblis dan setan-setan yang memasuki tubuhku dan menyebabkan penyakit itu terusir pergi. Waduh! Jadi penyakit ini disebabkan oleh iblis ya… tentu saja, ini kataku sendiri sambil terkikik sendiri. Ada lagi saran parah yang disampaikan dengan begitu menyakinkan. Tahu ga? Sebut saja ini orang seorang kenalan yang usianya lebih tua dari aku. Dia bilang ada jaket anti kanker yang harganya 15 juta rupiah saja. Kebayang kan? Sebelum kemopun berhadapan dengan orang-orang seperti ini sudah cukup melelahkan jiwa. Membuat ciut. Dan sedihnya, banyak orang percaya mungkin karena ketidaktahuannya atau mungkin karena ketakutan yang membuatnya melakukan apapun saran orang. Hal ini perlu aku singgung karena aku ingin menyampaikan bahwa jangan percaya hal-hal mitos, orang pintar, atau pengobatan alternatif apapun yang belum terbukti secara medis kemanjurannya. Sama-sama keluar tenaga dan biaya, aku pikir, dokter adalah tempat yang terbaik untuk mengembalikan segalanya. Dalam hal ini lho ya. Dalam kasusku ini.
Baiklah. Akhirnya aku mantab memutuskan kemoterapi. Kemoterapi adalah pemberian obat-obatan untuk menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. Kemoterapi sebanyak enam kali dengan rentang setiap tiga minggu akan aku jalani. Untuk menyiapkan mental, lagi-lagi aku mencari-cari di Mbokde Google tentang apa itu kemoterapi, apa efeknya, apa yang akan terjadi dengan tubuhku, dan lain-lain. No point of return. Aku jalan terus.
Sebelum kemo dimulai, dokter bagian vaskuler memasang chemoport di dada sebelah kananku. Karena jenis kemo yang aku jalani adalah kemoterapi intravena. Chemoport adalah sebuah alat dengan selang yang akan mengalirkan cairan obat kemo ke seluruh tubuhku. Semacam infus. Jadi jarumnya akan ditusukkan ke lempengan karet yang ada di permukaan chemoport itu. Mengapa tidak dilewatkan tangan saja, seperti infus pada umumnya? Kata dokter agar langsung mengenai sasaran dan agar tangan tidak bengkak karena berulang-ulang ditusuk jarum nantinya. Baiklah. Aku menurut saja. Kakakku yang tadi kembali mennetang, “makanya ga usah kemo!” Teriaknya. Aku tahu dia sangat terpukul dan sedih dan berusaha melindungi aku adiknya dari semua hal yang menyakitkan ini. Kakak yang baik. Aku sangat berhutang budi padanya. Tetapi kali ini aku tidak menuruti begitu saja apa maunya. Biarlah aku jalani, meskipun maut akan kutemui. Begitu tekatku.
Chemoport dipasang di bulan Desember tahun 2021. Sebulan setelah dilakukan tindakan. Dan aku menjalani kemo pertamaku menjelang pergantian tahun:) Terbayang ga sedihnya. Tetapi aku sudah membutakan perasaanku, saat itu.
Sebelum kemo, sesudah kemo aku harus menjalani tes laboratorium. Kemo pertama. Dua orang perawat ramah yang melakukannya. Kelamahlembutan mereka membuat suasana nyaman. Aku sangat mengagumi sikap para perawat ini. Sebelum menyuntikkan jarum dengan lembut disampaikan proses dan nama-nama obat yang akan dimasukkan ke dalam tubuhku melalui cairan. Yang aku ingat ada yang namanya Brexel, berubicin, dan banyak lagi yang dimasukkan ada yang dicampur dan ada juga yang bertahap selama empat jam.
Setiap kemo berlangsung sekitar empat jam. Setelah kemo dan sebelum kemo aku harus menjalani tes laboratorium. Kemo pertama berlangsung lancar. Aku tidak merasakan mual. Dokter sudah menyuntikkan obat anti mual juga katanya. Kemo mulai pukul satu siang dan selesai pukul empat atau pukul lima sore. Selama itu aku tergeletak dan seringkali memandangi cairan kuning kejingga-jinggaan yang tetes demi tetes memasuki tubuhku, menyebar melalui airan darahku. Yang konon katanya akan membunuh segala macam sel yang pertumbuhannya cepat.
Cara bekerjanya, katanya, adalah membasmi sel-sel yang melakukan pembelahan dengan cepat. Sayangnya, obat-obatan ini juga menyerang sel-sel lainnya yang tidak berbahaya, termasuk sel di folikel atau kelenjar rambut kita.
Maka terjadilah apa yang aku bayangkan sebelumnya bahwa rambutku akan rontok. Bukan hanya rambut di kepala, tetapi juga alis dan semua bulu kemaluanku…hi.hi…maaf ya:). Habis bagaimana dong menuliskannya.
Untuk kelanjutannya, aku akan tuliskan di bagian berikutnya ya. Dampak apa saja yang aku alami, strategi apa yang aku jalani untuk menangkal beratnya rasa, jiwa dan raga akibat kemo ini. Sekali lagi, ceritaku ini kutujukan untuk berbagi semangat. Seandainya, semoga tidak harapannya, ada kenalan yang tertimpa hal yang sama, siapa tahu ada yang bisa diterapkan strategi dan perjuanganku dalam melawan cairan obat-obatan keras kemoterapi. Stay tune! Tunggu ceritaku selanjutnya, ya, karena masih banyak hal yang ingin aku bagikan. Mungkin esok atau lusa. Insya Allah. Chao!
Home by The Garden, October 2022.
