Pergi

sendiri

Sore ini saya sedang ngopi, terpikir dengan kutipan orang lain, “Jangan salahkan kopi itu jika dingin, dia pernah pernah hangat namun engkau sia siakan”. Kalimat yang cukup menarik, mengingat kadangkala seseorang menyianyiakan ruang dan waktu untuk bersama. Lebih memilih dia yang jauh di ujung pelupuk mata, namun orang terdekat tidak pernah dihiruaukan dan diperdulikan. Kadang kala seseorang itu merasa selalu sendiri, tapi lupa ada orang lain yang selalu memperdulikan dan mengkhawatirkannya.

Orang yang didekat laksana debu yang menghalangi pandangan dan menggangu indra, dia yang jauh laksana burung indah yang terbang diujung langit. Seseorang kadang lebih memilih bersedih karena hanya untuk menunggu burung yang indah itu hinggap digenggaman. Adakalanya ketika burung yang indah itu hinggap digenggamannya, dia merasa sangat senang dan seakan dunia ini milik berdua. Namun, ketika burung itu merasa bosan dan terbang menjauh, dia merasa dunia ini sangat kejam dan merasa sendiri. Tanpa melihat ada orang lain yang berada didekatnya yang selalu memberikan support dan semangat.

Adakalanya support yang selalu dia dengarkan itu tidak terdengar lagi, lantas dia menoleh kebelakang dan bertanya. Kemana orang yang selalu memberikannya support, kenapa tidak ada lagi? Mencari sesuatu yang sudah pergi tidak semudah itu kawan. Seseorang yang selalu menemanimu selama ini akan terasa kehadirannya ketika dia sudah tidak ada lagi disisimu.

Ketika dia merelakan waktunya hanya untuk mendengarkanmu curhat, ketika dia rela belajar kata-kata puisi yang indah hanya untuk menghiburmu. Namun, kamu hanya menganggapnya sebagai teman gabut ketika tidak ada kerjaan. Adakalanya semesta memberimu arti menghargai oranglain dengan cara membuat orang yang selama ini berada didekatmu pergi meninggalkanmu.

Bayangan yang selama ini selalu ada bersamamu kini sudah pergi meninggalkanmu. kamu tahu apa kemungkinan terburuknya? kamu tidak akan menemukan orang yang melebihi bahkan sama dengan yang selama ini menemanimu. Ruang dan waktu menyadarkanmu betapa berharganya dia.

Mungkin kalian pembaca menganggap tulisan ini adalah tulisan cinta antara dua insan yang salah satunya mencintai dan salah satunya tidak, sehingga terjebak dalam cinta yang dirasakan oleh sebelah pihak, Itu adalah hak imajinasi kalian. Namun, yang menjadi Objek utama dalam tulisan ini aalah “orang tua kalian”. dia yang selalu bersama namun kadang kita sering marah kepada mereka hanya karena hal sepele. Tidak diizinkan main, tidak diberi jajan, permintaannya tidak dituruti. Marah membentak sampai membuat orang tua kalian sakit hati.

Namun ketika bersama pacar, seakan dia adalah nabi yang tuhan utus hanya untuk membuatmu bahagia, nyatanya dia adalah godaan setan yang tuhan sedang uji kepada kamu. rela memakai uang orang tua hanya untuk membelikan dia makanan dan lainya, namun pernahkah kamu memberikan hadiah kepada orang tuamu?

ketika waktu mengatakan sudah cukup penderitaanmu wahai orang tua, kalian bisa apa? meratapi penyesalan kenapa waktu yang selama ini ada tidak digunakan dengan baik. hidup ini singkat kawan, bahagiakan dulu orangtuamu.

Dariku penulis serta founder catatansenja.com, untukmu anak muda yang sedang dimabuk asmara dengan burung yang indah yang kapanpun bisa bosan dan meninggalkanmu sendiri. waktu yang kamu gunakan dalam beberapa hari, bulan, tahun sia sia hanya untuk membahagiakan burung yang terbang meninggalkanmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *