Maaf Sudah Menyukaimu

Puisi

Mungkin untuk sebagian orang membaca judul ini langsung bergumam dalam hati, “Alay banget penulis kampret ini”. HEHEHE, bener deh jika kita pikirkan lagi suatu bentuk yang mengganggu orang lain itu harus meminta maaf. Sebagai contoh penyanyi yang suaranya fals atupun penyelenggara acara yang tidak maksimal dalam persembahan acaranya pasti merasa harus meminta maaf karena sudah mengganggu pengunjung atau penonton.

Nah, itu baru contoh dari sebuah acara. Jika masalah perasaan maka lebih kompleks lagi. Layaknya daun-daun hijau yang indah berubah menjadi coklat tua dan akhirnya jatuh dan kering. Ketika dua hati yang sama-sama suka maka daun-daun yang jatuh tadi akan digantikan dengan bunga bunga yang indah. Namun, untuk hati yang malang untuk mencintai sebelah pihak ini. Daun-daun yang jatuh tadi tidak digantikan dengan bunga, melainkan layu sampai keakar-akarnya.

cinta yang bertepuk sebelah tangan itu ibarat bulan yang kehilangan cahayanya, burung-burung yang patah sayap, dan mata hari yang tidak mampu bersinar lagi. Rasa yang masih ada namun dipaksa harus berhenti. Sisa-sisa rasa yang indah itu harus dikubur dalam-dalam untuk selama lamanya.

Ketika hati kita merasakan keindahan saat melihatnya tersenyum. Namun, semesta seakan tidak mengizinkan kita untuk mendekat. Ketika semesta tidak mengizinkan dua hati untuk bersama. Bagaimanapun cara maupun upaya untuk bersamanya tidak akan berhasil. Ruang dan waktu seakan diberik jarak yang tidak akan pernah untuk bisa bersama.

Namun, ketika suatu rasa terus dipaksa. Maka, hanya sakit yang akan didapatkan. Entah itu dari kita maupun dari dia yang kita suka. Jika kamu membaca tulisan ini, aku sadari sudah membuatmu merasa tidak nyaman. Terganggu dengan sikapku yang bahagia jika didekatmu. Izinkan aku untuk menulis tulisan ini untukmu. dan maaf atas kebodohanku yang baru belakangan aku sadari bahwa kehadiranku hanya akan membuat kamu selalu bersedih, malu, risih jika aku berada didekatmu. Dan belakangan baru aku sadari juga sikapmu dengan dia yang kamu suka meskipun jarak terhalang jauh, tidak seperti sikapmu dengan aku. Berikut aku tuliskan permintaan maaf untukmu.

Surat Untukmu:

Tahun itu…

Dan tentang waktu yang terus berdetak…

Terimakasih untuk waktu yang mempertemukan meski tidak bersatu…

Layaknya Burung-burung yang patah sayap, tersadar oleh kenyataan dan jatuh dalam ilusi…

Dan kamu…

Terimakasih sudah mau memberikanku senyum di waktu itu, senyum yang sangat indah…

Meskipun aku tahu kamu pasti malu jika bersamaku…

Meskipun aku tahu kamu pasti risih jika bersamaku…

Dan maaf sudah mengganggumu…

Semoga kamu bahagia selalu di sana, disuatu tempat dibumi yang aku tidak tahu keberadaanmu…

Terimakasih untuk tahun itu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *