Laksana Senjaku

Senja

Di sore ini gue melihat cahaya senja yang indah, menghiasi langit dengan sejuta kehangatannya. Tak lama gue menikmati segala keindahan senja itu, tiba-tiba senja yang indah itu pergi begitu saja dari pandanganku, tanpa memberikan isyarat bahwa dia akan pergi, tanpa memberikan tanda. Senja itu pergi dengan sejuta misterinya.

Gue bertanya dalam hati, kenapa senja meninggalkan gue?. Apakah rasa sukaku padanya membuatnya tidak nyaman ?, apakah gue berlebihan dalam kekaguman?, atau sebaiknya kekaguman gue pada senja itu sebaiknya tidak gue ungkapkan dari awal. Sehingga senja itu terus ada dengan segala keindahannya.

Senja itu selalu gue lihat dengan segala keindahannya. Ketika senja itu sedih atau bahagia, senja selalu memancarkan keindahannya. Seakan semua yang dia lakukan itu adalah keindahan. Dan gue sebagai pengagumnya hanya bisa memandanginya dari jauh.

Namun, kenapa senja itu selalu hadir sebentar saja?

Senja hadir dengan segala kehangatannya, lalu pergi begitu saja meninggalkan gue sendiri dalam kegelapan. Tanpa ucapan perpisahan, seperti angin lalu yang menyejukan namun hanya sebentar, meninggalkan bekas yang indah namun waktu menyadarkan gue bahwa kami hanyalah dua unsur yang tidak seharusnya saling mengasihi.

Dan Senja ini mengingatkanku padamu. Laksana senja yang sangat indah, membuatku rela menunggu sampai ujung hari hanya untuk bertemu denganmu. Namun, lagi – lagi waktu membisikan kepada gue bahwa kamu bukanlah untuku.

Keindahanmu sangat kontras jika harus bersanding dengan gue, gue sadar itu.

Melintasi kenangan yang sudah dilahap oleh gelap, memanggil sesosok nama yang berada di seberang sana. Dan nuraniku paham bahwa yang kamu panggil bukanlah nama gue, melainkan dia yang kamu pilih.

dan daun-daun yang berjatuhan di sore hari yang diterpa angin, bukan karena dia tidak ingin bersama pohon lagi, namun karena ada daun daun yang lebih indah dari dia, yang dapat membuat pohon itu nampak lebih indah lagi dibanding harus bersama daun yang rapuh nan tidak rupawan itu.

Terimakasih semesta sudah Melukiskan keindahan senja dalam kehidupan gue, meskipun hanya sebentar. Jika mengaguminya adalah sebuah kesalahanku, maka itu adalah kesalahan terindahku.

Ini adalah persimpangan yang akan kita lalui, yang pada awalnya aku kira dipersimpangan ini kita akan melewati jalan yang sama, bahagia bersamaku, menghabiskan sisa waktu bersamaku, tersenyum sampai waktu melewati kita. Namun, ini adalah garis finish nya, sebuah garis yang menutup lembaran kisah kita.

Gue mendoakanmu untuk bisa bertemu dengan orang yang dapat membahagiakanmu, doakan gue juga agar bisa bertemu rembulan yang menerima gue apa adanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *