Ternyata Cahaya Fajar Itu Membakarku

fajar

Layaknya fajar yang memberikanku pengharapan dari gelap dan sunyi nya malam hari. Hadir nya dirinya yang memberikanku angin segar setelah ditelan oleh sunyinya rasa kesepian. Saat aku melihat matanya seakan tidak ada lagi keindahan di bumi ini yang bisa membiaskan keindahan yang ada pada dirinya. Namun aku lupa siapa diriku... Orang tidak tahu diri ini tetap memberanikan diri untuk berharap padanya. Orang tidak tahu diri ini tetap memaksakan diri agar bisa dekat dengannya. Namun, sekali lagi… cinta tidak bisa dipaksa. Pada Kenyataannya aku bukanlah sosok yang dia harapkan kedatangannya. Kabar dariku bukan lah yang dia tunggu-tunggu. Cahaya fajar yang aku kira memberikanku pengharapan ternyata membakarku sampai kedalam dalamnya.

Kadang aku memikirkan sebuah khayalan yang egois. Bertanya… Bagaimana rasanya menjadi sosok yang dia idam-idamkan. Bagaimana rasanya cahtt yang ku kirimkan membuat dia tersenyum karena chatt dariku adalah chatt yang dia tunggu-tunggu. Betapa beruntungnya seseorang itu yang dia menjadi orang spesial untuknya. Kenyataan yang membuat aku terjatuh lebih dalam pada ruang kosong yang disebut cinta. kosong,,,, hampa,,,, ruangan cinta ini begitu gelap tanpa dirinya.

Sebagai teman baiknya… Aku selalu bahagia jika dia kirimkan sebuah chatt yang bercerita tentang bagaimana hari-harinya itu. Aku mencoba seolah menjadi ahli konspirasi untuk bisa memecahkan masalahnya. Bahkan malam sekalipun aku akan berusaha membalas chattnya sambil mengirimkan pesan pesan terselubung dalam cahtt kami. entah dia sadar atau tidak,, banyak sekali pesan terselubung yang aku kirimkan…. pesan-pesan terselubung itu aku buat seperti menyampaikan rasa suka ku terhadapnya, tapi aku bungkus dalam gaya bahasa guyonan. entah dia sadar atau tidak.

Setiap kali dia chatt aku. Dalam Hatiku selalu berkata, ” Ceritakanlah seluruh keluh kesahmu, aku bahagia bisa menjadi bagian dari hari harimu itu”. Kadang aku seoalah mencari cari, Apakah di chatt nya itu ada sebuah kode rasa suka terhadapku ?. Namun lagi-lagi realita menyadarkanku. Dia hanya menganggapku sebagai teman baiknya saja.

Sebagai teman baik, aku merasa ragu untuk mengutarakan perasaanku terhadapnya. Bagaimana jika aku mengutarakan rasaku padanya aku malah membuatnya menjauh ?. Mungkin mengikhlaskannya adalah langkah yang tepat untukku seakarang ini. Salah ku juga yang menyukai wanita secantik dan seanggun dia, siapalah aku…?. membuat aku jatuh sendiri dalam sebuah perasaan yang sunyi, tanpa bicara, tanpa ungkapan.

Berbicara tentang mengikhlaskan… aku mencari-cari bagaimana cara mengikhlaskannya. tapi ternyata aku salah. Hati adalah hati. Perasaan tidak bisa dipaksa dan diatur. cinta tidak mudah dipaksa berhenti begitu saja. Cinta hanya bisa ditunggu sampai benar-benar layu, terus menghilang. Entah itu seminggu, sebulan, setahun, sewindu, bahkan 1 darsawarsa atau lebih.

Sekali lagi aku tuliskan pada catatan blog ku ini.. Dia tidak salah.. Janganlah semesta menghukumnya. biarlah dia bahagia pada apa yang dia pilih. yang salah disini adalah aku.. akulah seseorang yang tidak sadar diri yang berani mendekatinya dan berani mengharapkannya. kadang aku bertanya… Apakah rasa sakit cinta ini adalah hukumanku karena tidak sadar diri sudah jatuh cinta terhadapnya ?.

Cinta… Berikanlah aku sedikit waktu untuk bisa melupakanmu… chatt lah aku seperti biasanya... biarlah rasa ini aku pendam begitu saja… biarlah aku merasakan pedihnya cinta dalam diam… Sampai rasa itu benar benar layu dan kita bisa menjadi teman baik sampai seterusnya… Tanpa kamu harus tahu ada rasa yang setengah mati aku harus kubur.

Aku tidak pernah mengarapkan agar dia merasakan apa yang aku rasakan… seperti kata dilan ” Kamu tidak akan kuat, biar aku saja”. Aku sedang berjalan menuju gerbang linimasa yang baru. tempat dimana aku tidak lagi akan mengharapkannya. Sebuah dimensi baru yang membuat aku bahagia meski tanpa dia. Tapi dia harus tahu,, di ujung lini masa ini, di perbatasan linimasa ini… sebelum aku melaluinya dan mengikslaskannya… Aku sudah menitipkan doa agar dia selalu bahagia di jalan yang dia pilih. Meski bukan aku yang menyeka air matanya dikala dia sedih, meski bukan aku yang menenangkannya dikala dia over thinking. Semoga dia berbahagia selalu.

Terimakasih cahaya fajarku.. yang sudah memberiku cahaya meskipun pada akhirnya membakarku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.