Seiring usia menua, kita rentan terkena berbagai macam penyakit. Setuju tidak setuju sih dengan pernyataan ini. Pasalnya semakin bertambah usia, imun (sistem kekebalan tubuh) semakin melemah. Padahal sistem kekebalan tubuh kan penting untuk melindungi tubuh kita dari unsur-unsur asing yang berbahaya, misalnya bakteri, virus, racun, sel-sel kanker, dan organ-organ tubuh yang mulai menurun fungsinya.
Aku mau To the point saja. Ceritanya. Dua tahun yang lalu, tahun 2020, masa pandemi – belum lama ya. Ketika itu aku merasakan ada benjolan “keras” di payudara kiriku. Aku kaget. Dan teringat di tahun 2018 ketika medical check-up tahunan, dokter yang memeriksaku mengatakan bahwa ada benjolan lunak di payudara kiriku. Pikirku, ah pasti kelenjar biasa. Mengingat ketika itu aku sudah memulai memasuki masa menopouse, dan pasti karena perubahan hormon yang sedang tidak menentu. Dan akupun mengabaikannya. Tak terbersit pikiran apapun saat itu.
Nah di bulan Oktober di tahun 2020 itu, benjolan itu telah berubah menjadi keras. Akupun panik dan langsung membuat appointment dengan dokter Onkologi di bagian Breast Clinics di sebuah rumah sakit swasta di bilangan Jakarta Selatan. Singkat cerita, setelah menjalani beberapa rangkaian pemeriksaan, mulai dari diperiksa oleh dokter itu, Mammografi dan Ultrasonografi (USG), aku duduk pasrah mendengarkan dokter yang menyampaikan hasil dari semua pemeriksaan itu. “Ibu, ini harus segera dilakukan tindakan.” Aku termangu dan begitu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter yang masih muda namun sudah sangat berpengalaman itu (merujuk pada record-nya di Mbokde Google:) Aku tidak banyak berkata. “Terima kasih, dokter. Saya akan bicarakan dengan keluarga saya dulu ya.” Kataku dan bergegas keluar meninggalkan ruangan dokter yang tiba-tiba terasa mencekam saat itu.
Aku tidak langsung pulang. Aku duduk di sebuah ruang tunggu yang sepi. Aku menelpon dua-tiga orang, kakak dan seorang teman. Kakakku yang kebetulan seorang pensiunan paramedis, menanyakan ini itu merujuk ke hasil pemeriksaan dokter. Dia pun langsung menghubungi teman dokternya di rumah sakit tempat dia dulu bekerja. Tak lama kembali telpon dengan menyarankan aku untuk mengikuti apa yang menjadi saran dokter. Temanku memberiku nomer telpon temanku yang lain, yang katanya pernah juga mengalami hal yang aku alami sekarang. Dalam kegalauan dan suara tercekat menahan tangis, aku berbicara panjang lebar di telpon seakan dengan berbicara itu aku bisa menemukan solusi untuk keluar dari kegamangan pikiran ini. Temanku menyarankan aku mencari second opinion dengan berganti dokter. “Bukan tidak percaya dengan apa kata dokter yang sekarang memeriksa kamu. Tetapi aku dulu juga ganti sampai empat dokter malah, sampai akhirnya aku mantab dalam mengambil keputusan.” Kata temanku dengan nada penuh empati.
Dua hari kemudian aku ke rumah sakit yang sama tetapi bertemu dengan dokter yang berbeda. Setelah melakukan pencarian singkat tentang informasi dokter-dokter yang khusus menangani penyakit yang menjadi momok kaum hawa ini, aku memutuskan berkonsultasi dengan seorang dokter yang sudah senior. Dokter ini sudah berusia hampir 70 tahun tetapi penampilannya sangat gagah dan segar, lebih muda dari usia beliau yang sesungguhnya. Akupun menjalani rangkaian pemeriksaan yang sama. Mammografi kemudian USG. Dan kembali duduk di hadapan dokter untuk mendengarkan penjelasan hasil dari pemeriksaan.
“Ibu, ini harus segera dilakukan tindakan.” Deng-deng! Bumi tempatku berpijak bak bergoyang membuat jantungku berdegup kencang. Sang dokter menggambarkan di kertas untuk menjelaskan seberapa besar benjolan itu, di mana posisinya, bagaimana pertumbuhannya dan tindakan apa nanti yang akan dilakukannya. Dokter berhenti beberapa jenak ketika aku menangis dan merespon penjelasan beliau dengan suara serak. “Saya percaya pada dokter. Lakukan saja apa yang menurut dokter terbaik buat saya”. Kataku. Dalam kepasrahan total aku anggap dokter ini adalah penyelamat yang dikirim oleh Tuhan untukku. Dokter meminta aku membicarakan rencana tindakan operasi dengan keluarga dan bahwa perwakilan keluarga harus datang untuk menanda tangani persetujuan tindakan yang akan dilakukan. Sampai di sini aku mulai bisa percaya dengan kenyataan pahit yang aku alami. Tetapi aku tetap menangis dan belum berani bercerita ke banyak teman kecuali satu dua orang yang aku yakin akan memberikan tanggapan yang menguatkan keadaanku. Well, terkadang ada juga teman yang justru memberikan tanggapan yang membuat kita makin panik di saat kita menceritakan hal-hal yang berat seperti ini. Tentu maksudnya pasti baik, tetapi aku benar-benar menahan diri untuk bercerita kepada orang-orang dengan watak seperti ini. Carilah tempat curcol yang baik:)
Carcinoma Mammae Sinistra, itulah diagnosaku. Dalam bahasa Inggris disebut Breast Cancer. Dalam bahasa Indonesia Kanker Payudara. Jenisnya ganas. Mendengar kata “ganas” ini aku merasa badanku seperti dilindas oleh sebuah truk tronton. Tetapi sudahlah aku terima takdir ini dengan lapang hati dan percaya sepenuhnya pada kekuasaan Allah. Operasi besar mastektomi (pengangkatan payudara) pun aku jalani di bulan November tanggal dua di tahun yang sama, 2020. Kawan semua pasti ingat kan, saat itu COVID tengah melanda. Dengan rasa was-was, segala rupa tes, PCR berulang kali aku jalani. Alhamdulillah, aku selamat. Operasi berjalan lancar. Pemulihan pasca operasipun berjalan baik. Aku mengikuti semua saran dan petunjuk dokter yang aku anggap sebagai bapakku itu.
Payudara indahku berkurang satu, ha..ha. Sering aku tertawa sendiri, sedih juga pasti, ketika memandangi diriku di cermin. Payudara indah yang selalu aku banggakan itu, salah satunya ternyata telah digerogoti oleh sel-sel kanker. Di sisi lain aku bersyukur bahwa semua belum terlambat. Allah masih memberiku kesempatan untuk hidup dengan lebih baik.
Kanker adalah penyakit berat, melelahkan, dan mahal. Semoga kawan yang membaca ceritaku ini terhindar. Sungguh aku berdoa untuk kalian. Semoga kalian terjauhkan dari pengalaman terberatku (pengalaman berat lainnya dalam hidupku banyak:) ini.
Pengobatan tak berhenti di sini. Aku berpikir demikian sampai aku mendengarkan kembali apa kata dokter. Ada beberapa rangkaian pengobatan lain yang harus aku jalani, bukan hanya sebulan, dua bulan, kawan, tetapi sampai bertahun-tahun ke depan. Luar biasa bukan?
Aku akan berbagi cerita di blog-ku ini. Tetapi tidak sekaligus dalam tulisan ini ya. Di tulisan selanjutnya, aku akan menceritakan tentang rangkaian pengobatan berikutnya, yang lebih menyeramkan. kemoterapi. Stay tune, kawan. Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya! Pesanku, jaga kesehatan. jangan menunggu sakit untuk hidup sehat. Don’t do what I did. And you will know what I did in the past di tulisan-tulisan selanjutnya. Chao!
Home by the Garden, October 2022
